Kisah Pembuat Gula Aren Tradisional di Ngawi, Prosesnya Tak Semanis Rasa Gula
Jika mencari gula aren yang asli dan murni, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih ada pembuatnya. Adalah Mikin Harsono (74), warga Desa Kletekan, Kecamatan Jogorogo, yang ...

NGAWI – Jika mencari gula aren yang asli dan murni, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih ada pembuatnya. Adalah Mikin Harsono (74), warga Desa Kletekan, Kecamatan Jogorogo, yang sudah puluhan tahun memproduksi gula aren secara tradisional.
Mikin setiap hari memproduksi gula aren. Tidak banyak, hanya empat hingga enam keping gula aren sebesar cetakan setengah lingkaran tempurung kelapa. Itu pun tergantung banyak atau tidaknya tetesan air nira yang berhasil dikumpulkan dari tiga pohon enau yang dia miliki.
"Membuat gula aren sudah puluhan tahun, sejak belum menikah, masih muda dulu sudah terbiasa menyadap nira," katanya kepada TIMES Indonesia, Sabtu (12/3/2022).
Untuk memproduksi gula aren, proses yang harus dilalui Mikin tak semanis rasa gula produksinya. Perlu perjuangan dan lika-liku yang panjang hingga gula aren siap dinikmati, baik untuk peneman minum kopi pahit, ataupun sebagai bahan masakan.
Proses dimulai dari menyadap nira dari pohon enau. Setiap pagi dan sore hari, Mikin harus keluar masuk hutan untuk mengambil nira. Pohon enau milik Mikin tumbuh di kawasan hutan perhutani. Lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Mikin Harsono saat memanjat pohon enau untuk mengambil nira. (Foto: M.Miftakul/TIMES Indonesia)
Mikin hanya berjalan kaki saat mengambil nira. Sambil memikul empat hingga enam perian dari bambu, Mikin berjalan menyusuri jalan setapak yang kadang licin karena hujan.
"Pagi di pasang, sorenya di ambil, setiap hari seperti itu," katanya.
Setibanya di lokasi pohon enau tumbuh, Mikin kemudian memanjat dibantu tangga dari bambu. Meskipun sudah berumur, tapak kaki Mikin masih terlalu kuat menapaki titian tangga yang hanya berupa lubang-lubang seukuran sepertiga kaki.
Tetesan air nira yang sudah terkumpul dalam perian, kemudian dia turunkan. Diganti perian baru yang masih kosong. Tidak lupa, Mikin juga membersihkan tandan bunga pohon enau, sumber nira menetes. Agar, tandan itu tidak dikerubuti semut atau serangga lainnya.
Selesai menyadap air nira, Mikin lantas pulang. Kembali menyusuri jalan setapak, dengan sepikul perian berisi nira hasil sadapan.
Sesampainya di rumah, istri Mikin, lantas mulai memproses pembuatan gula aren. Air nira segera diolah. Jika terlalu lama disimpan, nira akan berasa asam, tidak manis lagi, dan akan mempengaruhi kualitas gula aren.
"Kalau disimpan dalam kulkas sebenarnya bisa agak lama, tapi saya tidak punya kulkas, jadi langsung dimasak," katanya.
Nira hasil sadapan setelah disaring, kemudian dituangkan dalam kuali. Lalu dimasak diatas tungku kayu dengan api sedang dan sesekali diaduk. Proses memasak membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Nira yang telah mencapai tingkat kekentalan tertentu, kemudian diangkat untuk dicetak dalam tempurung kelapa setengah lingkaran.
"Kalau sampai keras, lama, bisa dari subuh sampai siang proses pengerasannya," jelas dia.
Gula aren yang sudah mengeras, kemudian diangin-anginkan. Lalu dibungkus dengan daun jati, dan disimpan dalam wadah tertutup.
Gula aren produksi Mikin bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Mikin membuat gula aren secara alami. Hanya nira ditambah secang yang dimasak kemudian menjadi gula aren.

"Ditambah sari kayu secang agar gula berwarna kuning kemerahan, semuanya alami, tanpa tambahan lainnya," ujarnya.
Satu keping gula aren setengah lingkaran tempurung kelapa, dijual Mikin hanya Rp50 ribuan. Cukup murah dengan berat satu keping sekitar 1 kilogram lebih.
Selama memproduksi gula aren, Mikin juga tidak pernah kerepotan dalam memasarkan. Para pelanggan yang datang sendiri ke rumah untuk membeli gula aren buatan Mikin.
"Yang membeli biasanya langsung datang ke rumah. Tidak pernah dijual ke pasar, mereka datang sendiri," kata Mikin Harsono warga Ngawi pembuat gula aren tradisional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

