Budidaya ayam petelur, Kelompok Ternak Marhaen Sediakan Telur Ayam Segar Buat Warga Desa Bale
Gerakan ekonomi kreatif yang dimotori pemuda Desa Bale Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan (Tikep) patut dijadikan contoh untuk sarjana muda di Maluku Utara.

TERNATE – Gerakan ekonomi kreatif yang dimotori pemuda Desa Bale Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan (Tikep) patut dijadikan contoh untuk sarjana muda di Maluku Utara. Gerakan ini mendirikan kelompok ternak Marhaen untuk melakukan budidaya ayam petelur.
Kini Kelompok ternak ayam yang digagas Sumitro Jafar itu mulai laris dipesan oleh kalangan ibu-ibu pembuat kue lebaran tahun ini. Selain ibu-ibu, para pedagang di Desa Bale juga ikut memesan telur ayam untuk dijual kembali kepada masyarakat setempat.

Kepada TIMES Indonesia, sarjana Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar (PGSD) UMMU Ternate itu menceritakan, ternak ayam yang ia dirikan terdorong dari masaalah kelangkaan sembako khususnya telur ayam ras di daerah pedalaman seperti di Kecamataan Oba dan daerah kepulauan di Maluku Utara.
Karena tidak memiliki kecakapan dibidang peternakan, Sumitro kemudian mengajak tiga pemuda desa Bale lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Kota Tikep jurusan peternakan untuk bersama-sama mendirikan Kelompok Ternak Marhaen tersebut.
"Jadi saya ajak Siti H. Sahril, Sadam Hamadan dan Surni Sabda untuk mendirikan kelompok ternak. karena mereka tak punya biyaya untuk lanjut study. Tujuannya menggerakan ekonomi kreatif di Desa Bale," kata Sumitro ketika dihubungi TIMES Indonesia pada, Kamis (14/5/2020).
Walaupun belum semua ayam petelur mencapai masa produksi, namun kata Sumitro untuk bulan ketujuh nanti diperkirakaan kelompok ternak Marhaen akan meraup keuntungan hingga ratusan juta rupiah karena semua ayam petelur siap untuk bertelur.
Namun begitu, untuk mewujutkan ide budidaya ayam petelur di Desa Bale Sumitro mengaku tak memiliki biyaya sepersen pun. Akan tetapi melalui angggaran pemberdayaan pemuda dari dana desa tahun 2019, Pemerintah Desa Bale mengalokasikan anggaran sebesar Rp 100 Juta rupiah.
"Alhamdulillah dari dana itu kami bangun kandang ukuran 7x10 dan pengaadan DOC/bibit ayam petelur sebanyak 400 ekor ayam termasuk masa perawatan selama 6 bulan," ujarnya.
Untuk pemasaran telur ayam, rencananya kelompok ternak Marhaen akan memanfaatkan pasar malam di desa bale yang digelar sekali dalam seminggu. Mereka juga akan pemanfaatan media sosial seperti facebook, whatshap dan instagram untuk memperkenalkan dan memasarkan telur ayam kepada masyarakat Maluku Utara.
Walaupun demikian, sasaran utama yang jadi target pemasaran kelompok ternak Marhaen diutamakan untuk pedagang kecil yang ada di desa Bale maupun desa-desa tetangga di daratan Oba dengan tawaran harga yang cukup terjangkau.
"Sementara ini ayam belum semuanya bertelur tunggu bulan ketujuh. Tapi yang terjual enceran sudah 90 butir dan 16 rak. Harga di tokoh 3 butir Rp 10 ribu, jadi kami jual perbutir Rp 2500 dan per rak Rp 60 ribu," ujarnya.
Jalur suplai telur ayam ras selama ini diketahui didatangkan oleh para pedagang di Kota Ternate dari Kota Surabaya dan kota Makassar. Namun suplai telur ayam tersebut sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan telur ayam bagi masyarakat di Maluku Utara termasuk masyarakat desa Bale.
Dengan hadirnya budidaya ayam petelur oleh kelompok ternak Marhaen tentu diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam menikmati telur ayam segar dari hasil kreatifitas pemuda desa Bale. Hal ini juga menurut Sumitro harus menjadi motivasi bagi pemuda desa di era digital 4.0 dalam mengemas ilmunya untuk kemerdekaan ekonomi kreatif masyarakat lokal di daerah masing-masing. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

