Ekonomi

Duduki Peringkat 3 Nasional, Ekonomi DIY Triwulan III 2022 Tumbuh 5,82 Persen

Selasa, 08 November 2022 - 21:41 | 17.27k
Duduki Peringkat 3 Nasional, Ekonomi DIY Triwulan III 2022 Tumbuh 5,82 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY. (FOTO: Dok. BPS DIY)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTAPerekonomian DIY triwulan III 2022 tumbuh 5,82 persen (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya yang tumbuh 2,31 persen. Pertumbuhan ekonomi di triwulan ini didukung peningkatan kinerja hampir di seluruh kategori lapangan usaha kecuali jasa kesehatan.

Kondisi ini mencerminkan perekonomian DIY selama kumulatif Triwulan III 2022 semakin meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2021, sekaligus menunjukkan penguatan perekonomian yang terus berlanjut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Sugeng Arianto menjelaskan seiring dengan perkembangan aktivitas pariwisata, ekonomi DIY tumbuh relatif lebih cepat dibandingkan dengan provinsi lain se-Pulau Jawa. Pada Triwulan III 2022 ini, pertumbuhan ekonomi DIY berada pada peringkat secara nasional setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

“Tiga kategori tumbuh di atas 20 persen, yaitu kategori jasa lainnya 28,26 persen, disusul kategori transportasi dan pergudangan 24,96 persen dan penyediaan akomodasi dan makan minum 20,22 persen. Selanjutnya pengadaan listrik, gas dan air bersih juga tumbuh relative tinggi mencapai dua digit sebesar 12,74 persen," tuturnya, Selasa (8/11/2022).

Sugeng mengungkapkan, dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri dan pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga tercatat sebagai komponen dengan pertumbuhan tertinggi pertama dan kedua, dengan pertumbuhan masing-masing 10,34 persen dan 8,80 persen. Perekonomian DIY berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan III 2022 mencapai Rp41,51 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp28,03 triliun.

"Struktur perekonomian DIY pada triwulan ini didominasi industri pengolahan 11,86 persen, disusul konstruksi 10,45 persen dan informasi dan komunikasi 10,40 persen. Selanjutnya pertanian dan penyediaan akomodasi dan makan minum, masing-masing 9,44 persen dan 9,43 persen,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, tidak ada pergeseran struktur PDRB dari 5 kontributor terbesar, hanya urutannya saja yang berbeda. Sementara dari sisi pengeluaran kontribusi terbesar tercatat pada komponen konsumsi rumah tangga 61,41 persen diikuti komponen pembentukan modal tetap bruto 32,28 persen.

“Dibanding triwulan II 2022, perekonomian DIY tumbuh 0,42 persen (qtq). Lapangan usaha yang tumbuh paling tinggi adalah konstruks 10,16 persen, diikuti jasa pendidikan 7,97 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 4,66 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen dengan pertumbuhan tertinggi adalah PMTB 2,90 persen dan pengeluaran konsumsi pemerintah 2,81 persen," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua ISEI Cabang Yogyakarta, Amirullah Setya Hardi, mengaku optimisme Perekonomian DIY menjelang akhir tahun 2022 dinilai masih menunjukkan optimisme apabila indikatornya dilihat dari pergerakan kunjungan pariwisata. Hal tersebut didukung dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke DIY yang akan terus berlangsung sampai akhir 2022. Sangat dimungkinkan apabila indikatornya adalah orang yang datang sebagai salah satu penggerak perekonomian di DIY.

“Ekonomi kita memang terbuka, maka ada satu hal yang perlu diantisipasi terutama apa yang dijual di DIY memiliki ketergantungan dengan daerah lain. Semisal terkait kuliner roti berbahan gandum, jika yang mengganggu supply-nya maka kita harus bersiap dengan itu. Karena DIY tidak bisa memenuhinya sendiri,” jelasnya.

Amir menyatakan DIY adalah sebuah melting pot produk apapun dari luar yang masuk ke DIY nilai tambahnya meningkat berkat daya sentuh untuk mengemas produk yang saleable sehingga menjadi keunggulan DIY.

Berbicara isu adanya resesi, maka DIY masih bisa agak sedikit optimisme melihat kondisi tersebut. Namun tanpa mengesampingkan apa yang menjadi kekhawatiran Pemerintah Pusat perihal santernya isu resesi.

“Mengingat beberapa sudah masuk di stuckflasi dimana inflasi mulai tinggi dan ada kecenderungan perlambatan ekonomi karena beberapa hal. Stuckflasi jika dilihat cukup berat jika ini terus terjadi dan apabila sampai mengglobal. Pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi mempengaruhi gerak langkah perekonomian DIY terutama dari sisi produksi. Dengan inflasi yang tinggi pasti akan menghajar daya beli masyarakat. Apabila keduanya terjadi pada saat yang bersamaan dimungkinkan masalah yang sangat serius," ungkapnya.

Wakil Dekan FEB UGM tersebut menegaskan sekali lagi di tengah kekhawatiran munculnya resesi masih tetap muncul optimisme terjadi pertumbuhan ekonomi. Optimisme ini juga didukung tidak semua hal tergantung dari pihak luar. Terlebih apabila supply chain terganggu tentu telah disiapkan antisipasinya.

“Saya rasa dengan lesson learn dari krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia sebelumnya, kita salah satu negara yang bisa survive dari pengaruh eksternal shock. Tetapi kali ini agak beda dengan adanya pandemi Covid-19 yang tidak bisa dihindari akibatnya perekonomian terkontraksi. Belum selesai kita kena episode baru kekhawatiran stabilitas eksternal seperti perang Rusia dengan Ukraina. Sehingga perlu diantisipasi, waspada tetap dilakukan," terang Amir.

Menurutnya, kekhawatiran yang amat sangat ini akan mempengaruhi perilaku dan ekspektasi yang pastinya akan berpengaruh pada tindakan yang akan dipilih. Bank Indonesia (BI) sendiri sudah menetapkan BI 7 Days Repo Rate di angka 4,75  persen. Makna dari peningkatan suku bunga acuan adalah sinyal kepada masyarakat di masa yang akan datang inflasi dimungkinkan tinggi.

"Jika inflasi tinggi maka kita persiapkan sekarang. Caranya dengan mengurangi jumlah uang yang beredar. Harapannya akan berada pada tingkat yang ditargetkan karena inflasi tidak boleh terlalu rendah dan terlalu tinggi," imbuh Amir. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES