Gebyar Tari Tottaan Dhere di Bondowoso Diikuti Ribuan Pelajar
Tottaan Dhere merupakan bahasa Madura, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan tradisi pelepasan burung merpati ke udara.

BONDOWOSO – Pagi ini Alun-alun Raden Bagus Asra dipenuhi ribuan pelajar sekolah dasar gugus 1 Kecamatan Bondowoso. Tampak mereka menampilkan Tari Tottaan Dhere, Sabtu (14/2/02/2026).
Tampak mereka mengenakan kostum putih serupa merpati putih. Sementara di kepalanya dihiasi aksesoris dengan karakter burung dara.
Tottaan Dhere merupakan Bahasa Madura, yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan tradisi pelepasan burung merpati ke udara.
Tradisi Tottaan Dhere merupakan salah satu kearifan lokal Bondowoso. Biasanya tradisi ini dilakukan dalam acara-acara tertentu, seperti menyambut tamu, acara pengantin dan acara-acara keagamaan.
Berdasarkan informasi dihimpun, total 1.774 pelajar dari sembilan sekolah dasar ikut dalam gebyar ini. Mereka berasal dari SDN Dabasah 1, SDN Dabasah 2, SDN Dabasah 3, SDN Dabasah 4, SDN Dabasah 5, SDN Tamansari 1, SDN Tamansari 2, SDK Indra Siswa, dan SD Alifya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Dr. Fathur Rozi, secara resmi membuka kegiatan Gebyar Tari Tottaan Dhere.
Dalam kesempatan itu, Sekda menegaskan bahwa Bondowoso tidak hanya dikenal dengan julukan Bondowoso Republik Kopi maupun kemegahan Ijen Geopark, tetapi juga memiliki kekayaan budaya lokal yang menjadi pondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
Menurutnya, di tengah derasnya arus modernisasi, penguatan identitas daerah melalui pendidikan menjadi langkah strategis agar generasi muda tetap memiliki akar budaya yang kuat.
Pendidikan berkarakter yang berbasis kearifan lokal kata dia, merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam membentuk mentalitas anak-anak sebagai calon pemimpin masa depan.
“Melalui kegiatan kurikuler seperti ini, kita ingin memastikan nilai-nilai budaya daerah tetap hidup dan menjadi bagian dari proses pembelajaran,” ujarnya.
Menurutnya, Gebyar Tari Tottaan Dhere menjadi sarana efektif untuk melestarikan warisan budaya asli Bondowoso sejak usia dini.
Ia mencontohkan, tarian tersebut terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Desa Klabang dalam merawat burung merpati, yang memiliki makna filosofis tersendiri.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso lanjut dia, memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini karena bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga media edukasi yang menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab kepada para siswa sebagai agen pelestari budaya.
“Hal ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang memberi ruang bagi penguatan muatan lokal,” tegasnya.
Sekda juga menyampaikan apresiasi kepada Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah 1 Kecamatan Bondowoso yang telah menggagas dan mengawal kegiatan tersebut, mulai dari proses pembelajaran hingga puncak acara.
“Saya berharap, kegiatan ini mampu melatih rasa percaya diri, kreativitas, serta kerja sama antar siswa, sehingga berdampak positif pada perkembangan karakter mereka,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

