Advertisement
Indonesia Positif

Jejak Doa di Tanah Bangsri, Cara Keluarga Mayangkara Menjaga "Napas" Leluhur

Di sebuah sudut Desa Bangsri, Nglegok, Kabupaten Blitar, udara pagi itu tidak hanya membawa aroma tanah basah, tapi juga getaran doa yang tak putus-putus.

TIMES Indonesia,
Jejak Doa di Tanah Bangsri, Cara Keluarga Mayangkara Menjaga "Napas" Leluhur
Pengajian Akbar dalam rangka Haul yang digelar Keluarga Mayangkara, Sabtu malam (31/1/2026). (FOTO: Dok. Mayangkara Grup)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

BLITAR Di sebuah sudut Desa Bangsri, Nglegok, Kabupaten Blitar, udara pagi itu tidak hanya membawa aroma tanah basah, tapi juga getaran doa yang tak putus-putus. Di areal makam keluarga besar Mayangkara Grup, puluhan orang bersimpuh. Bukan sekadar rutinitas, hari itu adalah momen "pulang" bagi batin mereka untuk menyapa sosok-sosok yang telah mendahului.

Yani Budi Sarwono, mewakili keluarga besar, berkisah dengan hangat tentang awal mula tradisi ini. Semuanya bermula dari sebuah musala kecil bernama M. Hariyanto yang mereka bangun tepat di samping peristirahatan terakhir para leluhur. Di sana, setiap Minggu Wage, masyarakat sekitar diajak melingkar, melantunkan ayat suci, dan mengirimkan doa.

Advertisement

Bagi keluarga Mayangkara, Haul bukan sekadar memperingati tanggal wafat. Ini adalah upaya melawan lupa. Ada sosok Mbah Karsan Mursam, Mbah Haji Soerachman, dan Bapak Harnen Sulistyo yang sejarahnya ingin terus dihidupkan.

"Haul itu peringatan kematian yang dilaksanakan  setahun sekali. Kami ingin mengajak masyarakat melestarikan budaya haul ini agar anak cucu yang tidak bertemu dengan leluhurnya itu mengenang dan mengenal sosok mereka," jelas Yani, Sabtu malam (31/1/2026).

Khususnya almarhum Haji Soerachman, seorang abdi negara sejati. Bayangkan seorang prajurit CPM Angkatan Darat yang dadanya dihiasi berbagai tanda jasa, mulai dari penghargaan di era Presiden Soekarno hingga Jenderal Soeharto. Dia adalah saksi bisu perjuangan gerilya demi kemerdekaan yang kita hirup hari ini.

Di antaranya, Surat Tanda Penghargaan Satya Lencana Kesetiaan dari menteri Pertahanan RI - Djuanda dengan pangkat Prada / PM , Jabatan Anggota CPM DET GARN VII / 5. Selain itu, Haji Soerachman juga menerima Menerima Surat Tanda Djasa Pahlawan dari Presiden Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Soekarno  atas jasanya didalam Perjuangan Gerilya Membela Kemerdekaan Negara. Pangkat PRDS / PM . Jabatan Anggota Perawatan Kesatuan CPM DET REG VII / 1. 

Kemudian juga Satyalantjana Kesetiaan 24 Tahun dari Menteri Pertahanan Keamanan DJenderal TNI Soeharto   dalam Djabatan KODAM VIII / BRAW. Usai pensiun pada tahun 1973, menerima anugerah tanda jasa Bintang Kartika Eka Pakci Kelas III dari surat lampiran yang ditanda tangani Kepala Staf Angkatan Darat DJenderal TNI Umar Wirahadikusumah.

Advertisement

"Di puncak haul ini kami gelar pengajian Akbar yang menghadirkan dai muda Gus Kautsar. Kalau acara besar seperti ini  sering digelar, maka ekonomi masyarakat sekitar juga akan berputar. Jadi masyarakat akan mendapatkan manfaat dan berkah juga dari acara semacam ini," tambah Abah Hariyanto, putra pertama Haji Soerachman. 

Kehadiran dai muda Gus Kautsar, membawa kesejukan lewat dakwahnya yang tegas namun santun, memikat ratusan  warga yang datang berbondong-bondong. Dalam tausiahnya  Gus Kautsar mengatakan, kebahagian seorang ahli kubur  adalah ketika generasi penerusnya melakukan ziarah kubur. Membacakan Al Qur'an dan memanjatkan doa agar dosa para leluhurnya mereka diampuni Allah SWT. 

"Ini sebagai bentuk bakti anak cucu kepada leluhurnya. Dan hari ini, semua kegiatan itu telah dilakukan generasi penerusnya di makam leluhur Mayangkara. Haul dilakukan di makam juga sebagai pengingat, bahwa kematian pasti akan datang menjemput. Dan di kuburan ini awal kita mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan kita di hadapan Allah SWT," tandasnya. 

Ada pemandangan menarik lainnya. Di sela-sela pengajian, roda ekonomi warga sekitar ikut berputar kencang. Pedagang kecil hingga tukang parkir merasakan tetesan berkah dari perhelatan ini. Cerita dari Blitar ini mengingatkan kita bahwa manusia sehebat apa pun akan mati, namun nilai-nilai dan kebaikannya tidak boleh ikut terkubur. 

Menghormati leluhur bukan berarti terjebak di masa lalu, melainkan cara kita mengambil "api" semangat mereka untuk menerangi jalan kita di masa depan. Sebuah bangsa atau keluarga yang besar adalah mereka yang tidak memutus tali sejarahnya sendiri. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia