Rekrutmen Nakes RSUD Bondowoso, Dugaan Permainan Nilai hingga Diminta Fulus Agar Bisa Lulus
Dugaan adanya permainan dalam rekrutmen tenaga kesehatan non-ASN di BLUD RSUD Koesnadi Bondowoso mencuat setelah dokter spesialis di RSUD itu angkat bicara.
BONDOWOSO – Dugaan adanya permainan dalam rekrutmen tenaga kesehatan non-ASN di BLUD RSUD Koesnadi Bondowoso mencuat setelah dokter spesialis di RSUD itu angkat bicara.
Ternyata kecurigaan dokter spesialis penyakit dalam, dr. Yusdeni Lanasakti itu, membuat keberanian peserta rekrutmen untuk juga buka suara.
Salah seorang peserta rekrutmen nakes non-ASN, berinisial L menjelaskan, Nil baru ditampilkan pada Jumat (8/5/2026) sore, setelah video dokter spesialis itu viral di media sosial.
"Baru keluar kemarin pas pengumuman kelulusan. Baru dikeluarkan. Baru viral baru dikeluarkan," jelasnya saat dikonfirmasi, Sabtu (9/5/2026) kemarin.
Ia mengungkapkan, bahwa dirinya harus melalui beberapa tahapan. Yakni kelengkapan administrasi, tes tulis, uji keterampilan (skill test), dan wawancara.
Menurutnya, tiga tahap awal ini tidak ada penyaringan, sehingga seluruh peserta diloloskan. Akhirnya peserta mempertanyakan ketiadaan sistem gugur pada tahap-tahap awal tersebut.
"Ketiga tahap itu tidak ada nilai yang keluar. Yang ikut tes tetap itu saja. Mungkin yang digugurkan hanya yang tidak datang saja. Tak transparannya di situ," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, para peserta sebenarnya mengetahui hasil nilai tes tulis sesaat setelah ujian. Namun, nilai tersebut hanya muncul di layar komputer rumah sakit sehingga peserta tidak punya dokumentasi nilai masing-masing.
Meski sudah terasa ada yang janggal kata dia, para peserta saat itu tidak melakukan protes karena fokus menghadapi rangkaian tes.
"Kalau saya langsung mengobrol sesama teman, kok bisa ya begini. Tapi kami mau protes ke mana," imbuhnya.
Namun setelah pengumuman keluar kata dia, sejumlah peserta terkejut. Hal itu dikarenakan ada beberapa nilai yang keluar ternyata tak sama seperti saat tes. Salah satunya ada peserta yang nilainya 30, tiba-tiba berubah jadi 88 pada tes tulis dalam pengumuman.
"Kalau saya langsung ngomong sesama teman, kok bisa ya segini. Tapi kita mau kemana protesnya," ujarnya.
Bahkan lanjut dia, kini setelah ramai perihal rekrutmen, semakin banyak yang buka suara perihal diminta "uang masuk". Nilainya beragam, mulai Rp50 juta hingga Rp100 juta untuk jadi perawat di RSUD.
Sementara L sendiri menolak tawaran tersebut, karena keluarga tak ada cukup uang dan sudah habis untuk biaya pendidikannya. "Itu sudah bukan rahasia umum lagi," ujarnya.
Sementara dokter spesialis RSUD dr. Koesnadi, Yusdeni Lanasakti mengaku juga mempertanyakan mekanisme penerimaan tersebut.
Menurutnya, meloloskan semua peserta di tiap tahap adalah hal yang tidak masuk akal, karena nilai seharusnya menjadi parameter sistem gugur.
"Lho, kalau nilai keluar dan lulus semua, artinya kan nilainya bagus semua," ungkapnya.
Sementara berdasarkan dokumen pengumuman yang ada, terdapat dua daftar PDF yang mencantumkan nilai peserta.
PDF pertama berisi Pengumuman Tes Kompetensi. Di dalamnya, formasi perawat terbagi dalam dua kategori. Perawat ahli 122 peserta dan perawat terampil 96 orang.
Namun, di lembar tersebut tidak dicantumkan nilai satu pun peserta dari formasi perawat. Kondisi ini berbeda dengan formasi lain yang nilainya disertakan dengan jelas.
Kemudian, PDF kedua adalah Pengumuman Kelulusan Final. Formasi perawat ahli yang dinyatakan lulus berjumlah 28 orang, sedangkan perawat terampil sebanyak 12 orang.
Pada dokumen pengumuman kelulusan final ini, nilai hanya disertakan bagi perawat yang dinyatakan lolos.
Sementara itu, nilai bagi perawat yang tidak lolos tetap tidak dicantumkan, baik pada PDF Pengumuman Tes Kompetensi maupun PDF hasil akhir rekrutmen.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

