Stunting di Kawasan Industri Gresik Dipicu Pola Asuh, Penanganan Terus Digenjot
Kasus stunting di kawasan industri Gresik dipicu oleh pola asuh anak akibat orang tua bekerja. Pemkab Gresik dan PT Cargill Indonesia dorong edukasi berbasis komunitas di 6 desa di Manyar.
Gresik – Kasus stunting di wilayah kawasan industri Kabupaten Gresik, Jawa Timur tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi atau kekurangan gizi, tetapi juga pola asuh anak yang masih menjadi persoalan utama.
Kondisi ini terutama terjadi di desa-desa penyangga industri, di mana banyak orang tua bekerja sehingga waktu pengasuhan anak menjadi terbatas.
Karena itu, penanganan stunting di kawasan industri kini tidak hanya fokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga edukasi pola asuh, pengetahuan gizi, serta peran keluarga.
Salah satu upaya tersebut dilakukan di enam desa di Kecamatan Manyar, yakni Manyarejo, Manyarsidomukti, Manyarsidorukun, Peganden, Leran, dan Banjarsari melalui program pencegahan stunting berbasis komunitas.
Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno mengatakan, program tersebut sejak awal dirancang untuk mendorong pencegahan stunting dari tingkat desa dengan memperkuat pengetahuan masyarakat dan peran komunitas.
“Program ini sejak awal dirancang untuk mendorong pencegahan stunting yang berangkat dari desa. Penekanan utamanya adalah penguatan pengetahuan dan peran komunitas,” ujarnya di Gresik pada Senin (30/3/2026).
Dari hasil pelaksanaan program di enam desa tersebut, kata Adi telah menunjukkan bahwa stunting berkaitan erat dengan pengetahuan orang tua, pola asuh, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Selain itu, banyak orang tua yang bekerja di sektor industri sehingga waktu pengasuhan anak menjadi terbatas dan berdampak pada tumbuh kembang anak. Kemudian, keterbatasan pemahaman mengenai gizi juga masih menjadi pekerjaan rumah.
“Karena itu, kami lebih menitikberatkan pendekatan promotif dan preventif melalui edukasi dan peningkatan kapasitas, dibandingkan intervensi kuratif,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Penurunan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak bisa hanya pemerintah daerah, tidak cukup Dinas Kesehatan, tidak cukup KBPPPA, dan tidak bisa hanya perusahaan. Ini harus kolaboratif,” tegasnya.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional tercatat menurun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.
Di Gresik sendiri angka stunting juga menunjukkan penurunan dari 15,4 persen menjadi 15,2 persen. Namun demikian, upaya pencegahan tetap harus diperkuat, terutama pada faktor pola asuh dan edukasi keluarga di wilayah industri. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

