Advertisement
Ekonomi

Kisah Abdul Syukur, Pengusaha Meubel dari Bahan Peti Bekas

Mau belajar dan percaya dengan kemampuan sendiri menjadi falsafah hidup Abdul Syukur (40) dalam menjalani hidup dan menekuni usaha mebelnya.

TIMES Indonesia,
Kisah Abdul Syukur, Pengusaha Meubel dari Bahan Peti Bekas
Abd Syukur saat sedang mengerjakan orderan peralatan akikahan di Workshopnya di Jalan Cipto mangunkusumo eks Jalan Pupuk Raya Jumat 26/7/2019 ( Foto: Kusnadi /TIMES Indonesia)
A-AA+

BONTANG Mau belajar dan percaya dengan kemampuan sendiri menjadi falsafah hidup Abdul Syukur (40) dalam menjalani hidup dan menekuni usaha meubel di Kota Bontang. 

Pria yang akrab disapa Syukur ini mengawali usaha bersama seorang rekannya. Mereka merintis dari nol. Order awalnya datang dari rekan dan teman yang mengenal mereka saja. 

Advertisement

Pengrajin-Kayu-2.jpg

Sejak tahun 2008, dengan menggunakan rumah orangtua di dalam gang di jalan Kapal Layar Kelurahan Loktuan Bontang, ia memulai seriusi usahanya.

Dengan belajar otodidak belajar dari buku dan internet, membuat ia bisa menghasilkan pesanan yang memuaskan pelanggannya. Akhirnya pelanggan datang kembali lagi dan mempercayakan kepadanya sejumlah desain untuk dibuat. 

Pesanan kala itu berupa kursi dan meja unik ala kafe seperti lemari kecil, cermin, rak sepatu hingga rak buku yang berbahan baku kayu peti bekas. 

Bahan baku yang ia dapat dari Bontang dan Samarinda selama ini ia yakini tidak mengalami kendala berarti.

Advertisement

"Justru lebih murah ambil bahan kayu peti dari Samarinda dibandingkan bahan lain seperti HPL," ungkap syukur kepada Bontang TIMES kala ditemui di tempat workshopnya di Jalan Cipto Mangunkusumo, eks Jalan Pupuk Raya, Jumat (26/7/2019) siang.

Syukur mengaku, ia dan temannya siap saja mengerjakan orderan baik yang mudah maupun yang sulit desainnya. Namun ketika lokasi usahanya yang masih sulit terjangkau saat itu, membuat banyak yang tidak tahu. Menurutnya, hal ini membuat usahanya saat itu berjalan biasa saja. 

"Apa aja cuma karena banyak yang ndak tau tempat kami jadi terbatas yang pesan," ujar Syukur kepada Bontang TIMES. 

Tak lama berselang, Syukur kemudian memindahkan tempat usaha ke lokasi baru. Tempat ia dan rekannya menjalani usaha mebel saat ini.

Pengrajin-Kayu-3.jpg

Syukur merasakan perbedaan drastis dalam penerimaan omset usaha mebel yang diberi nama Pandawa Interior itu. "Di tempat yang lama, omset perbulannya 15 juta sekarang 40 sampai 50 juta," jelasnya. 

Ia pun bersyukur dengan capaiannya saat ini banyak orang yang membantunya salah satunya tempat usahanya yang terletak di Jalan Cipto Mangunkusumo eks Jalan Pupuk Raya saat ini tidak disewa alias gratis. 

"Ini tempatnya Pak Irfan, anggota dewan itu, saya dikasih gratis," ujarnya. 

Begitu juga dengan dukungan empat orang karyawannya yang juga memulainya dari nol hingga bisa menjadi terbiasa mengerjakan orderan yang tidak hanya mebel itu. "Alhamdulillah sekarang 4 orang, 1 desianer, 1 HPL, 1t ukang las yang bantuin saya," ujarnya. 

Pria yang lahir dan besar di Bontang ini masih belum punya rencana untuk mengembangkan usahanya ke depan. Dari uang yang diperolehnya, ia atur untuk memenuhi keperluan konsumennya dalam meminta berbagai macam jenis barang yang kadang baru bagi mereka. 

"Sekarang kami sedang mengerjakan kursi besi dan pesanan peralatan pesta perkawinan dan akikahan bahkan kitchen set, padahal dulu kami nda tahu," jelas Abdul Syukur(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Kusnadi
PenulisKusnadiSarjana Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (1997). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 Meliput berbagai topik dan isu termasuk politik, hukum, umkm,ekonomi kreatif, wisata, olahraga hingga seni dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia