Cek Fakta Fakta atau Hoaks

CEK FAKTA: Salah, Terapi Pijat untuk Anak Lambat Bicara

Senin, 06 Juni 2022 - 09:45 | 149.83k
CEK FAKTA: Salah, Terapi Pijat untuk Anak Lambat Bicara
Hoaks video cara mengatasi masalah lambat pada anak bicara dengan terapi pijat.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beredar video tentang pijat terapi untuk mengatasi masalah delay speech (lambat bicara) pada anak. 

Video tersebut memperlihatkan seorang anak yang dipijat pada bagian wajah dan telinga. Terdengar suara dalam video yang menunjukkan tata cara pemijatan mulai dari bibir, dagu, pipi, hingga telinga.

Video tersebut diunggah akun Facebook Dedeh Griya Sunnah (https://www.facebook.com/dedehm2) pada 17 Mei 2022. 

Adapun narasi yang diposting menyertai video sebagai berikut:
Terapi Pijat untuk Anak Delay Speech (Lambat Bicara)

Hingga Sabtu (4/6/2022) pukul 10.00 WIB, video tersebut telah dibagikan sebanyak 8 kali oleh sejumlah akun Facebook lainnya. 

cek-fakta-Anak-terlambat-Bicara.jpgSumber: https://www.facebook.com/dedehm2/videos/419099740035312/

Benarkah informasi tersebut?

CEK FAKTA

Berdasarkan penelusuran Cek Fakta TIMES Indonesia, informasi yang dibagikan dalam video dan narasi yang menyertainya, keliru. Hal tersebut merupakan klaim tidak berdasar. Belum ada penelitian yang membuktikan pijat terapi dapat mengatasi lambat bicara atau delay speech pada anak. 

Informasi serupa pernah beredar pada tahun 2019 lalu. Melansir dari kompas.com, dokter spesialis anak dari RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, Catharine Mayung Sambo memberikan penjelasan terkait konten dalam video tersebut. 

Ia mengungkapkan belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa tindakan seperti dalam video dapat mengatasi keterlambatan kemampuan bicara anak.

“Kalau untuk pencet telinga untuk terapi lambat bicara sih sepanjang pengetahuan saya belum ada penelitiannya,” ujar dr. Mayung.

Menurut dia, anak yang mengalami lambat bicara dan berbahasa, bisa dioptimalkan dengan cara sering diajak mengobrol, dibacakan cerita, dan diajak menyanyi.

"Kalau distimulasi dengan cara sering diajak ngobrol, diajak nyanyi atau main bersama timbal balik tanpa memencet telinga ya lama-lama akan bicara juga," ujar Mayung.

Dr Mayung mengungkapkan, perkembangan bicara biasanya dimulai dari anak belajar produksi suara terlebih dahulu sebelum mengucap kata-kata.

Adapun proses mulai mengoceh tanpa konsonan (mengucap "ooo, aaa") dikenal sebagai cooing yang biasanya dialami bayi dengan usia 3-4 bulan.

Selanjutnya, selama pertumbuhan bayi atau pada usia 7-9 bulan, bayi berada pada tahap mulai mengucap "mamam", "papa", atau "dadada".

"Saat bayi memanggil 'papa' hanya ke papa-nya saja berarti bayi tersebut mulai mengerti papanya yang mana. Kondisi ini kira-kira bayi umur 1 tahun," ujar dr Mayung.

Sementara, untuk penyebutan kata tunggal yang bukan panggilan, biasanya diucapkan bayi ketika berumur 15 bulan dan merangkai kalimat yang mencakup dua kata ketika berumur 2 tahun.

cek-fakta-Anak-terlambat-Bicara-2.jpgSumber: Viral Video Terapi Pijat Telinga Atasi "Delay Speech" pada Anak, Ini Penjelasan Dokter | Kompas

Pemeriksaan atas klaim serupa telah dilakukan kompas.com dalam artikelnya berjudul "[HOAKS] Terapi Pijat Muka dan Telinga untuk Anak yang Lambat Bicara". Kesimpulannya, narasi mengenai pijat terapi muka dan telinga untuk anak yang lambat bicara adalah hoaks.

cek-fakta-Anak-terlambat-Bicara-3.jpgSumber: [HOAKS] Terapi Pijat Muka dan Telinga untuk Anak yang Lambat Bicara | Kompas

KESIMPULAN

Hasil penelusuran Tim Cek Fakta, , informasi yang dibagikan dalam video dan narasi yang menyertainya, salah. Faktanya, belum ada penelitian yang membuktikan pijat terapi dapat mengatasi lambat bicara atau delay speech pada anak. Dokter spesialis anak menyatakan bahwa merangsang kemampuan berbicara pada anak dapat dioptimalkan dengan cara sering diajak mengobrol, dibacakan cerita, dan diajak menyanyi.

Menurut misinformasi dan disinformasi yang dikategorikan First Draft, informasi tersebut termasuk dalam kategori Misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

----

Cek Fakta TIMES Indonesia

TIMES Indonesia adalah media online yang sudah terverifikasi faktual di Dewan Pers. Dalam kerja melakukan cek fakta, TIMES Indonesia juga bekerjasama dengan 24 media dan satu komunitas (Mafindo) untuk memverifikasi berbagai informasi hoaks yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA TIMES Indonesia di email: [email protected] atau [email protected] (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Fakta atau hoaks?
Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini.

TERBARU

KOPI TIMES