Cek Fakta Fakta atau Hoaks

[CEK FAKTA] Rocky Gerung: Presiden Jokowi Sudah Membikin Hoaks Tentang Esemka

Kamis, 28 Maret 2019 - 17:32 | 638.52k
Rocky Gerung. (FOTO: Detik)
Rocky Gerung. (FOTO: Detik)

TIMESINDONESIA, JAKARTARocky Gerung, kembali membuat pernyataan yang menghebohkan publik. Ia menyatakan bahwa Presiden Jokowi penyebar hoaks terbanyak di Indonesia. Sebab sebagai presiden, Jokowi dinilai banyak menyebar kebohongan atau hoaks ke publik. Terutama soal mobil Esemka.

Menurut Rocky Gerung, Jokowi juga adalah orang pertama yang pantas dijerat Undang-Undang Terorisme jika aturan itu dipakai untuk menjerat hukum penyebar hoaks.

Advertisement

Penilaian itu diberikan Rocky Gerung dalam Indonesia Lawyer Club (ILC) di tvOne (KLIK DISINI), Selasa (26/3/2019) malam yang mengangkat topik "Tepatkah Hoax Dibasmi UU Anti Terorisme?". Tim cek fakta TIMES Indonesia mencoba menelisik dan menjabarkan fakta soal apa itu hoaks dan seperti apa keberadaan mobil Esemka saat ini. Hoaks atau fakta?

PERNYATAAN:

“Nah, kalau sekarang dipakai UU Terorisme, coba konsekwensi siapa pembuat hoaks terbaik dan terbanyak? Ya Presiden. Dari awal Presiden sudah membikin hoaks tentang ESEMKA (mobil). Maka, perlakukan UU Terorisme pertama kapada Presiden. Itu konsekwensi cara berpikir hukum yang otoriter. Kan kena dirinya sendiri. Sapa lagi yang kena? Ya selain Presiden? Ya Pak Ma’ruf Amin, yang juga mengaminkan bahwa akan ada produksi ESEMKA (mobil) bulan Oktober lalu.”

“Jadi, kalau di daftarkan, yang sudah beredar di media massa itu, hoaksnya Presiden itu sudah 60. Jadi sudah, kalau akumulasi kejahatannya, sudah dihukum berkali-kali sebagai teroris itu. Karena tidak ada yang benar. Kalau kita mau cek kebenarannya dimana? Pada Media. Media sudah dikendalikan juga pikirannya,” kata Rocky Gerung, Selasa (26/3/2019) malam, dalam acara ILC TV One dengan tema "Tepatkah Hoax Dibasmi UU Antiterorisme"?

FAKTA dan DATA:

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘hoaks’ adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’.

Hoaks dibuat seseorang atau kelompok dengan beragam tujuan, mulai dari sekedar main-main, hingga tujuan ekonomi (penipuan), dan politik (propaganda/pembentukan opini publik) atau agitasi (hasutan). Hoaks biasanya muncul ketika sebuah isu mencuat ke permukaan, namun banyak hal yang belum terungkap atau menjadi tanda tanya. (KLIK DISINI)

Unesco dan Kementerian Komunikasi dan Informatika menyarankan agar publik tak lagi memakai frasa fake news. Alasannya, yang namanya berita ya harus akurat dan tepercaya.

Untuk menghindarinya, sebagai gantinya, bisa digunakan istilah disinformasi, misinformasi, dan malinformasi terhadap pemberitaan yang tidak benar. Sayang, edisi daring kamus besar bahasa Indonesia kelima belum mengadopsi ketiga lema itu.

KBBI V daring baru memasukkan lema disinformasi. Disinformasi dalam kamus itu diartikan sebagai penyampaian informasi yang salah yang dilakukan dengan sengaja untuk membingungkan orang lain.

Penjelasan tentang ketiga lema itu bisa diperoleh dalam Buku Panduan Melawan Hasutan Kebencian (KLIK DISINI) terbitan Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Yayasan Paramadina, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia bekerja sama dengan International Foundation for Electoral Systems.

