Bukit Banjarsari, Tulang Punggung Rukyatul Hilal Kabupaten Blitar
Bukit Banjarsari di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menjadi lokasi strategis pelaksanaan rukyatul hilal

BLITAR – Di lereng selatan Kabupaten Blitar, sebuah bukit yang berdiri tegak dengan pandangan luas ke arah ufuk barat telah lama menjadi saksi bisu dari tradisi yang mendalam dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia.
Bukit Banjarsari bukan hanya sekadar titik geografis di wilayah ini, tetapi telah menjadi lokasi strategis utama untuk pelaksanaan rukyatul hilal yang dipercaya oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar.
Keunggulan alam yang dimilikinya membuat tempat ini menjadi pilihan utama dalam upaya menentukan awal bulan penting dalam kalender hijriah, yang memiliki makna sangat mendalam bagi jutaan umat Islam di tanah air.
Terletak sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Blitar, Bukit Banjarsari menawarkan aksesibilitas yang cukup baik bagi tim rukyat yang akan melakukan pengamatan.
Dengan ketinggian sekitar 381 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan ini memiliki keunggulan geografis yang sulit ditandingi oleh lokasi lain di sekitar Kabupaten Blitar.
Pandangan ufuk barat yang terbuka lebar, tanpa adanya penghalang seperti gedung bertingkat atau perbukitan besar yang bisa menghalangi pandangan, menjadikan Bukit Banjarsari sebagai tempat yang ideal untuk mengamati kemunculan hilal segera setelah matahari terbenam. Kondisi alam yang alami ini menjadi modal utama yang membuat lokasi ini tetap menjadi pilihan utama selama bertahun-tahun.
Pada hari Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M, tepat pada tanggal yang bertepatan dengan rukyah akhir Syakban 1447 H, Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Blitar kembali memilih Bukit Banjarsari sebagai lokasi pengamatan utama. Sebelum pelaksanaan rukyah di lapangan, tim ahli telah melakukan perhitungan hisab dengan ketelitian tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun, ijtima’ akhir Syakban 1447 H diperkirakan terjadi pada pukul 19.03.06 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Penghisab dari lembaga tersebut, Ahmad Muhammad, menjelaskan bahwa setiap tahap perhitungan dilakukan dengan memperhatikan berbagai parameter astronomis untuk memastikan akurasi informasi yang akan menjadi panduan bagi tim rukyat di lapangan.
“Berdasarkan perhitungan yang kami lakukan secara cermat, Bukit Banjarsari berada pada koordinat yang sangat tepat untuk pengamatan hilal, yaitu lintang 08° 12’ 35,00” Lintang Selatan dan bujur 112° 09’ 26,60” Bujur Timur,” jelas Ahmad Muhammad dalam penjelasannya.
Koordinat yang presisi ini bukan hanya sebagai data administratif, tetapi menjadi acuan krusial dalam menentukan posisi terbaik untuk mengarahkan pandangan saat hilal diperkirakan muncul.
Tim rukyat dapat dengan mudah menentukan arah yang harus diperhatikan, sehingga tidak ada kesalahan dalam fokus pengamatan yang bisa mengakibatkan terlewatkannya momen penting.
Selain koordinat geografis, berbagai parameter penting lainnya juga dihitung secara rinci untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi hilal pada saat pengamatan. Waktu terbenam matahari di Bukit Banjarsari diperkirakan terjadi pada pukul 17.58.11 WIB, sedangkan ghurub hilal diperkirakan terjadi lebih awal, tepatnya pada pukul 17.53.15 WIB.
Perbedaan waktu antara kedua peristiwa ini menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan kemungkinan hilal dapat teramati.Semakin lama waktu antara terbenamnya matahari dan hilal, semakin besar kemungkinan hilal terlihat dengan jelas.
Data hisab juga mencatat bahwa elongasi hilal pada saat rukyah di Bukit Banjarsari mencapai angka 1,16 derajat. Elongasi ini menggambarkan jarak sudut antara bulan dan matahari ketika diamati dari permukaan bumi, yang menjadi faktor penentu utama visibilitas hilal. Sementara itu, nilai nurul hilal yang tercatat sebesar 0,28 cm menggambarkan panjang diameter hilal yang akan teramati. Selain itu, arah rukyatul hilal berada pada posisi 256° 36’ 29,28”, yang memberikan panduan yang sangat jelas bagi setiap anggota tim rukyat dalam menentukan arah pandang yang harus diarahkan selama proses pengamatan berlangsung.
“Meskipun data hisab kami hasilkan dengan sangat teliti dan cermat, kami selalu mengingatkan bahwa data ini hanya berperan sebagai pedoman awal,” tegas Ahmad Muhammad.
Ia menambahkan bahwa kondisi aktual di lapangan, seperti kejelasan langit, adanya kabut atau awan, serta faktor-faktor alam lainnya dapat mempengaruhi hasil pengamatan.
Oleh karena itu, meskipun perhitungan hisab memberikan gambaran yang mendalam, hasil akhir tetap bergantung pada apa yang dapat diamati secara langsung oleh tim rukyat di lokasi, serta keputusan akhir yang diambil oleh pemerintah melalui Sidang Isbat yang menjadi lembaga berwenang dalam penetapan awal bulan.
Tak hanya fokus pada Bukit Banjarsari, dalam laporan hisab yang disusun oleh Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Blitar juga mencantumkan beberapa titik rukyah lain di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Lhoknga di Kabupaten Aceh Besar dan Pelabuhan Ratu di Provinsi Jawa Barat.
Penentuan beberapa titik rukyah yang berbeda bertujuan untuk memperoleh data yang lebih komprehensif dan akurat mengenai kemunculan hilal di berbagai daerah dengan kondisi geografis dan iklim yang berbeda-beda. Hal ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk memastikan bahwa penetapan awal bulan dilakukan dengan memperhatikan realitas di seluruh wilayah negara.
Proses rukyatul hilal di Bukit Banjarsari dan titik-titik rukyah lainnya di seluruh Indonesia memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan beragama dan budaya masyarakat.
Hasil pengamatan tersebut menjadi dasar penting dalam penetapan awal bulan-bulan penting dalam kalender hijriah seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Meskipun perhitungan hisab memberikan dasar yang kuat, keputusan akhir tetap berada pada tangan Sidang Isbat Pemerintah RI yang akan menyatukan data dari seluruh titik rukyah di seluruh negeri untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan kaidah agama dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

