Berstatus Cagar Budaya, Rumah Dinas Wabup Gresik Jadi Daya Tarik Kalangan Pelajar
Rumah dinas Wakil Bupati Gresik yang merupakan bangunan cagar budaya menjadi daya tarik pelajar untuk belajar sejarah.

GRESIK – Berstatus sebagai bangunan cagar budaya, rumah dinas Wakil Bupati Gresik di Jalan Basuki Rahmat, Kawasan Bandar Grisse menjadi daya tarik kalangan pelajar untuk dijadikan tempat belajar sejarah.
Bangunan estetik yang sarat nilai sejarah ini dimanfaatkan siswa kelas 9 Fez SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) untuk belajar serta dijadikan obyek utama dalam momen foto akhir tahun (Year Book).
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menyampaikan jika rumah dinas terbuka bagi siapapun untuk berkunjung. Ia pun apresiasi atas kegiatan siswa Spemdalas tersebut.
"Anak-anak bisa belajar sejarah Kabupaten Gresik secara langsung dengan datang ke tempat-tempat bersejarah seperti rumah dinas ini,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Secara historis, bangunan ini mulai difungsikan pada tahun 1934 sebagai Rumah Dinas Asisten Residen Surabaya, seiring turunnya status Gresik dari kota kabupaten menjadi kota kawedanan akibat kebijakan desentralisasi pemerintahan Hindia Belanda.
Sejak tahun 1974, ketika Gresik kembali menjadi kota kabupaten, bangunan tersebut resmi beralih fungsi sebagai Rumah Dinas Wakil Bupati Gresik hingga saat ini. Bangunan itu sudah ditetapkan sebagau Cagar Budaya Peringkat Kabupaten melalui SK Bupati Gresik Nomor 028/428/HK437.12/2020.
Salah satu siswa, Armilda Putri Athifa Earlene, mengaku kunjungannya ke Rumah Dinas Wakil Bupati Gresik justru membuka perspektif baru tentang keberadaan cagar budaya di daerahnya.
Ia menyebut, sebelumnya tidak banyak mengetahui bahwa bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
“Lingkungannya ikonik, fotogenik, dan autentik. Bahkan menurut saya tidak kalah menarik dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta. Dari sini saya merasa cagar budaya bisa menjadi cara yang dekat dan relevan bagi pelajar untuk mengenal sejarah,” tuturnya.
Wakil Kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB, Ichwan Arif, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual sekolah.
“Kami ingin siswa pulang tidak hanya membawa foto kenangan, tetapi juga pengetahuan serta rasa bangga terhadap sejarah daerahnya,” tuturnya.
Melalui integrasi kegiatan akademik, dokumentasi, dan edukasi sejarah, Spemdalas berharap dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk mencintai dan menjaga bangunan cagar budaya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

