Advertisement
Indonesia Positif

Diaspora Indonesia di Australia–Selandia Baru Himpun Zakat Rp150 Juta, Disalurkan ke Papua dan Aceh

Jarak geografis tidak menjadi penghalang untuk berbagi kepedulian. NU Care-LAZISNU Australia–New Zealand bersama komunitas Muslim Indonesia di Australia dan Selandia Baru berhasil menghimpun zakat lebih dari AUD 12.600 atau setara sekitar Rp150 juta.

TIMES Indonesia,
Diaspora Indonesia di Australia–Selandia Baru Himpun Zakat Rp150 Juta, Disalurkan ke Papua dan Aceh
Penyaluran zakat oleh NU Care-LAZISNU Australia–New Zealand bersama komunitas Muslim Indonesia di Australia dan Selandia Baru di Aceh dan Papua. (FOTO: PCINU Australia-New Zealand for TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JOMBANG Jarak geografis tidak menjadi penghalang untuk berbagi kepedulian. NU Care-LAZISNU Australia–New Zealand bersama komunitas Muslim Indonesia di Australia dan Selandia Baru berhasil menghimpun zakat lebih dari AUD 12.600 atau setara sekitar Rp150 juta.

Penggalangan dana ini melibatkan berbagai komunitas diaspora, seperti KAIFA, IMCV, KIA, MZT, DDM, IISB, hingga AIM-ACT. Kolaborasi lintas komunitas tersebut menjadi bukti kuat bahwa solidaritas masyarakat Indonesia di luar negeri terus tumbuh dan bergerak melampaui batas negara.

Advertisement

Dana zakat yang terkumpul kemudian disalurkan melalui sejumlah mitra strategis di Indonesia, di antaranya jaringan Gusdurian, HA Pecinta Yatim, Ansor Banser Sorong Papua, serta YAKESMA Aceh untuk respons kebencanaan.

Penyaluran bantuan difokuskan pada wilayah Papua Barat Daya dan Aceh yang tengah menghadapi tantangan sosial serta bencana kemanusiaan. Selain itu, zakat dan sedekah juga dialokasikan untuk mendukung pendidikan bagi 10 pelajar dari keluarga kurang mampu.

Zakat Jadi Jembatan Kemanusiaan di Papua

NU Care-LAZISNU Australia–New Zealand

Di wilayah Papua Barat Daya, zakat tidak hanya dimaknai sebagai bantuan sosial, tetapi juga menjadi instrumen kemanusiaan untuk meredam konflik dan memperkuat solidaritas masyarakat.

Melalui pendekatan inklusif, program ini diarahkan untuk membangun kepercayaan serta membuka ruang-ruang damai di tengah dinamika sosial yang kompleks. Tahun ini, distribusi zakat mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Advertisement

Sebanyak 190 paket bantuan berhasil disalurkan, menjangkau wilayah Sorong hingga pulau-pulau di sekitarnya. Program ini juga menyasar Kabupaten Tambrauw, salah satu daerah terdampak konflik, termasuk warga mualaf yang mengungsi ke Kabupaten Sorong dan Sorong Selatan.

Rif'an, Perwakilan NU di Sorong menyebutkan bahwa zakat memiliki peran yang lebih luas dari sekadar bantuan materi.

“Di Papua, zakat bukan hanya bantuan sosial, melainkan juga bagian dari upaya kemanusiaan untuk meredam konflik, membangun kepercayaan, dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima TIMES Indonesia, Sabtu (4/4/2026). 

Ia juga mengapresiasi peningkatan distribusi bantuan tahun ini.

“Alhamdulillah, tahun ini kami bisa menyalurkan zakat dua kali lebih banyak, sekitar 190 paket, dari Sorong hingga pulau-pulau sekitar. Ini menjadi kebahagiaan sekaligus amanah bagi kami,” lanjutnya.

Selain bantuan konsumtif, program zakat juga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir. Pada komunitas Suku Kokoda di Kilo 8 dan Maibo, bantuan diberikan dalam bentuk 100 alat tangkap kepiting (bubu), lengkap dengan umpan dan tali.

“Selama ini alat tangkap sangat terbatas dan digunakan bergantian. Dengan adanya bantuan ini, kami berharap hasil tangkapan meningkat, bahkan ke depan bisa dikembangkan menjadi penangkaran kepiting yang berkelanjutan,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan ini menjadi bagian dari transformasi zakat produktif yang berdampak jangka panjang.

“Kami berharap zakat ini tidak hanya membantu sesaat, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat dan menjadi bagian dari upaya menciptakan perdamaian di Papua,” tutupnya.

Zakat Percepat Pemulihan Pascabanjir di Aceh

Sementara itu, di Aceh, zakat disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak banjir yang masih berjuang memulihkan kondisi pascabencana.

Bantuan difokuskan pada kelompok rentan, mulai dari keluarga prasejahtera, santri pesantren, hingga warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Sementara Alfitunnur, Perwakilan YAKESMA menyampaikan apresiasi atas kontribusi diaspora Muslim Indonesia di Australia dan Selandia Baru.

“Kami mengucapkan terima kasih atas zakat dari diaspora Muslim Australia dan New Zealand melalui NU Care-LAZISNU bersama mitra. Kami berupaya menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak banjir dengan menggandeng masyarakat setempat agar tepat sasaran,” ujarnya.

Pada tahap awal, bantuan difokuskan di Kabupaten Pidie Jaya, khususnya Desa Meulasi Raya yang mengalami dampak paling parah. Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian karena rumah mereka rusak berat dan tertimbun material banjir.

“Di Meulasi Raya, banyak warga masih tinggal di tenda karena rumah mereka rusak parah. Mereka juga belum bisa kembali bekerja, sehingga kondisi ekonominya sangat terdampak,” jelasnya.

Penyaluran tahap berikutnya dilakukan di Aceh Utara yang juga terdampak luas akibat banjir dan tanah longsor, terutama pada sektor pertanian.

“Di Aceh Utara, banyak lahan sawah belum bisa kembali beroperasi secara optimal. Hal ini tentu menghambat pemulihan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Melalui bantuan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya terbantu secara darurat, tetapi juga mampu bangkit secara bertahap.

“Kami berharap zakat ini menjadi penguat bagi masyarakat untuk bangkit, baik dalam memenuhi kebutuhan harian maupun memulihkan kondisi ekonomi pascabencana,” tutupnya.

Dorong Filantropi yang Lebih Holistik

Arief, Ketua PCINU Australia–New Zealand menegaskan bahwa zakat memiliki peran strategis dalam menjembatani kepedulian global dengan kebutuhan lokal.

“Zakat adalah jembatan yang menghubungkan kepedulian dengan kebutuhan, serta harapan dengan masa depan. Solidaritas lintas negara ini terbukti mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Arief menegaskan komitmen untuk mengembangkan lembaga ke arah yang lebih holistik dan berkelanjutan.

“Ke depan, kami akan memperkuat kelembagaan agar tidak hanya berfokus pada penghimpunan zakat dan kurban, tetapi juga menjawab kebutuhan umat yang lebih luas, seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial lainnya, baik di Indonesia maupun di Australia,” tuturnya.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia