Menengok Lahan P2L Madiun Lor, Ada Magot dan Kangkung Mini
Pekarangan pangan lestari (P2L) yang dikelola warga Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun memiliki potensi ekonomi cukup tinggi.

MADIUN – Pekarangan pangan lestari (P2L) yang dikelola warga Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun memiliki potensi ekonomi cukup tinggi. Warga setempat menggunakan lahan mepet bantaran Kali Madiun itu untuk budidaya tanaman produktif dan magot.
Magot adalah larva lalat tentara hitam yang digunakan untuk campuran pakan ternak terutama ikan dan unggas. Budidaya magot terbilang mudah dan pangsa pasar cukup besar.
"Untuk pemeliharaan mulai dari telur hingga larva siap panen sekitar 1 bulan," ujar Sofyan, warga Jalan Borobudur Gang IV RT 10/RW 2 Kelurahan Madiun Lor.
Budidaya magot membutuhkan peralatan berupa kandang lalat tentara hitam dan dan media bertelur. Makanan untuk lalat dan larva adalah limbah organik bisa berupa sisa makanan atau sayur. "Tidak usah membeli bisa dari limbah rumah tangga," kata Sofyan.

Saat panen, magot dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram. Kandungan protein cukup tinggi membuat magot baik untuk pakan ikan, burung, ayam dan unggas lainnya.
Lahan P2L warga RT 10/RW 2 yang berada di bawah rerumpunan bambu juga ditanami aneka sayur mayur dan tanaman produktif lainnya. Salah satunya yang unik adalah kangkung mini.
"Bibitnya kangkung biasa tetapi menanamnya pakai teknik micro green," jelas Risnani Fasilitator CSR 3R di Kelurahan Madiun Lor.
Berbeda dengan cara bertanam kangkung umumnya, media tanam kangkung mini adalah sekam dan sabut kelapa. Pemeliharaan tanaman tidak menggunakan pupuk atau penyubur lainnya. Cukup disemprot air saja.

"Umur 10 hari kangkung sudah bisa dipetik dan dikonsumsi," jelas Riris panggilan akrab Risnani.
Karena ditanam secara organik, kangkung mini bisa dikonsumsi mentah untuk lalap. Kandungan kolagen pada kangkung cukup baik untuk menjaga kesehatan kulit.
Hasil dari P2L yang di Kelurahan Madiun Lor tidak hanya dikonsumsi sendiri tetapi juga dipasarkan. Tanaman sayur seperti terong, cabe, sawi dijual ke warga sekitar yang membutuhkan. "Dari luar juga ada yang beli karena kita tawarkan lewat medsos," ujar Tri Mardiana, Lurah Madiun Lor.
Meskipun hasil panen belum berlimpah, diharapkan P2L di Kelurahan Madiun Lor bisa berkembang dan bisa memberi penghasilan bagi warga. Apalagi sudah ada bantuan program CSR dari Pertamina Madiun berupa bibit dan peralatan budidaya magot dan pengolahan kompos. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


