Mengenal Lia Dwi Purwanti, Perajin Boneka Rajut Tunarungu Asal Blitar
Lia Dwi Purwanti berkarya di meja sederhana yang terletak di pojok ruang tamu rumahnya. Meja berukuran 1x2 meter itu penuh dengan berbagai peralatan menjahit termasuk sejumlah hasil karyanya.

BLITAR – Lia Dwi Purwanti berkarya di meja sederhana yang terletak di pojok ruang tamu rumahnya. Meja berukuran 1x2 meter itu penuh dengan berbagai peralatan menjahit termasuk sejumlah hasil karyanya.
Lia merupakan penyandang tuna rungu. Namun ia memiliki semangat yang kuat untuk tetap berkarya. Ia membuat boneka rajut mulai dari ukuran besar, sedang, hingga paling kecil.
Lia, begitu sapaan akrabnya, menyandang tunarungu sejak lahir. Untuk berkomunikasi, ia harus menggunakan bahasa isyarat. Dalam kesempatan kali ini, Times Indonesia dibantu oleh adiknya, Widya Wahyuningsih untuk berkomunikasi dengan Lia.

"Hari-hari mbak Lia selalu diisi dengan merajut. dia telaten banget juga memiliki semangat yang luar biasa," kata Widya, Jumat (5/2/2021).
Widya mengutarakan, kakaknya mendapatkan keterampilan merajut ketika duduk di bangku sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) pada 2011. Merajut menjadi salah satu materi ketrampilan pembelajaran para siswa di SMALB tersebut.
"Setelah lulus SMA, mbak Lia banyak menghasilkan rajutan, seperti boneka untuk aksesori gantungan kunci, tas rajut, dan boneka berukuran jumbo," urainya.
Boneka rajut Lia bahan utamanya adalah dakron yang dilapisi dengan untaian benang rajut policeri. Boneka yang dibuat sesuai karakter yang diinginkan konsumen. Paling banyak karakter kartun-kartun ternama.
Menurut Widya, kakaknya menggunakan perhitungan rumus dalam membuat boneka rajut. Perhitungan rumus itu agar boneka yang dihasilkan lebih presisi.
"Kata Mbak memang ada ilmunya. Itu yang dia pelajari waktu sekolah. Biasanya sebelum merajut Mbak Lia mengggambar dulu dan hitung rumus," jelasnya menerjemahkan bahasa isyarat yang diungkapkan sang kakak.
Selama ini, Lia memanfaatkan media sosial untuk pemasaran karyanya. Biasanya, Lia juga dibantu Widya untuk memasarkan, karena lia terkendala dalam berkomunikasi dengan pelanggan.
Hasil karya rajutan Lia sudah terjual hingga luar daerah seperti Semarang dan Solo. Ada juga pelanggan lokal.
"Hampir setiap hari dia selalu merajut. Entah mengerjakan pesanan orang atau untuk menambah stok. Namun, permintaan boneka rajut sekarang menurun. Mungkin karena Corona," urai Widya.
Lebih lanjut Widya katakan, satu karakter boneka rajut, biasanya dikerjakan 4-5 hari, tergantung tingkat kerumitannya. Untuk harga pun bervariasi mulai dari Rp 75 sampai Rp 150 ribu, tergantung ukuran dan juga tingkat kerumitan.
"Selain menjual boneka rajut, mbak Lia juga menjual produk lain. Seperti tas rajut dan konektor masker hijab yang sekarang banyak diminati," adik kandung Lia Dwi Purwanti ini.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


