Semangat Kartini Masa Kini: Kiprah Puji Ripurnawati Jaga Sungai dan Lingkungan di Magelang
Perempuan masa kini tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga aktif mengambil bagian dalam persoalan sosial, lingkungan, hingga pembangunan masyarakat.
MAGELANG – Semangat emansipasi perempuan yang diwariskan Raden Ajeng Kartini tidak pernah lekang oleh waktu. Spirit itulah yang menyeruak seriap peringatan Hari Kartini di seluruh penjuru Indonesia, termasuk di Magelang.
Jika dahulu Kartini memperjuangkan hak perempuan dalam bidang pendidikan dan kesetaraan, kini semangat itu hadir dalam berbagai bentuk yang lebih luas.
Perempuan masa kini tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga aktif mengambil bagian dalam persoalan sosial, lingkungan, hingga pembangunan masyarakat.
Sosok-sosok inilah yang kerap disebut sebagai 'Kartini masa kini', perempuan yang memberi dampak nyata bagi sekitarnya.
Salah satu 'Kartini' ada di Magelang. Dialah Puji Ripurnawati, atau yang akrab disapa Nana Paundra. Perempuan kelahiran Magelang 1Januari 1969 ini menunjukkan bahwa, kepedulian terhadap lingkungan bisa menjadi gerakan yang berdampak luas.
Alumni SMAN Kota Mungkid ini sejak lama memiliki cita-cita sederhana namun bermakna yaitu, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Kiprah Kartininya, dimulai dari keterlibatan dalam KKBM atau Komunikasi Kali Bersih Magelang, yang kini berubah nama menjadi PPKM, Paguyuban Peduli Kali Magelang.

Nana aktif sebagai Sekretaris di PPKM dan memfokuskan kegiatannya pada TPS3Rb (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) desa Banyurojo.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Nana Paundra mengaku memiliki kepedulian yang besar terhadap kondisi lingkungan, khususnya sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Dalam aktivitasnya, ia kerap dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satu yang paling terasa adalah kondisi sungai yang masih kotor dan dipenuhi sampah.
Ia juga menyoroti sulitnya mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. “Mengubah perilaku itu sangat sulit, padahal pola pikir ini adalah awal segalanya,” ungkapnya, pada TIMES Indonesia, Selasa (21/4/2026).
Meski demikian, ada kebahagiaan tersendiri ketika upaya kecil yang dilakukan mendapat respons positif dari masyarakat, meskipun belum besar.
Tak hanya persoalan kesadaran, tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan pendanaan. Organisasi yang dijalaninya tidak memiliki donatur tetap, sementara setiap kegiatan membutuhkan biaya.
Selain itu, regenerasi kepengurusan juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah. Namun, ia dan rekan-rekannya tetap berpegang pada keyakinan bahwa niat baik akan selalu menemukan jalan.
Di tengah kesibukannya menjadi ibu rumah tangga, dukungan keluarga menjadi kekuatan tersendiri.
Suami dan anak-anaknya tidak hanya memberi izin, tetapi juga turut terlibat dalam kegiatan bersih sungai. Dalam membagi waktu, Nana Paundra tidak memiliki jadwal khusus untuk membagi waktunya.
Selama tanggung jawab rumah tangga telah diselesaikan, ia kembali berkutat dengan persoalan kebersihan sungai.
Ke depan, ia berharap gerakan peduli sungai dapat tumbuh di setiap wilayah, mengingat hampir seluruh kawasan di Kota Magelang dilintasi aliran sungai.
Ia juga memiliki visi yang besar, yakni menjadikan air sungai yang bersih sebagai alternatif sumber air minum di tengah keterbatasan mata air di wilayah perkotaan.
Bagi generasi muda, khususnya perempuan, Nana berpesan agar terus berkarya. "Terus berbuat kebaikan dan memberi manfaat tanpa melupakan peran sebagai ibu dan perempuan," ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini kepada anak-anak. Kiprah Puji Ripurnawati menjadi bukti bahwa semangat Kartini tidak berhenti pada sejarah.
Ia hidup dalam tindakan nyata, melalui tangan-tangan perempuan yang peduli dan berani bergerak demi masa depan lingkungan yang lebih baik. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

