Advertisement
Indonesia Positif

LBPH PBNU Minta Memahami Dinamika PBNU secara Komprehensif

LPBH PBNU Abdul Hakam Aqsho menilai pernyataan akademisi Nahdlatul Ulama Nadirsyah Hosen terkait marwah organisasi NU mutlak di tangan Syuriah yang dipimpin Rais Aam adalah tidak tepat.

TIMES Indonesia,
LBPH PBNU Minta Memahami Dinamika PBNU secara Komprehensif
Gedung PBNU. (FOTO: dok TI)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Sekretaris Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU Abdul Hakam Aqsho menilai pernyataan akademisi Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen terkait marwah organisasi NU mutlak di tangan Syuriah yang dipimpin Rais Aam adalah tidak tepat. 

Menurutnya, Nadirsyah Hosen gagal memahami dinamika di PBNU saat ini secara komprehensif dan ia mengkritisi karena cenderung menganalisa persoalan tanpa data yang objektif yang dianggap melanggar prosedur organisasi yang dipegang teguh oleh kiai NU selama ini. 

Advertisement

“Lalu marwah seperti apa yang mereka akan tunjukkan jika justru mengarah ke kehancuran NU?,” tanya Hakam dikutip dalam keterangan persnya yang diterima TIMES Indonesia di Jakarta pada Selasa (9/12/2025).

Menurutnya, ada tiga kekeliruan prosedural organisasi dalam upaya memakzulkan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dari kursi ketua umum PBNU. Pertama, keputusan rapat harian syuriah yang berujung pemakzulan Jakarta pada 20 November lalu bukan bersifat pleno lengkap.

“Kedua, tidak ada verifikasi dokumen dan ruang klarifikasi atas berbagai tuduhan. Ketiga, pemakzulan tidak sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) NU,” ujar Hakam. 

Ia mengungkapkan, para Kiai sepuh NU prihatin atas kisruh yang terjadi di PBNU dan mereka baik dari Lirboyo, Kediri dan Tebuireng meminta semuanya untuk tabayyun dan mendorong adanya islah. “Tapi apa faktanya? Syuriah tak menghiraukan malah nekat menggelar pleno. Lalu masih relate-kah kita mendukung marwah terhadap orang yang salah?,” kembali tanya Hakam keheranan.

Di sinilah, tandas Hakam, upaya pemakzulan ini ada persoalan dari aspek organisatoris dan etis. Untuk itu Hakam mengajak, polemik dan dinamika di tubuh NU saat ini dipahami dengan jernih dan komprehensif. Jangan sampai komitmen dan tingginya sikap tawaddu’ ke kiai malah menghilangkan nalar kritis dan objektif. Di sisi lain, NU saat ini yang mencapai usia satu abad adalah organisasi besar yang menuntut pengelolaan secara lebih terbuka.

Advertisement

“Jangan beranggapan NU terjebak menjadi cenderung teknokratis karena dipegang aktivis organisasi. Justru NU itu organisasi yang menjunjung tinggi kehormatan kiai. Orang yang berorganisasi pasti paham aturan-aturannya. Sesederhana itulah memahami dinamika saat ini,” terangnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia