Advertisement
Sosok

HijabVet Edukasi, Ikhtiar Sophia Adela Putri dalam Memberdayakan Kaum Muslimah Peduli Lingkungan

Profil Sophia Adela Putri, dokter hewan muda Bandung dan Putri Hijabfluencer Jabar 2026, penggagas HijabVet Edukasi: gerakan muslimah peduli hewan, lingkungan, dan mental.

TIMES Indonesia,
HijabVet Edukasi, Ikhtiar Sophia Adela Putri dalam Memberdayakan Kaum Muslimah Peduli Lingkungan
Sophia Adela Putri. (FOTO: Sophia for TIMES Indonesia)
A-AA+

BANDUNG Dunia kedokteran hewan dan gerakan muslimah berdaya menemukan titik temu yang harmonis dalam sosok dengan nama lengkap Sophia Adela Putri.

Perempuan cantik berusia 24 tahun asal Kota Bandung ini membuktikan bahwa identitas keagamaan dan profesionalisme sains bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang.

Advertisement

Dalam hal ini melalui gagasan yang dia namakan dengan advokasi HijabVet Edukasi, ia mendobrak batasan dan stereotip yang kerap dihadapi perempuan berhijab di ruang publik.

Lahir dan tumbuh sebagai anak sulung dari dua bersaudara, karakter kepemimpinan Sophia sebenarnya sudah terasah sejak masa sekolah. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah pada periode Desember 2017 hingga Desember 2018.

Ketertarikannya yang mendalam pada dunia fauna kemudian membawa Sophia menempuh jalur akademik di Universitas Padjadjaran hingga berhasil meraih gelar Bachelor of Veterinary Medicine pada Juli 2023, dan menuntaskan profesi Doctor of Veterinary Medicine pada Desember 2024.

Selama mengenyam pendidikan tinggi, ruang geraknya tidak terbatas di dalam ruang kuliah atau laboratorium saja. Ia aktif mematangkan kapasitas diri melalui berbagai organisasi kepemimpinan dan pengabdian masyarakat seperti BOLT, SCORE, SOBH, SOK, AMBIVET, serta BEM HIMA KEMA.

Lalu dirinya bahkan sempat dipercaya menjadi Koordinator Acara Pemilihan di BPM KEMA, sebuah pengalaman yang ia akui ikut membentuk fondasi advokasi yang dijalankannya saat ini.

Advertisement

Kombinasi Ilmu Pengetahuan dan Empati Nyata

Kini perempuan yang memiliki kegemaran berkuda ini tengah menjalani profesi sebagai Dokter Hewan dan memegang posisi strategis sebagai Store Leader Veterinarian sejak tahun 2025.

Menurut pandangannya, bahwa aktivitas berkuda bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan sebuah proses refleksi diri yang mendalam.

"Berkuda itu mengingatkan saya untuk bisa memimpin makhluk lain. Artinya harus tetap tenang saat menungganginya," ujar Sophia saat menggambarkan filosofi hidupnya, pada Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut masyarakat yang ingin melihat lebih dekat aktivitas harian dan perjalanan advokasinya dapat mengunjungi akun media sosial Instagram resmi miliknya di @sophiaadela.

Latar belakang Sophia yang kokoh di bidang sains tersebut berjalan beriringan dengan rekam jejak prestasi yang cukup panjang di bidang akademik maupun non-akademik.

Di panggung olahraga, ia pernah tercatat sebagai Medalis O2SN pada tahun 2012 dan menjadi Atlet Voli PBV Silva’s Tectona Cup yang merupakan ajang tingkat nasional di bawah naungan KONI.

Pada bidang sains, Sophia berhasil meraih medali OSN Kimia 2017 dalam ajang The Innovative Learning Conference serta menjadi Finalis KSN Kimia Nasional pada tahun 2018.

Langkah pembuktian kompetensinya di tingkat nasional semakin dipertegas ketika ia dinyatakan lulus UKMPPDH Kemendikbud pada Januari 2025 yang merupakan Ujian Kompetensi Profesi Dokter Hewan Nasional.

Puncaknya, ia meraih selempang sebagai bagian dari Putri Hijabfluencer Jawa Barat 2026, sebuah platform yang kini digunakannya sebagai pengeras suara untuk menyebarkan nilai-nilai keberdayaan perempuan.

"Bagi saya seluruh pencapaian tersebut memiliki satu benang merah yang sama. Setiap panggung mengajarkan kepada kita bahwa kompetensi tanpa karakter mudah goyah. Keduanya harus berjalan bersama," tuturnya.

Tiga Pilar Pemberdayaan HijabVet Edukasi

Melalui platform HijabVet Edukasi, Sophia memfokuskan gerakannya pada pemberdayaan muslimah untuk lebih peduli terhadap kesejahteraan hewan dan kelestarian lingkungan.

Gerakan ini lahir dari keresahan sekaligus pertanyaan yang sering ia terima mengenai kemampuan perempuan berhijab dalam melakukan tindakan medis pada hewan.

Menanggapi keraguan tersebut, Sophia menegaskan bahwa hijab sama sekali tidak menutup otak dan tangan dirinya untuk bekerja secara profesional di lapangan.

Advokasi yang ia rintis ini bergerak secara terstruktur melalui tiga pilar utama yaitu:

1. HijabVet Compassion yang bergerak dalam bentuk lokakarya gratis bagi seribu muslimah di Jawa Barat, dengan fokus materi seputar perawatan hewan, kepedulian lingkungan, dan ekonomi sirkular yang ditargetkan mampu menyelamatkan 500 hewan pada tahun 2026.

2. HijabVet Wisdom yang berfokus pada edukasi modest beauty serta pembentukan karakter lewat konten digital, tutorial hijab, dan perawatan diri.

3. HijabVet Heals yang merupakan kampanye kesehatan mental, anti-anxiety, anti-bullying, dan anti-kekerasan seksual dengan target menjangkau satu juta masyarakat melalui siniar bersama psikolog.

Dampak nyata dari gerakan ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput. Nabilah, seorang perempuan berusia 25 tahun yang menjadi salah satu peserta lokakarya di Bandung, mengakui bahwa program tersebut mengubah sudut pandangnya secara drastis.

"Dulu saya takut pegang kucing liar, namun setelah ikut HijabVet Compassion, sekarang saya rutin membawa kucing jalanan ke klinik binaan," kata Nabilah. Ia merasa lega yang luar biasa ketika menyadari dirinya bisa berbuat sesuatu yang konkret bagi lingkungan sekitar.

Menjawab Tantangan dan Menatap Masa Depan

Tidak berhenti di situ, gerakan ini juga melahirkan beberapa program turunan yang sedang berjalan aktif seperti Laras Adirasa, Pustaka Hijab Nusantara, serta Ruang Aman Berhijab yang menyediakan fasilitas literasi dan konseling daring bagi remaja putri.

Lebih jauh Sophia melihat ada peluang besar yang belum tergarap optimal di Indonesia, yaitu ketersediaan konten edukasi perawatan hewan yang diambil dari sudut pandang seorang muslimah.

"Di sisi lain saya juga tidak menampik adanya tantangan berupa stigma negatif yang menganggap jilbab sebagai penghambat profesionalitas kerja," ungkapnya sembari tersenyum manis.

Untuk mematahkan stigma tersebut, Sophia memilih untuk selalu menampilkan kredibilitas berbasis bukti ilmiah serta transparansi dalam setiap edukasi yang ia bagikan.

Dirinya memegang prinsip bahwa kejujuran tanpa empati bisa menjadi brutal, sementara empati tanpa kejujuran bisa berakhir manipulatif, dan keduanya tidak akan bernilai tanpa adanya konsistensi.

Baginya, media sosial hanyalah sebuah etalase digital dan bukan penentu nilai diri yang sesungguhnya. Menurut dia jauh lebih baik tampil autentik dan membawa manfaat nyata bagi seratus orang daripada terlihat sempurna namun kosong tanpa dampak bagi sejuta orang.

Ke depan, Sophia menaruh harapan besar agar HijabVet Edukasi bisa bertransformasi menjadi sebuah ekosistem nasional yang mampu melahirkan jaringan muslimah yang peduli pada isu hewan, lingkungan, dan kesehatan mental di seluruh penjuru Indonesia.

"Tentunya saya ingin membuktikan kepada publik bahwa keindahan, kecerdasan, kompetisi, dan kasih sayang dapat menyatu secara utuh di dalam diri seorang individu," ucapnya menegaskan.

Dalam perjalanannya yang penuh dinamika, Sophia sangat bersyukur karena tidak melangkah sendirian. Ia mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, orang tua, rekan sejawat, komunitas muslimah di Bandung, hingga dukungan publik saat masa pemilihan yang diakuinya menjadi energi besar untuk melangkah ke panggung Grand Final.

Mengakhiri perbincangan, ia memberikan pesan penyemangat bagi masyarakat luas khususnya generasi muda agar tidak menunda niat baik hanya karena merasa belum sempurna.

"Mulailah dari apa yang kamu bisa di tempat kamu berada, dengan apa yang kamu punya, sebab izzah itu datang dari ridho Allah, bukan dari jumlah tanda suka di media sosial," pungkas Sophia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia