Cek Fakta Fakta atau Hoaks

[CEK FAKTA] Ribuan Orang di Indonesia Meninggal setelah Vaksin Covid-19

Rabu, 13 Oktober 2021 - 21:43 | 67.24k
Video seorang pria sedang berorasi tentang ribuan orang di Indonesia yang meninggal dunia setelah vaksin covid-19.
Video seorang pria sedang berorasi tentang ribuan orang di Indonesia yang meninggal dunia setelah vaksin covid-19.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beredar video di media sosial yang seorang pria sedang berorasi di tengah massa yang sedang berunjuk rasa. Pria tersebut mengatakan bahwa ribuan orang di Indonesia yang meninggal dunia setelah vaksin covid-19.

Video itu beredar di Facebook, dibagikan oleh akun Sarjana.politik.us pada 29 Agustus 2021. Video berdurasi 2 menit 47 detik itu memuat sikap protes terhadap upaya vaksinasi Covid-19 yang dinilai memaksa warga Sulawesi Utara.

Advertisement

Si pria dalam orasinya mengatakan, "Ratusan orang bahkan sudah ribuan orang di Indonesia ini meninggal dunia setelah vaksin. Apa yang akan kalian gantikan pada mereka. Jutaan manusia di sana ketakutan karena vaksin.”  

cek fakta Meninggal setelah VaksinSumber: Facebook (https://www.facebook.com/105023708554882/videos/1182009702275461)

CEK FAKTA

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa ribuan orang di Indonesia yang meninggal setelah vaksin Covid-19 adalah keliru. Tidak ada bukti atau laporan ats kebenaran klaim tersebut.

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (kemkes.go.id), Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Satari menegaskan bahwa  tidak ada yang meninggal karena vaksinasi Covid-19.

Menurut Komnas KIPI, ada 27 kasus kematian diduga akibat vaksinasi dengan Sinovac. Namun setelah diinvestigasi, kematian tersebut tidak terkait dengan vaksinasi.

Dari kasus tersebut, 10 kasus akibat terinfeksi covid-19, lalu 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah.  Ada juga seorang yang meninggal karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak dan dua orang karena diabetes mellitus dan hipertensi tidak terkontrol.

“Kenapa kami bisa membuat diagnosis itu? Karena datanya lengkap. Diperiksa, dirawat di-rontgen, diperiksa lab, di CT-scan, dapat diagnosisnya,” ujar Prof Hindra dalam artikel yang tayang pada 21 Mei 2021.

Sementara yang meninggal diduga akibat vaksinasi dengan AztraZeneca ada tiga orang. Namun juga tidak diakibatkan oleh vaksinasi tapi lebih karena penyakit lain.

cek fakta Meninggal setelah Vaksin 2Sumber: Komnas KIPI: Tidak Ada Yang Meninggal Karena Vaksinasi COVID-19 | Kemkes.go.id

Pada artikel yang dimuat merdeka.com pada 8 September 2021, Komnas KIPI memastikan, belum ada kasus kematian akibat vaksinasi Covid-19. "Kalau KIPI rata-rata tidak ada yang sampai meninggal," tegas Prof Hendra.

Ia juga mengatakan, kalau KIPI rata-rata tidak ada yang sampai meninggal. Dia menyebut, kasus yang paling berat adalah syok anafilaktik.

"Baik dari laporan penelitian maupun di kita, tidak ada data yang menunjukkan bukti seseorang wafat karena vaksinasi. Belum ada bukti, jangan sampai ya," ujarnya.

cek fakta Meninggal setelah Vaksin 3Sumber: Prof Hindra Irawan: Belum ada Bukti Kasus Meninggal Karena Vaksin Covid-19 | Merdeka

Hasil studi evaluasi efektivitas vaksin Covid-19 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, membuktikan bahwa vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi Covid-19. Vaksin covid-19 juga mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan. 

Studi tersebut dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.

cek fakta Meninggal setelah Vaksin 4Sumber: Studi Terbaru: Vaksin COVID-19 Efektif Mencegah Perawatan dan Kematian | Kemkes.go.id

Pemeriksaan atas klaim serupa juga telah dilakukan oleh Cek Fakta Tempo.co (Keliru, Ribuan Orang di Indonesia Meninggal Dunia setelah Vaksin Covid-19 | Tempo).

KESIMPULAN

Menurut hasil penelusuran Tim Cek Fakta TIMES Indonesia, klaim pria yang berorasi dengan mengatakan ada ribuan orang di Indonesia yang meninggal setelah vaksin Covid-19 adalah keliru. Tidak ada bukti atau laporan yang mendukung klaim tersebut.

Menurut misinformasi dan disinformasi yang dikategorikan First Draft, informasi tersebut termasuk dalam kategori Misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
 
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

----

Cek Fakta TIMES Indonesia

TIMES Indonesia adalah media online yang sudah terverifikasi faktual di Dewan Pers. Dalam kerja melakukan cek fakta, TIMES Indonesia juga bekerja sama dengan 23 media nasional dan lokal, untuk memverifikasi berbagai informasi hoaks yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA TIMES Indonesia di email: [email protected] atau [email protected] (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Fakta atau hoaks?
Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini.

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES