Kerajinan Pelepah Pinang dari Desa Mendis Diminati Hingga Jakarta
Anda mungkin tahu pelepah pinang, selama ini sering dianggap sampah bagi kalangan petani di Desa Mendis, Bayung Lencir, Sumatera Selatan

PALEMBANG – Anda mungkin tahu pelepah pinang, selama ini sering dianggap sampah bagi kalangan petani di Desa Mendis, Bayung Lencir, Sumatera Selatan. Lokasi Desa tersebut sekitar 8 jam perjalanan darat dari Kota Palembang.
Mereka sering tidak memiliki pilihan lain selain membakarnya bila mulai tampak merusak pemandangan dan hanya beberapa lembar saja yang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga semacam penutup tempayan. Namun saat ini warga yang bermukim di kawasan hidrologis gambut sungai merang ini mulai memanfaatkannya untuk pembuatan piring, kotak nasi.
Wisatawan dapat membelinya sebagai buah tangan sedangkan pemerintah setempat akan menjadikannya produk utama pengganti wadah plastik dan stereofoam.
Menurut Ketua Koperasi MMB Supriyanto kerajinan ini sudah memenuhi permintaan sebuah restoran di Jakarta.
"Mereka sangat tertarik untuk oleh-oleh bahkan mereka ada yang minta dikirim piring dan kotak nasi sebanyak 2500 biji," katanya.
Untuk memproduksi peralatan makan dari pelepah pinang tidak terlalu sulit. Sebelum dicetak menggunakan mesin press pelepah dicuci bersih menggunakan air. Selanjutnya dikeringkan baik menggunakan pemanas elektrik maupun secara manual di bawah terik matahari.
Selanjutnya dilakukan pemotongan sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Kemudian pelepah ditaruh ditempat penyimpanan bahan baku atau bisa langsung di cetak.
"Sebelum cetak, pelepah harus dibasahi agar lebih lentur dan tidak gampang sobek, tidak perlu dipelitur karena dia mengkilat secara alami," imbuhnya.
Persedian bahan baku terbilang mencukupi dari sekitar desa Mendis. Namun jika kekurangan pihaknya mendatangkan bahan baku langsung dari Jambi yang berjarak sekitar 2 jam dari Mendis.
"Pada tingkat petani, kita membelinya Rp300-400 per lembar berukuran lebar minimal 25 cm. Setiap lembar bahan bisa dijadikan maksimal 2 produk. Setelah melalui berbagai pentahapan produksi, piring dan sendok pelepah siap dipasarkan dengan harga mulai dari Rp. 1500 - 1800 setiap bijinya," terang Ketua Koperasi pengelola kerajinan ini.
Lanjut Supriyanto, dalam sebulan kalau cuaca bagus pihaknya bisa produksi hingga 50 ribu biji sebulannya.
Sementara itu Wijaya Asmara, Comunity Bussines Development Specialist, Kelola Sendang ZSL Indonesia menjelaskan pihaknya memberikan pendampingan dari hulu hingga hilir agar masyarakat tidak lagi memandang pelepah pinang sebagai sampah.
Selain itu, pendampingan berupa pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan dilakukan untuk mengurangi ketergantungan warga dari pemanfaatan hasil hutan secara illegal seperti perambahan dan membuka dengan cara membakar.
"Karya warga Mendis sudah kami daftarkan pada kantor Kementerian hukum dan HAM," katanya.
Sementara Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza meminta kepada OPD muba untuk melakukan pemberdayaan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat warga Mendis.
"Jika ini dimaksimalkan bisa mengurangi angka kemiskinan dan ramah lingkungan," kata Ketua Lingkar Temu Kabupaten Lestasi ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


