Advertisement
Ekonomi

Maulid Nabi di Tengah Pandemi, Pedagang Kembang Telur di Banyuwangi Banjir Rejeki

Maulid Nabi Muhammad SAW nampaknya menjadi momentum warga Banyuwangi untuk mengais rejeki. Betapa tidak, para pedagang kembang telur (kembang endog) itu kebanjiran pesanan.

TIMES Indonesia,
Maulid Nabi di Tengah Pandemi, Pedagang Kembang Telur di Banyuwangi Banjir Rejeki
Tradisi endog-endogan di Banyuwangi (Foto : Dokumentasi TIMESIndonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Maulid Nabi Muhammad SAW nampaknya menjadi momentum warga Banyuwangi untuk mengais rejeki. Betapa tidak, para pedagang kembang telur (kembang endog) itu kebanjiran pesanan.

Meski orderan tak sebanyak pada tahun sebelum pandemi Covid-19, namun setidaknya bisa membantu perekonomian masyarakat Banyuwangi di tengah sulitnya mencari rejeki.

Advertisement

Seperti salah satu pedagang yang berada di Desa Gendoh Kecamatan Sempu, Jumati. Dia mengaku hampir setiap tahun menjelang maulid nabi, selalu membuat ribuan kembang endhog untuk dijual ke warga.

"Dua bulan sebelumnya kami sudah menyiapkan ribuan kembang endhog yang siap jual ke pelanggan. Ini untuk antisipasi lonjakan permintaan," kata Jumati.

“Rata-rata yang beli ke saya itu adalah pelanggan tetap. Meraka para pedagang juga, yang nantinya untuk dijual lagi kepada warga lainnya,” imbuhnya.

Tradisi-endog-endogan-2.jpg

Awalnya Jumati sempat ragu membuat kembang endhog, karena khawatir perayaan Maulid Nabi tidak seramai dulu karena pandemi.

Advertisement

“Tapi Alhamdulillah penjualan tahun ini meningkat,” ungap Jumati.

Jumati tak mematok mahal harga kembang endognya. Hanya mulai Rp 30 ribu per 100 biji untuk yang motif biasa dan Rp 80 ribu per 100 biji untuk motif bagus.

“Motif tergantung pesanan,” terang Jumati.

Dia bersyukur penjualan kembang endog tahun ini terdongkrak oleh menurunnya status level PPKM di Banyuwangi. Jumati berharap level tersebut terus turun agar perekonomian masyarakat Banyuwangi dapat kembali normal.

Sebagai informasi, kembang endhog merupakan rangkaian pernak pernik hias yang biasanya berbentuk bunga mawar dan lainnya.

Telur atau endhog yang sudah dihias itu merupakan sarana yang harus ada dalam tradisi ‘endhog-endhogan’ yang biasa digelar suku osing dan masyarakat lain di Banyuwangi, saat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizki Alfian
PenulisRizki Alfian Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia