Ekonomi

Dampak Kenaikan Harga BBM, Sopir Angkot di Pacitan Menjerit

Selasa, 06 September 2022 - 11:29 | 31.91k
Imbas BBM Bersubsidi naik, sejumlah supir angkot di kawasan terminal taksi Arjowinangun Pacitan resah hingga tak dapat penumpang. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Imbas BBM Bersubsidi naik, sejumlah supir angkot di kawasan terminal taksi Arjowinangun Pacitan resah hingga tak dapat penumpang. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Imbas kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) Bersubsidi) rupanya juga dirasakan oleh sejumlah sopir angkot di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur lantaran biaya operasional membengkak. 

Dari 120an unit angkutan umum, kini yang masih bertahan beroperasi hanya sekitar 20 kendaraan. Hari pasaran Wage dan Legi pun tak kurang dari separuhnya saja. 

Advertisement

Meski demikian, tarif jasa transportasi umum antar desa antar kecamatan ini belum ada kenaikan, misalnya rute Arjosari-Pacitan masih tetap, yakni Rp10 ribu per penumpang. 

"Kalau bisa jangan dinaikkan dulu, karena dampaknya benar-benar terasa. Sampai sekarang kami belum menaikkan tarif. Sekali jalan dapat empat penumpang sudah bagus," ujar supir angkot di wilayah Terminal Arjowinangun, Bagiyo (51), Selasa (6/9/2022). 

Senada dikatakan supir Angkudes Pacitan, Sulistyono (48). Dengan adanya kenaikan harga BBM tersebut, ternyata juga berimbas pada pembengkakan biaya operasional termasuk perawatan ban dan ganti oli. 

"Sekarang saja harga ban roplak vulkanisir yang tadinya Rp220 ribu naik jadi Rp245 ribu per biji. Oli mesin Rp110 ribu jadi Rp130 ribu sekali ganti. Padahal perawatan mesin juga harus rutin," terangnya kepada TIMES Indonesia. 

Sementara itu, menurut sopir jasa angkut pedagang pasar Arjowinangun, Sunaryo (52) mengaku pendapatannya semakin merosot tak sebanding dengan mahalnya kebutuhan hidup sehari-hari. 

"Sejak Covid -19 sampai sekarang pendapatan belum stabil. Anak sekolah, istri minta jatah bulanan. Ditambah harga BBM naik. Duh," jelasnya. 

Selain itu, supir truk angkutan kayu, Kalis Widagdo (42) juga merasakan imbas dari kenaikan harga BBM jenis solar tak sebanding dengan harga kayu yang masih stagnan. 

"Hidup enggak, matipun segan, perkayuan harganya biasa, jasa angkut naik, biaya tenaga kuli naik, pokoknya semakin suram ini. Tolonglah, pemerintah perhatikan nasib kami," ucapnya menanggapi kenaikan harga BBM Bersubsidi di Pacitan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES