Advertisement
Ekonomi

Kisah Inspiratif, Usaha Servis Komputer Jinjing di Tasikmalaya

Sebagai bentuk kepedulian kepada para pekerja yang dirumahkan selama pandemi Covid-19, seorang warga menginisiasi membangun wirausaha baru. Ia membuka pendidikan keterampilan servis komputer jinjing bagi masyarakat tanpa menarif biaya.

TIMES Indonesia,
Kisah Inspiratif, Usaha Servis Komputer Jinjing di Tasikmalaya
Indah Sabila, siswi pendidikan keterampilan servis komputer jinjing mengikuti pembelajaran di workshop milik Susanto (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

TASIKMALAYA Sebagai bentuk kepedulian kepada para pekerja yang dirumahkan selama pandemi Covid-19, seorang warga menginisiasi membangun wirausaha baru. Ia membuka pendidikan keterampilan servis komputer jinjing bagi masyarakat tanpa menarif biaya.

Susanto (36), ayah dua anak warga Villa Perdania No. R2 Kelurahan Setiamulya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya ini bercita-cita mencetak wirausahawan dan wirausahawati yang tak perlu mengeluarkan modal besar. Ide dan gagasannya itu muncul dari pengalamannya yang sempat terpuruk di sisi ekonomi.

Advertisement

Beberapa-siswa-melakukan-praktek-servis-komputer-jinjing.jpg
Beberapa siswa melakukan praktek servis komputer jinjing di workshop milik  Susanto di Villa Perdania, Kota Tasikmalaya (FOTO: Harniwan Obech/Times Indonesia)

Berbekal pengalaman yang telah menempanya bertahun-tahun dengan beragam upaya untuk bertahan hidup, kini ia ingin berbagi pengalaman dengan orang-orang yang pernah bernasib serupa dengan dirinya. Sekarang dia berbagi ilmu kepada generasi muda yang masih menganggur agar bisa menjalankan usaha menjual jasa servis komputer jinjing.

Putra kedua dari pasangan Kimin Sumanto (61) dengan Atmi Indrawati (48) ini telah berhasil mencetak 28 orang anak didik yang kini telah mandiri membuka usaha sendiri di lingkungan masing-masing. Pendidikan keterampilan yang diinisiasi Susanto semakin meluas karena tersebar dari mulut ke mulut.

Tak hanya itu, karena merasa terpanggil oleh anak-anak dan orang tua yang kesulitan membeli kuota untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ), Susanto akhirnya berinisiatif membangun sistem RT/RW net. Sistem tersebut merupakan jaringan internet nirkabel yang bisa dijangkau oleh sejumlah pengguna dan radius terbatas.

Untuk bisa mendapat akses jaringan internet yang mampu menjangkau sekitar 200 rumah di sekitar lingkungan tersebut, Susanto menjual akses dengan sistem voucher. Voucher ia jual Rp3.000 dengan akses internet maksimal 3 jam penggunaan. Sistem RT/RW itu cukup membantu warga di sana, terutama yang memiliki anak yang wajib mengikuti PJJ setiap hari.

Advertisement

disulap-menjadi-sebuah-workshop-servis-komputer-jinjing.jpg
Susanto berada di ruang tengah rumahnya  berukuran 3x4 meter yang disulap menjadi sebuah workshop servis komputer jinjing (FOTO: Harniwan Obech/Times Indonesia)

Kepedulian-kepeduliannya kepada masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, papar Susanto, karena ia terlahir dari keluarga pas-pasan. Sang ayah, Kimin Sumanto saat dirinya kecil bekerja sebagai buruh pabrik bata di Kampung Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat.

Separuh waktu yang mestinya dimanfaatkan untuk bermain di masa anak-anak tambah Susanto, tak sempat ia nikmati karena setiap pulang sekolah harus membantu ayahnya mencetak bata.

Namun perjuangan dan doa seorang ayah, tak menyurutkan semangatnya untuk membekali anaknya dengan pendidikan. Pada tahun 2006 Susanto mendaftar untuk menuntut ilmu di Universitas Siliwangi, Fakultas Ekonomi, Jurusan Managemen. Sayangnya, di perguruan tinggi itu Susanto terpaksa keluar karena pihak fakultas tidak mengikutkannya dalam Ujian Akhir Semester akibat menunggak biaya kuliah sebesar Rp 3,8 juta.

Keinginan yang kuat untuk tetap menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi terus mendorong Susanto tak menyerah berusaha keras. Pada 2007, ia kemudian mendaftar ke Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMIK) Tasikmalaya.

Ia bersemangat kuliah di sana karena biayanya lebih murah, saat itu hanya Rp1.925.000 per semester. Meskipun selalu menunggak tiap semester, ia tetap berhasil menjadi seorang sarjana komputer dengan IPK 3,25.

Keuletan Susanto juga membuahkan prestasi, sehingga pihak STIMIK memberi kesempatan untuk mengabdi di perguruan tinggi tersebut dengan menjadi dosen. Dia juga mendapat kesempatan melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Dian Nuswantoro Program Beasiswa Unggulan 2 Jawa Barat tahun 2011. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia