Advertisement
Kopi TIMES

AI Masuk Sekolah, Pedagogi Tertinggal

Peran guru justru menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai sumber informasi, melainkan sebagai penjaga proses berpikir.

TIMES Indonesia,
AI Masuk Sekolah, Pedagogi Tertinggal
Estiyowati, Mahasiswi Program Studi S2 Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Malang Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai diajarkan di ruang kelas, persoalannya bukan lagi sekadar apa yang diajarkan, melainkan bagaimana siswa masih benar-benar belajar. Yang mengkhawatirkan, sekolah cepat-cepat menggunakan AI, sementara pedagogi yang seharusnya menjadi ruh dari pendidikan justru relatif jalan di tempat, ketinggalan.

Dalam sejumlah laporan media nasional, arah kebijakan pendidikan di Indonesia semakin jelas menempatkan AI dan coding sebagai bagian dari pembelajaran. Memang, langkah ini patut didukung karena menyiapkan generasi masa depan. Tapi ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah ditanyakan dengan sungguh-sungguh, apakah kesiapan pedagogi kita sepadan dengan lompatan teknologi ini? 

Advertisement

Sebenarnya, yang jadi masalah bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana kita memaknai kegiatan belajar. Belajar, menurut pedagogi klasik, ya proses berpikir bukan sekadar mencetak jawaban.

AI datang dengan logika lain yakni kecepatan dan kemudahan. Dua hal yang sering bertolak belakang. Ketika siswa dapat memperoleh esai, ringkasan, bahkan analisis hanya dalam hitungan detik, maka yang terancam bukan sekadar kejujuran akademik, melainkan proses kognitif itu sendiri.

Persoalan ini tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah kedisiplinan tetapi menyentuh aspek yang lebih mendasar yakni bagaimana proses berpikir siswa terbentuk. Dalam kajian ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading (Risko & Gilbert, 2016), yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian proses berpikirnya kepada alat eksternal seperti teknologi digital.

Studi yang dipublikasikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2023) mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tanpa desain pedagogik yang tepat justru dapat menurunkan kualitas pemahaman mendalam siswa. Anak-anak jadi tidak lagi terbiasa berpikir kritis. Mereka hanya memilah-milah jawaban dari mesin, seperti tukang sortir, bukan pemikir.

Kekhawatiran ini disebut Kurniawan & Murtadho (2025) sebagai paradoks kognitif, di mana AI dapat meningkatkan personalisasi sekaligus berpotensi menggerus aspek kognisi inti seperti keterlibatan kognitif (cognitive engagement), retensi, dan pemikiran tingkat tinggi. Akibatnya, efisiensi yang diraih dalam penyelesaian tugas tidak diimbangi dengan pemerolehan pemahaman yang mendalam.

Advertisement

Di sinilah terlihat adanya pedagogical lag atau ketertinggalan pedagogi dalam merespons perkembangan teknologi. Banyak guru mulai menggunakan AI, tetapi lebih sering untuk efisiensi administratif seperti membuat soal, merancang materi, atau menyusun laporan. Transformasi pada level pembelajaran seperti membangun dialog reflektif, mendorong inquiry, atau mengasah nalar kritis belum terjadi secara signifikan.

Padahal, dalam kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan pengetahuan pedagogik dan konten. Tanpa itu, teknologi hanya menjadi alat substitusi, bukan transformasi. Dalam model SAMR, ini disebut level terbawah yakni mengganti alat tanpa mengubah cara belajar sama sekali.

Lebih jauh lagi, kehadiran AI juga mengguncang apa yang disebut sebagai epistemic authority guru atau otoritas sebagai sumber pengetahuan. Jika sebelumnya guru adalah rujukan utama, kini siswa memiliki alternatif yang tampak lebih cepat, lengkap, dan selalu tersedia.

Dalam situasi ini, peran guru tidak mungkin lagi bertahan sebagai penyampai informasi. Ia harus bergeser menjadi fasilitator yang membimbing proses berpikir, bukan sekadar penyedia jawaban.

Sayangnya, perubahan peran ini tidak otomatis terjadi. Data dari laporan UNESCO (2023) menunjukkan bahwa banyak negara, termasuk di kawasan berkembang, masih menghadapi kesenjangan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi secara pedagogis. Pelatihan yang ada sering berfokus pada penggunaan alat, bukan pada perubahan cara mengajar.

Realitas di Indonesia memperkuat kesenjangan ini. Penelitian Halhaji dan Murniati (2025) menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI berbasis kerangka TPACK masih belum merata. Tantangan ini semakin berlapis.

Selain persoalan kompetensi, terdapat pula ketimpangan akses, beban administratif guru, serta perubahan kebijakan yang cepat. Akibatnya, inovasi pedagogik sering berhenti pada tataran wacana. Sekolah tampak modern dari luar, tetapi praktik belajar di dalamnya belum banyak berubah.

Kalau terus begini, bisa-bisa kita punya generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi hampa kedalaman nalar. Mereka mampu menghasilkan teks, tetapi tidak terbiasa membangun argumen; cepat menemukan jawaban, tetapi rapuh dalam memahami masalah. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan persoalan peradaban.

Karena itu, yang mendesak bukan sekadar memasukkan AI ke dalam kurikulum, tetapi menata ulang pedagogi itu sendiri. Pembelajaran harus diarahkan pada proses yang tidak mudah digantikan oleh mesin, di mana berpikir kritis, refleksi, dialog, dan penalaran tetap menjadi perhatian utama. Evaluasi pun perlu berubah tidak lagi hanya menilai jawaban, tetapi cara berpikir

Di tengah semua itu, peran guru justru menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai sumber informasi, melainkan sebagai penjaga proses berpikir. Teknologi dapat mempercepat jawaban, tetapi hanya pedagogi yang dapat menjaga makna belajar.

Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendasar yakni ketika AI sudah masuk ke sekolah, apakah kita masih mengajarkan siswa untuk berpikir?

***

*) Oleh : Estiyowati, Guru SDN Madyopuro 3, Mahasiswi Program Studi S2 Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia