Generasi Milenial Cirebon Diharapkan Memiliki Minat Menjadi Petani Milenial
Jumlah petani di Indonesia saat ini kian menyusut, berkurangnya jumlah petani yang produktif bukan hanya akan berimbas pada aspek ekonomi saja, tetapi juga akan menimbulkan isu lingkungan.

CIREBON – Jumlah petani di Indonesia saat ini kian menyusut, berkurangnya jumlah petani yang produktif bukan hanya akan berimbas pada aspek ekonomi saja, tetapi juga akan menimbulkan isu lingkungan.
Tidak adanya regenerasi petani ini menjadi kondisi yang mengkhawatirkan. Dimana para generasi muda lebih menyenangi profesi sektor manufaktur atau jasa dan pekerjaan di bidang lainnya selain pertanian.
Petani dianggap sebagai pekerjaan yang kuno, kotor, pekerjaan bagi orang Desa dan hanya diperuntukkan bagi orang tua. Provinsi Jawa Barat melalui Program Petani Milenial, diharapkan mampu mengajak generasi kaum milenial untuk turut serta menumbuh kembangkan petani muda khususnya di Jawa Barat.
Mengingat, Pertanian merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, saat ini Pertanian tengah mengalami kurangnya regenerasi. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani menurun dan petani muda hanya 6 persen atau 2,7 juta dari total petani di Tanah Air saat ini yang berjumlah 38,77 juta jiwa.

Termasuk di Kabupaten Cirebon, dimana Cirebon awalnya merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Barat. Namun, seiring berjalannya waktu regenerasi petani di wilayah Cirebon tidak berjalan dan menyisakan petani berusia 40 tahun ke atas.
Sejalan dengan program petani Milenial, Bupati Cirebon Imron mendorong generasi milenial di Kabupaten Cirebon, memiliki minat menjadi petani. Hal tersebut lantaran sektor pertanian terbukti tidak terpuruk akibat pandemi (Covid-19).
"Saya adalah keluarga petani, terbiasa bertani dan waktu itu petani muda sangat banyak. Tetapi, berkembangnya zaman, profesi petani mulai ditinggalkan anak muda karena dianggap kurang menjanjikan,"ujar Imron, Selasa (9/11/2021).
Menurutnya, regenarasi petani perlu dilakukan lantaran kebutuhan pangan yang terus meningkat. Bila proses regenerasi tidak berjalan, dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan."Kalau generasi milenial tidak tertarik, nanti akan membeli kebutuhan pangan dimana,"ucapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar menyampaikan, Sektor Pertanian merupakan salah satu kekuatan perekonomian. Program Petani Milenial diadakan untuk mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian Jawa Barat yang memiliki inovasi, gagasan, dan kreativitas.
"Jika tidak ada upaya regenerasi, dikhawatirkan 10 tahun ke depan terjadi krisis pangan. Apalagi Jawa Barat ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 48,2 juta jiwa,"katanya.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, petani milenial akan menggerakkan kewirausahaan bidang agrikultur yang menjadikan wajah pertanian menjadi lebih segar dan atraktif untuk bisa berkelanjutan di Jawa Barat.
"Jumlah petani di Jawa Barat saat ini mencapai angka 3.665.050. Dari jumlah tersebut, hanya 11,11 persen berusia di bawah 30 tahun. Jumlah ini masih relatif kecil,"jelasnya.
Lanjut ia, Program petani Milenial diharapkan dapat menyelesaikan masalah keterbatasan tenaga kerja sehingga bisa meningkatkan produktivitas dan mencapai swasembada pangan."Seperti kata Pak Gubernur Jabar, tinggal di desa, rejeki kota, bisnis mendunia,"pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

