10 Rumah Warga Purwoharjo Banyuwangi Rusak Diterjang Badai, Bantuan Darurat Telah Disalurkan
Kurang lebih 10 rumah warga di wilayah Kecamatan Purwoharjo, rusak diterjang hujan deras disertai angin kencang alias badai, pada Minggu (26/7/2026).
BANYUWANGI – Kurang lebih 10 rumah warga di wilayah Kecamatan Purwoharjo, rusak diterjang hujan deras disertai angin kencang alias badai, pada Minggu (26/7/2026). Merespons kejadian itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi langsung menerjunkan personel ke lokasi guna mendata dampak kerusakan dan membagikan bantuan logistik darurat.
Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana menjelaskan bahwa, badai yang melanda pada Minggu (26/7/2026) sekitar pukul 15.30 sampai 16.45 WIB tersebut, telah merusak 10 rumah warga di Dusun Ngadirejo, Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo.
“Dari laporan awal di lapangan hujan deras disertai angin kencang itu berdampak pada kerusakan 10 rumah warga,” jelasnya, Senin (27/7/2026).
Menurut pendataan awal di lapangan, Partana menyampaikan, kerusakan rumah warga masih masuk kedalam kategori ringan. Pasalnya sebagian besar kerusakan hanya terjadi pada bagian atap bangunan yang terlepas disapu angin.
“Alhamdulillah tidak terjadi korban jiwa dalam kejadian kebencanaan tersebut,” tuturnya.
Meski demikian, BPBD Banyuwangi bergerak cepat dan menyalurkan bantuan logistik kepada para korban terdampak pada Senin (27/7/2026) pagi di wilayah tersebut. Bantuan kebutuhan dasar yang didistribusikan meliputi paket sembako, family kit atau perlengkapan kebersihan keluarga, terpal, hingga paket khusus lansia.
“Ada 10 paket sembako untuk memenuhi kebutuhan pangan harian, 10 terpal untuk penutup atas sementara, 10 paket Family Kit dan paket bantuan khusus bagi kelompok rentan seperti lansia,” ungkap Partana.
Saat ini, Tim BPBD tengah melakukan kajian lanjutan serta perhitungan teknis rinci terhadap tingkat kerusakan atap rumah warga. Hasil pengkajian ini akan dijadikan dasar dalam penyaluran bantuan material bangunan agar perbaikan rumah warga dapat segera direalisasikan.
“Selain penyaluran bantuan, hari ini kami sekaligus melakukan mitigasi terhadap kerusakan di masing-masing rumah tersebut, yang kedepannya nanti akan kami berikan bantuan material,” ucap Partana.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih mengancam, BPBD Banyuwangi mengimbau masyarakat untuk tetap siaga dan mewaspadai perubahan cuaca mendadak.
“Kewaspadaan khususnya juga bagi masyarakat pesisir, karena saat ini tengah terjadi gelombang tinggi di wilayah perairan Banyuwangi. Warga diharap tidak melakukan aktivitas di laut ketika ombak besar dan menunggu laut lebih stabil,” tutur Partana.
Sementara itu, BMKG turut memberikan penjelasan mengenai fenomena badai berupa hujan deras disertai angin kencang yang menimpa Kecamatan Purwoharjo. Meskipun saat ini Banyuwangi berada di periode musim kemarau.
Hal ini diterangkan oleh Prakirawan BMKG Kelas II Banyuwangi, Freddy D. Kurniawan. Dirinya menjelaskan bahwa periode Juli hingga Agustus diprakirakan menjadi puncak musim kemarau di Indonesia, khususnya untuk wilayah Jawa termasuk Banyuwangi, serta Bali dan Nusa Tenggara.
Walau begitu, lanjut Freddy, Benua Australia saat ini sedang mengalami musim dingin, sehingga menciptakan pusat tekanan udara tinggi atau High Pressure. Pada saat bersamaan, Benua Asia justru berada di musim panas yang memicu tekanan udara rendah.
Secara alami, massa udara selalu bergerak dari wilayah bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Akibatnya pergerakan udara dari Australia menuju Asia inilah yang kita kenal sebagai Angin Monsun Timur atau Angin Timuran.(*)
“Karena perbedaan gradien tekanan yang cukup tinggi antara benua Australia dan Asia inilah yang menyebabkan lonjakan kecepatan angin yang terjadi beberapa hari terakhir, termasuk gelombang tinggi,” terang Freddy.
“Termasuk menjadi penyebab hujan deras disertai angin kencang di Banyuwangi,” imbuhnya. (*)
Pewarta : Anggara Cahya
Editor :
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