Dalam buku yang terbit Januari 2019 itu dijelaskan:

Misinformasi. Secara sederhana, misinformasi berarti salah informasi. Informasinya sendiri salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan untuk tujuan baik alias tak ada tendensi untuk membahayakan orang lain.

Disinformasi. Berbeda dengan misinformasi, dalam disinformasi si penyebar informasi tahu kalau informasinya memang salah. Namun sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain.

Malinformasi. Sementara itu dalam malinformasi, informasinya sebetulnya benar. Sayangnya, informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian. Targetnya bisa pemeluk agama minoritas atau mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda.

Ada tujuh Misinformasi dan Disinformasi yang beredar di masyarakat saat ini. Menurut buku yang dieditori oleh Ihsan Ali-Fauzi itu juga dijelaskan bahwa misinformasi dan disinformasi ada jenisnya. Hoaks atau tidaknya informasi dimaksud bisa diketahui dari jenisnya seperti berikut:

Satire atau parodi: Satire atau parodi sebetulnya merupakan sindiran, bukan yang sebenarnya. Konteksnya bisa untuk lucu-lucuan. Namun tidak semua orang memahami bahwa sebuah tulisan itu satire atau parodi. Tak heran kalau terjadi misinformasi.

Koneksi yang salah: Koneksi yang salah terjadi karena hubungan antar elemen dalam berita, seperti judul, badan berita, foto, maupun caption-nya tidak nyambung. Model seperti itu lazim ditemukan dalam berita dengan judul sensasional atau bombastis hanya untuk mendapatkan klik (clickbait). Padahal isinya berbeda.

Konten yang menyesatkan: Dengan konten yang menyesatkan, pengguna digiring untuk memiliki persepsi tertentu tentang sebuah isu atau peristiwa (framing). Konten bisa berupa kompilasi foto yang dibubuhi potongan ayat atau pendapat ahli. Konten seperti ini biasanya digunakan dalam iklan-iklan politik, propaganda, dan teori konspirasi.

Konten yang salah: Yang dimaksud dengan konten yang salah adalah ketika informasi benar disebarkan dengan konteks yang sama sekali berbeda. Misalnya, berita tentang muslim Rohingya disertai dengan foto yang memperlihatkan keganasan biksu dan pemerintah Myanmar. Padahal fotonya tak terkait dengan peristiwa itu. Tujuannya agar orang salah memahami peristiwa itu.

Konten tiruan: Informasi konten tiruan ini dibuat seolah-olah berasal dari seseorang atau lembaga yang sah, padahal bukan. Contoh konten tiruan yang sempat beredar adalah selebaran tentang penculikan anak yang disertai logo Kepolisian RI atau undian berhadiah yang mengatasnamakan perusahaan tertentu.

Konten yang dimanipulasi: Konten ini adalah hasil modifikasi dari gambar, video atau tulisan sehingga konten itu memiliki makna yang berbeda dari konten aslinya. Terkadang konten yang dimanipulasi bermaksud sebagai hiburan (misinformasi), misalnya mengedit gambar sedang berfoto dengan artis terkenal atau di tempat tertentu. Akan tetapi, konten seperti ini sering juga dipakai untuk memelintir kebenaran atau bahkan memfitnah orang, lembaga, bahkan identitas kelompok lain (disinformasi).

Konten palsu: Konten palsu adalah informasi yang sama sekali tidak benar tapi sengaja dibuat untuk menipu atau merugikan pihak lain. Salah satu bentuk konten palsu atau konten yang dibuat-buat adalah kebohongan Ratna Sarumpaet yang mengaku dipukuli, padahal kenyataannya bukan.

PERJALANAN MOBIL ESEMKA:

Keberadaan mobil Esemka memang fakta adanya. Namun, ada banyak lika-liku yang menimpa mobil karya anak bangsa itu. Perjalanan mobil Esemka hingga lolos beragam macam uji sertifikasi menempuh jalan Panjang, butuh waktu lama.

Butuh waktu lima tahun sejak kali pertama dicetuskan pada 2007 melalui program teaching factory yang digagas Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktorat Pembinaan SMK menunjuk lima SMK pertama untuk mengawali program tersebut. Kelima SMK itu adalah SMKN 2 Surakarta, SMKN 5 Surakarta, SMK Warga Surakarta, SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, dan SMKN 1 Singosari (Malang).

Lima SMK ini mendapat dukungan dari Direktorat Pembinaan SMK untuk menghasilkan prototipe mobil. Di Surakarta, tiga sekolah menghasilkan lima unit dengan dua jenis prototipe mobil selama 2007 hingga 2010. 

Pada 2010, untuk kali pertama, mobil buatan siswa SMK ini diuji kelayakannya di Jakarta. Namun, ia gagal uji kelayakan dan sertifikasi dengan berbagai catatan, salah satunya terkait bodi mobil.

A.M. Hendropriyono, Pimpinan PT ACL, menyebutkan bahwa mobil ESEMKA akan dirilis pertengahan 2018. Dan Calon Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin juga menyebut Bahwa mobil ESEMKA akan drills Oktober 2018. [KLIK DISINI].

Sementara itu, menurut Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika, bahwa Esemka telah menunjukkan komitmennya mengembangkan kendaraan listrik, seperti agen pemegang merek (APM) lain di Indonesia.

Kronologis Perjalanan Mobil Esemka:

Mei 2009, Pikup Esemka Digdaya garapan SMK 1 Singosari Malang, muncul ke publik.

Januari 2012, Jokowi Widodo menetapkan Esemka jadi mobil dinas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo.

Januari 2012, Esemka Rajawali dianggap mobil ilegal karena tidak memiliki kelengkapan surat-surat.

Februari 2012, Esemka dinyatakan tidak memenuhi standar Kementerian Lingkungan Hidup.

Agustus 2012, setelah dua kali gagal, Esemka akhirnya dinyatakan lulus Uji emisi oleh Balai Thermodinamika Motor dan Produksi (BTMP) BPPT Serpong.

Oktober 2012, Esemka boleh dioperasikan setelah Kemenhub mengeluarkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe Kendaraan Bermotor Nomor.

Mei 2013, Esemka diocesan sebanyqak 7.000 unit.

April 2015, PT Adiperkasa Citra Esemka Her (Aceh) diresmikan, dibawah kepemimpinan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono.

Januari 2016, PT Aceh membangun pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah.

Juni 2012, PT Aceh mengumumkan akan meluncurkan Esemka pada Agustus 2016.

Januari 2017, Peluncuran mobil Esemka Mundur sampan Augustus 2017.

Maret 2017, Pabrik Esemka dinyatakan belum siap produksi kendaraan.

September 2017, foto Esemka Digdaya beredar di media sosial. Model pikup tertangkap kamera senang berjalan-jalan di Solo.

Januari 2018, Publik kembali dikejutkan dengan penampakan Esemka Garuda 1. Hal itu adalah model SUV Esemka yang sepintas mirin mobil China Foday Landfort.

27 September 2018, KH Ma'ruf Amin di Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Jember, menyatakan bahwa Oktober 2019 akan diluncurkan mobil nasional bernama Esemka, yang dulu pernah dirintis oleh Jokowi.

Menurut pakar otomotif, Ridwan Hanif (KLIK DISINI), untuk bisa menciptakan mobil dari nol hingga siap pakai memerlukan waktu bertahun-tahun. "Biasanya mobil dirancang dari 0 sampai jadi memakan waktu 5-7 tahun. Tergantung dari proses riset dan pemilihan kontraktornya," ungkap Ridwan Hanif selaku pakar otomotif,” terangnya, Kamis (28/3/2019).

Maka dari itu kata dia, pembuatan mobil karya anak bangsa itu, jika ingin dibuat dari nol hingga siap pakai, maka membutuhkan waktu yang cukup lama. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Fakta atau hoaks?
Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini.

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES