Advertisement
Gaya Hidup

Women in Adventure: 50 Pendaki Perempuan Rayakan Hari Kartini di Puncak Gunung Kembang

Peringati Hari Kartini, 50 pendaki perempuan lakukan petualangan dalam Women in Adventure (WIA) 5 di Gunung Kembang.

TIMES Indonesia,
Women in Adventure: 50 Pendaki Perempuan Rayakan Hari Kartini di Puncak Gunung Kembang
Kegiatan mendaki bersama di Gunung Kembang, Wonosobo dalam rangka memperingati Hari Kartini. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
A-AA+

Wonosobo Peringatan Hari Kartini kini tidak lagi sekadar berbicara tentang emansipasi di ruang domestik atau profesional. Semangat Kartini kini merambah jalur pendakian, hutan, hingga medan ekstrem—wilayah yang selama ini identik dengan dunia laki-laki. Perempuan masa kini semakin berani membuktikan kapasitas mereka dalam menaklukkan tantangan alam.

Semangat tersebut digaungkan melalui kampanye Women in Adventure (WIA) 5 yang diinisiasi oleh brand perlengkapan outdoor, Arei Outdoor Gear. Kegiatan pendakian bersama 50 perempuan dari berbagai penjuru daerah ini digelar di Gunung Kembang, Wonosobo, Sabtu (18/4/2026).

Advertisement

Marketing Communication Arei Outdoor Gear, Nashirudin, menjelaskan bahwa WIA 5 hadir untuk mendobrak stigma lama yang melekat pada perempuan dalam dunia petualangan.

Campaign ini menyuarakan bahwa perempuan juga bisa berpetualang seperti laki-laki. Dari sisi persiapan hingga manajemen perjalanan, semuanya setara. Hanya saja konsepnya dikemas lebih girly,” ujar Nashirudin.

Kegiatan mendaki bersama dalam rangka memperingati hari kartini

Kesiapan sebagai Kunci Keamanan

Menurut Nashirudin, kunci utama dalam beraktivitas di alam bebas bukan terletak pada gender, melainkan pada kesiapan teknis dan mental. Ia menegaskan bahwa aktivitas ekstrem tetap dapat dilakukan dengan aman selama dipersiapkan dengan matang.

“Segala sesuatu jika sudah dipersiapkan dengan baik, pasti aman. Gender bukan batasan,” tambahnya.

Advertisement

Fenomena meningkatnya minat perempuan dalam kegiatan luar ruang menjadi bukti runtuhnya stigma lama. Kini, perempuan bukan sekadar penonton, melainkan pelaku utama dalam aktivitas yang menantang fisik dan mental.

Momentum Hari Kartini pun menjadi refleksi bahwa perjuangan perempuan terus berkembang mengikuti zaman. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan, kini perempuan melanjutkannya dengan keberanian hadir di ruang-ruang yang sebelumnya dianggap tabu.

Mendobrak Paradigma Lemah-Kuat

Nashirudin mengakui tidak mudah bagi perempuan untuk menjalankan peran ganda, mulai dari urusan pribadi, keluarga, hingga karier. Namun, ia mengajak perempuan untuk tetap kuat dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Ia juga menentang paradigma tradisional yang melabeli perempuan sebagai sosok yang lemah. Menurutnya, kekuatan dan kelemahan adalah sifat manusiawi yang dimiliki setiap individu tanpa memandang gender.

“Selama ini sering dibilang laki-laki itu kuat dan perempuan lemah. Sekarang kita balik paradigmanya; perempuan harus tetap kuat, dan laki-laki pun boleh menunjukkan sisi lemahnya,” tegas Nashirudin. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia