Ekonomi

Pisang Aroma Bandung, Merintis UMKM Saat Pandemi

Jumat, 07 Oktober 2022 - 06:21 | 42.01k
Pisang Aroma Bandung, Merintis UMKM Saat Pandemi
Rahmat Sutisna, pelaku UMKM Pisang Aroma Bandung. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Pandemi Covid-19 telah memukul semua sektor kehidupan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Sebaliknya, lapangan pekerjaan menyempit. Banyak perusahaan kelimpungan mencari dana segar untuk bisa mempertahankan bisnisnya. Namun, di tengah karut-marut itu, menjadi peluang bagi UMKM, salah satunya Pisang Aroma Bandung

Adalah Rahmat Sutisna pemilik usaha Pisang Aroma Bandung yang dulunya seorang pensiunan sopir dari sebuah kantor konsultan di Bandung. Ia harus berputar otak agar kelangsungan hidup diri dan keluarganya bisa terus berlangsung. Bekerja di sektor swasta bagi seorang yang sudah berumur tidak bisa diharapkan Apalagi, profesi sebagai sopir adalah suatu pekerjaan umum yang rata-rata orang bisa melakukannya. 

Berat tentulah berat. Terlebih, bila harus melihat situasi dan kondisi dimana anak masih duduk di SMK. Rahmat terus berputar otak. Kanal video online jadi tumpuannya. Setiap pembelajaran keahlian mengenai usaha terus dicarinya dan dipraktekkan. Jam demi jam dihabiskan, saat di rumahnya mencoba keilmuan baru jadi sebuah kegiatan rutin.

Pisang-Aroma-Bandung-2.jpgProduk Pisang Aroma Bandung. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

Intinya adalah bagaimana bisa tetap hidup dan kehidupan tetap berlangsung bersama orang-orang tersayang. Bagaimana ia bisa tetap menyekolahkan putra satu satunya tanpa membebani orang lain.

"Bersyukur, saya memiliki teman yang mau menolong agar terlepas dari kesulitan hidup. Menganggur itu satu kepastian bila saya di PHK dari pekerjaan sopir ini,” papar Rahmat. 

Sebelum di-PHK, Rahmat memang selalu mencari berbagai video keterampilan yang banyak tersebar. Lalu, ia simpan dan dipelajari. Rahmat tak menyia-nyiakan kesempatan waktu masih bekerja di kantor konsultan. Adanya Wifi gratis membuat ia leluasa berselancar mencari video yang yang diinginkan.

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah berbekal pelatihan dari berbagai video itu, dengan tekad kuat, akhirnya pisang aroma menjadi pilihan bisnisnya. Tak perlu tenaga besar, biaya pun bisa diperhitungkan. Ia bersama istri mendapat dukungan dari teman kerja. Sebuah tempat di pinggir jalan komplek Panyileukan Bandung dipilihnya. Ia berharap produk yang dibuatnya menjadi tumpuan harapan dan ramai pembelinya. 

Tak lama waktu berselang, pembeli pun banyak yang suka dengan rasa pisang aroma yang dibuatnya. Mereka memuji rasa yang enak. Belum lagi varian pisang aroma menjadikan pembeli bisa memilih sesuai seleranya. 

Pisang aroma Bandung ini memiliki beragam varian. Rasa keju, cokelat, dan rasa original jadi pilihan banyak pembeli. Apalagi di hari Minggu atau hari besar seperti Idul Fitri, Rahmat sering kebanjiran order.  “Dalam satu hari, bisa terjual 400 pisang aroma,” ujar Rahmat.

Pisang-Aroma-Bandung-3.jpgKedai Pisang Aroma Bandung milik Rahmat Sutisna. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

Rahmat menjual pisang aroma dengan harga Rp5.000 untuk 4 pisang aroma. “Jadi harga 1 pisang aroma itu Rp1.250,”ulasnya. Maka dengan terjualnya 400 pisang aroma, berarti total omzetnya dalam sehari mencapai Rp500 ribuan. 

“Sementara. untuk modal harian seluruhnya berkisar Rp300 ribuan. Jadi, sebanyak Rp200 ribu bisa kami bawa pulang ke rumah. Tentu, Rp200 ribu itu masih keuntungan kotor karena belum dipotong dengan operasional. Tapi, Alhamdulilah, kegiatan ini bisa untuk ibadah sambil menunggu maut menjemput,” papar Rahmat dengan mimik serius. 

Rahmat paham, mengingat usianya  yang tidak muda, usaha pisang aroma ini sudah mencukupi. Ia bisa mendapatkan penghasilan, setidaknya membiayai putra semata wayangnya yang masih sekolah di SMK. “Jangan pernah menyerah, selalu berharap dan berusaha,”ulas Rahmat. 

Ia bersyukur, istrinya selalu mendukung atas apa yang diusahakannya untuk mengembangkan UMKM berupa produk Pisang Aroma Bandung. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES