Ekonomi

Waspada, Inflasi Diprediksi Melonjak pada Akhir Tahun

Kamis, 06 Oktober 2022 - 13:14 | 19.07k
Waspada, Inflasi Diprediksi Melonjak pada Akhir Tahun
Suasana Pasar Prawirotaman Kota Yogyakarta. (FOTO: A Riyadi/TIMES Yogyakarta)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Yogyakarta, Kadri Renggono mengatakan pada September lalu angka inflasi di Yogyakarta tercatat sebesar 6,81 persen (year to year/yoy).

Angka itu dinilainya paling tinggi sepanjang 2022 ini. Pemicunya adalah kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak).

"Kalau perkiraan BPS (Badan Pusat Statistik) dan Pemda DIY, itu tidak sampai berlanjut ke triwulan I. Apalagi kita sebentar lagi menghadapi liburan, kemungkinan naik lagi dan masih di angka 6 persen. Tapi, tidak sampai 7 persen karena berbagai faktor," kata Kadri, Kamis (6/10/2022).

Menurutnya, secara umum angka inflasi yang berada di atas 6 persen tersebut belum mempengaruhi indeks investasi dan penyaluran kredit. 

"Kami berusaha agar masyarakat miskin ini tidak terbebani dengan kenaikkan harga sehingga ada program BLT kan fungsinya dua selain mengurangi beban juga menambah daya beli," jelas Kadri.

Namun demikian, Pemkot Yogya tetap mewaspadai lonjakan inflasi di pengujung tahun jelang masuknya masa liburan panjang. Diprediksi angka inflasi akan melonjak naik di atas 6 persen karena terpengaruh kenaikan sejumlah harga barang dan jasa.

Kadri menyebutkan, berbagai intervensi dari pemerintah seperti penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) dan pengadaan sembako murah diharapkan bisa menekan angka inflasi.

Lebih lanjut, Kadri menambahkan faktor-faktor lain di setiap wilayah dan kondisi global memang sulit dihindari, sehingga membuat harga-harga bahan pokok melonjak. Misalnya saja seperti beras, kedelai dan beragam komoditas ekspor tercatat masih berada di harga yang signifikan.

"Saat ini, upaya kami ya masih sebatas kerja sama dengan daerah lain seperti Kabupaten Sleman dan Kulonprogo untuk beberapa komoditas. Saat mereka kelebihan produksi dan di kota kurang itu ya jangan dipasok ke daerah lain dulu, masuk ke Jogja untuk mengendalikan harga," ujarnya.

Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) Pemerintah Kota Yogyakarta, Sri Riswanti menyampaikan kondisi harga-harga kebutuhan pokok di Yogyakarta terbilang stabil tinggi.

Namun, secara rata-rata nasional harganya masih bisa dijangkau oleh warga. "Harga-harga kita itu memamg stabil tinggi. Fluktuasi dengan kenaikan BBM tidak signifikan. Maksud stabil tinggi itu masih di atas HET, tetapi secara nasional, DIY cukup terjangkau," imbuh Sri Riswanti.

Per Selasa (4/10/2022), harga sejumlah kebutuhan pokok cenderung stabil. Misalnya beras yang berada di harga Rp11.500 per kilogram untuk jenis IR2 dan Rp11.0000 untuk jenis IR2.

Sementara komoditas cabai rawit berada di angka Rp 25.000 per kilogram. Hanya saja, pihaknya juga mewaspadai kemungkinan lonjakan harga cabai lantaran mulai masuknya musim hujan.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY pada September 2022 tercatat 1,05 persen (mtm). Dengan capaian tersebut, secara tahunan inflasi DIY pada 2022 berada pada level 6,81 persen (yoy). Pada akhir Triwulan III 2022, DIY alami inflasi setelah sebelumnya alami deflasi secara bulanan.

Namun demikian, capaian inflasi bulanan DIY lebih rendah dibandingkan provinsi lainnya di Jawa (DKI Jakarta (1,21 persen; mtm), Jawa Barat (1,21 persen; mtm), Banten (1,12 persen; mtm), Jawa Tengah (1,19 persen; mtm), Jawa Timur (1,23 persen; mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Budiharto Setyawan mengatakan berdasarkan disagregasinya, inflasi DIY pada September 2022 didorong kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan kelompok inflasi inti (core inflation), sementara kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) mengalami deflasi.

Inflasi terutama bersumber dari dampak langsung kenaikan harga tarif bahan bakar kendaraan. Di sisi lain komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan minyak goreng melanjutkan deflasi, menahan laju inflasi yang lebih tinggi.

"Adanya penyesuaian harga ikut mempengaruhi daya beli masyarakat. Hal ini tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada level 124,8, masih optimis meskipun tidak setinggi bulan sebelumnya yaitu 139,1.

Tertahannya keyakinan konsumen juga terpantau pada seluruh kategori pengeluaran, terutama pada responden dengan pengeluaran Rp 3,1 juta - Rp 4 juta," paparnya, Rabu (5/10//2022).

Menurut Budiharto, dari kelompok administered price, inflasi terbesar disebabkan meningkatnya harga tarif bensin subsidi. Selaras dengan kenaikan harga minyak dunia, pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian harga bensin subsidi dan nonsubsidi per 3 September 2022.

"Adanya peningkatan harga ini berdampak langsung terhadap kenaikan tarif kelompok transportasi lainnnya seperti angkutan antar kota da kendaraan roda dua online," tandasnya.

Sementara itu dari kelompok volatile food secara bulanan, Budiharto mengungkapkan mengalami deflasi. andil inflasi terbesar berasal dari komoditas hortikultura, yakni bawang merah dan cabai merah, yang masing-masing menyumbang andil -0,04 persen (mtm).

Harga bawang merah di tingkat konsumen mengalami penurunan seiring dengan panen di daerah sentra didukung cuaca yang kondusif. Selain itu, permintaan juga menurun pasca berlalunya periode festive season dan berlibur.

"Secara keseluruhan, inflasi DIY tahun 2022 diprakirakan meningkat dibandingkan tahun 2021. Prakiraan ini utamanya disebabkan permintaan domestik yang membaik dan transmisi harga global ke domestik yang berlanjut," jelasnya.

Dalam rangka antisipasi risiko inflasi, BI bersama dengan TPID DIY terus melakukan serangkaian kegiatan untuk memastikan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES