Dinkes Bondowoso Kebut Imunisasi Campak, Capaian Hampir 100 Persen
Dinas Kesehatan Bondowoso terus mempercepat pelaksanaan imunisasi campak sepanjang April 2026.
BONDOWOSO – Dinas Kesehatan Bondowoso terus mempercepat pelaksanaan imunisasi campak sepanjang April 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari program imunisasi kejar serentak yang digagas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia guna mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB) seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain.
Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, Moch. Jasin mengungkapkan bahwa capaian imunisasi campak di daerahnya saat ini telah mencapai 97,01 persen.
Angka tersebut dinilai telah memenuhi target nasional, meski pihaknya tetap menargetkan capaian maksimal hingga 100 persen.
Program imunisasi kejar ini menyasar bayi di bawah dua tahun (baduta) dan balita. Tercatat, jumlah sasaran baduta sebanyak 82 anak, sementara balita mencapai 138 anak. “Memang belum 100 persen, tetapi sudah sesuai target dari Kemenkes,” ujarnya.
Untuk mengejar target tersebut, Dinkes Bondowoso terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar segera membawa anak mereka untuk mendapatkan vaksin.
Layanan imunisasi tersedia di berbagai fasilitas, mulai dari posyandu, puskesmas, hingga melalui bidan desa.
Selain itu, Jasin memastikan bahwa seluruh layanan imunisasi diberikan secara gratis dan didukung ketersediaan vaksin yang memadai.
Saat ini kata dia, stok vaksin campak di Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) mencapai 7.730 dosis, belum termasuk persediaan di masing-masing puskesmas.
“Stok vaksin aman dan cukup untuk kebutuhan imunisasi kejar maupun rutin sepanjang 2026,” tegasnya, Kamis (9/4/2026).
Di sisi lain, Dinkes Bondowoso mencatat adanya 17 kasus suspek campak yang tersebar di delapan kecamatan. Namun hingga kini, seluruh kasus tersebut masih dalam tahap dugaan dan belum terkonfirmasi positif.
Sampel kasus telah dikirim untuk uji laboratorium ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Surabaya.
“Hasilnya masih kami tunggu. Semua masih berstatus suspek dan kondisi anak-anak yang bersangkutan sudah membaik,” jelas Jasin.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi hoaks terkait imunisasi campak.
Menurutnya, vaksinasi sangat penting untuk melindungi anak dari risiko penularan penyakit yang bisa berujung komplikasi serius, seperti infeksi paru-paru hingga radang otak.
Secara klinis, gejala campak pada balita biasanya diawali dengan demam tinggi selama dua hingga tiga hari. Setelah itu muncul ruam kemerahan yang menyebar dari wajah, telinga, leher hingga dada, disertai batuk, pilek, serta mata merah yang menjadi ciri khas penyakit ini.
Untuk penanganan awal, orang tua disarankan memberikan asupan makanan bergizi, cukup cairan, serta obat penurun panas. Anak yang terindikasi campak juga sebaiknya dihindarkan dari kontak langsung dengan orang lain selama beberapa hari karena sifatnya yang mudah menular.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada, segera imunisasi anak, dan jangan terpengaruh hoaks,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

