Ekonomi

CEO Torch, Ben Wirawan Ceritakan Sukses Bisnis Produk Travelling asal Bandung

Sabtu, 24 September 2022 - 11:41 | 19.79k
CEO Torch, Ben Wirawan. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)
CEO Torch, Ben Wirawan. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Usai dua tahun berdiam diri menghadapi pandemi, banyak orang yang kangen liburan. Tak heran bila banyak yang mencari peralatan atau kebutuhan untuk traveling. Salah satu yang bisa Anda pilih adalah produk lokal asal Bandung yaitu Torch.

 Torch menjamin kualitasnya terjaga baik. Produknya pun terus berinovasi, sesuai dengan tagline-nya Innovative Travel Goods. Bahkan, Torch mengedepankan hasil yang progresif.

Advertisement

"Tim kami memiliki nilai-nilai di Torch atau the value yakni Connectorch. Penjabaran sederhananya seperti, kepalanya harus inovatorch, mulutnya harus inspiratorch, tangannya harus colaboratorch, kakinya harus akseleratorch, mendorong temannya untuk maju. Hatinya harus navigatorch artinya dia percaya ada the greater being," papar CEO Torch Ben Wirawan.

 Menurut pria yang akrab disapa Om Ben, Torch memiliki komposisi tim SDM terbagi menjadi 20% generasi X, sisanya generasi Z dan W.

Mengapa ada pembagian tersebut? Karena, menurut Om Ben, pada setiap generasi ada kelebihannya. Misalnya, generasi X seperti Om Ben, harus memiliki pengalaman dan jejaring yang bisa Torch optimalkan. "Selebihnya, SDM yang ada di Torch harus suka baca," terang Om Ben.

 Aktif membaca, lanjut Om Ben, membuat seseorang mendapatkan banyak masukan dan memiliki banyak pemikiran baik yang akan menghasilkan inovasi.

Inovasi itulah yang menjadi salah satu nilai dari Torch. Jika nilai baik ini konsisten diterapkan, tentunya kemajuan perusahan akan lebih cepat dibandingkan dengan SDM yang tidak mau menambah 'isi' pikirannya. 

 Torch dibentuk berdasarkan 'pengalaman' Om Ben sebelumnya yang pernah bekerja di perusahaan besar, salah satunya Shafira. Dirinya paham bagaimana pendiri perusahaan dan para pemimpinnya menjalankan roda perusahaan dengan luar biasa.

"Saya jadi paham bagaimana memimpin dan membentuk perusahaan seperti sekarang ini. Dulu waktu saya jadi karyawan di perusahaan lain, saya belajar mengenai cara pandang membesarkan perusahaan. Jadi, saya tahu Torch akan sebesar apa karena di tempat dulu, saya terbiasa bekerja dengan tekanan dan target yang besar," jelas Om Ben.

Om juga juga berkonsultasi dengan beberapa mentor dan coach, sehingga banyak mendapatkan ilmu dan wawasan dari mereka. "Mereka pun sangat mendukung usaha saya sejak awal pendirian Torch, saya harus mendapatkan hal tersebut. Alhamdulilah, ini bisa berhasil," paparnya.

Torch bisa terbilang perusahaan kecil yang sehat. Dalam kurun waktu perjalanan 7 tahun, plus didera badai pandemi, Torch tetap bisa menghasilkan profit.

Jejaring sebanyak 20 mitra yang tersebar di Pulau Jawa dan kepercayaan kemitraan menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki  Torch.

Tak heran, dengan 'amunisi' seperti ini, membuat Torch tidak mengurangi jumlah karyawan. Pasalnya, operasional perusahaan dan SDM masih bisa ditangani. Bahkan, di masa pandemi, muncul produk baru yang dihasilkan Torch. 

Torch selama ini juga selalu membina kemitraan. Tidak hanya dengan maklon produksi tetapi juga dengan gudang/distributor hingga pengiriman.

Sehingga, ketika ada order dari marketplace, gudang dan distributor yang akan mengeksekusi order tersebut. Tim hanya melihat dan memantau order tersebut terealisasi.

Inilah yang membuat Torch, sebagai usaha yang ramping tapi sehat. Tak terbayang jika pengiriman, gudang dan lainnya ditangani Torch, dibutuhkan karyawan yang lebih banyak dari yang ada saat ini.

Pola seperti ini adalah pola usaha kekhususan. Om ben bercerita bagaimana ia bisa membesarkan Torch bersama tim karena fokus terhadap bidang keahlian yang dikuasainya.

Kreatif desain adalah fokusnya, kepemimpinan, mampu mempengaruhi orang lain, dan dominan, membuat Torch bisa berjalan sampai saat ini

Om Ben bercerita, selama 7 tahun Torch berjalan, baru 1 tahun belakangan ini ia bisa kembali kepada passion dirinya yakni mobilitas, mencari ide inspiratif, membina jaringan, dan bertemu banyak mentor.

Manajemen dan staf sudah berjalan seiring dengan sistem internal. Belum lagi, dukungan dari tim membuat, Om Ben leluasa untuk bisa mengembangkan Torch lebih jauh.

CEO-Torch-b16912be3ea5c5aea.jpgTorch terus berinovasi dengan menampilkan beragam produk. (Foto: torch.id)

Kalau Anda berkesempatan mengunjungi kantor Torch di Bandung, begitu masuk ke bagian dalam, yang terasa adalah aura produktif para karyawan, kefokusan dan kesan serius tapi santai terlihat jelas.

Mereka tampak 'cair' berinteraksi satu sama lain. Bahkan, Om Ben sendiri berada di ruangan yang sama, tanpa sekat dengan staf yang lain.

"Kami ingin bekerja tanpa sekat agar setiap koordinasi dan komunikasi bisa langsung dijalankan. Tidak perlu ada formalitas yang nantinya malah membuat kaku hubungan antar karyawan di sini. Apalagi, usaha produk kreatif seperti di Torch membutuhkan banyak 'ruang' untuk bisa leluasa mendapat inputan." tutur Om Ben.

"Lihat, seorang COO pun tampak begitu serius dalam menganalisis tren atau grafik demand (permintaan) produk sementara tim yang lain menjelaskan," sambungnya.

Bahkan, bila ada satu tim yang sedang rapat, karyawan lain yang tidak ikut rapat bisa saja memberikan ide atau gagasan. Ia bisa saja langsung urun rembuk perihal yang sedang dibahas rapat tim tersebut.

"Ini bisa jadi hal yang tidak biasa dilakukan di tempat lain. Di Torch, kami bahkan menganjurkan untuk sefleksibel mungkin agar ide, gagasan untuk kemajuan perusahaan tak terhenti," jelas bapak 3 anak ini pemilik bisnis produk travelling asal Bandung ini. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES