Ekonomi

Presiden RI Jokowi Kaget, Banyak Negara yang Ketergantungan Pada Indonesia 

Minggu, 04 Desember 2022 - 16:11 | 25.49k
Presiden RI Jokowi. (FOTO: Setkab RI)
Presiden RI Jokowi. (FOTO: Setkab RI)

TIMESINDONESIA, JAKARTAPresiden RI Jokowi (Joko Widodo) mendorong agar potensi besar yang dimiliki Indonesia mulai dari kekayaan sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM) yang diwarnai bonus demografi hingga pasar bebas digunakan dalam membangun strategi untuk mewujudkan negara maju.

"Kekuatan inilah yang harus kita ingat-ingat terus dalam rangka membangun sebuah strategi besar, bisnis negara, strategi besar ekonomi negara, agar kita bisa mencapai visi yang kita inginkan," kata Presiden RI Jokowi dikutip TIMES Indonesia dari laman resmi Setkab RI, Minggu (4/12/2022).

Advertisement

Presiden RI Jokowi menyampaikan, berdasarkan tantangan yang ia lakukan terdapat sejumlah negara yang bergantung pada komoditas dari Indonesia.

"Siapa sih yang tergantung kepada kita? Ternyata banyak sekali. Begitu batubara kita stop dua minggu saja, yang telepon ke saya banyak sekali kepala negara, perdana menteri, presiden. Oh ini tergantung, tergantung, kok banyak sekali? Saya kaget juga," jelas Presiden RI Jokowi.

Hal serupa juga terjadi saat Indonesia menghentikan ekspor minyak sawit mentah atau CPO dan turunnya beberapa waktu lalu. Kata dia penggantian itu karena pemerintah mengutamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. 

"Begitu juga minyak, CPO, begitu kita stop karena saya harus stop, banyak pertanyaan dari luar, dari IMF, dari Bank Dunia, 'kenapa stop? Iya karena dalam negeri hilangnya barangnya. Saya harus utamakan rakyat saya dulu, saya sampaikan," katanya.

Presiden Jokowi juga mendorong agar Indonesia menghasilkan produk-produk yang menciptakan ketergantungan dari negara lain. Salah satunya adalah baterai untuk kendaraan listrik.

"Kita tetap membuka ekonomi kita, keterbukaan ekonomi. Tetapi sekali lagi, harus kita bisa mendesain negara lain tergantung pada kita, harus. Jangan sampai kita hanya menjadi cabang," ujarnya.

Hadapi Perekonomian Global Tahun 2023

Selain itu, Presiden Jokowi juga meminta kepada jajaran pemerintah untuk tetap optimis dalam menghadapi situasi perekonomian global tahun 2023 yang penuh ketidakpastian.

"Betul-betul siap atas segela berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, yang tanpa kita prediksi, yang tanpa kita hitung, semuanya kita harus siap. Bukan hanya untuk mampu bertahan, tetapi juga bisa memanfaatkan setiap peluang yang ada," katanya.

Ia juga mengapresiasi semua pihak yang telah bekerja keras untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak perekonomian dunia. "Di tengah situasi ekonomi dunia yang sedang bergejolak, alhamdulilah ekonomi kita termasuk yang terbaik," jelasnya.

Bahkan, lanjut dia, Managing Director dari IMF mengatakan, di tengah dunia yang gelap, Indonesia adalah titik terang. "Ini adalah kerja keras kita semua," katanya.

Ia pun memaparkan soal indikator menunjukkan perekonomian Indonesia yang cukup menggembirakan tahun ini. Di kuartal II-2022 ekonomi Indonesia tumbuh 5,44 persen dan di kuartal III-2022 mampu tumbuh lebih baik, yakni 5,72. "Tingkat inflasi masih cukup terkendali di sekitar 5 persen. Terakhir saya mendapatkan angka 5,8 persen," jelasnya.

Indikator lainnya, kata dia, volume perdagangan Indonesia menunjukkan pertumbuhan hingga 58 persen. Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus selama 30 bulan berturut-turut.

"Kita tetap harus waspada, hati-hati. Semuanya harus memiliki perasaan yang sama bahwa keadaan sekarang ini, utamanya global, ekonomi global memang tidak berada pada posisi yang normal, tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja," tegas Presiden RI ke-7 ini. 

Minta Perhatikan Tiga Hal

Dalam hal itu, Presiden Jokowi menekankan tiga hal yang harus menjadi perhatian dalam menghadapi kondisi global itu. Pertama, adalah soal ekspor. Ia mengatakan, nilai ekspo Indonesia yang tahun lalu dan sekarang melompat sangat tinggi dapat mengalami penurunan di tahun mendatang terdampak situasi perekonomian di sejumlah mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok dan Uni Eropa.

"Ekspor kita ke sana juga gede banget. Ekspor kita ke Tiongkok itu gede banget. Ke Ini Eropa juga gede. Oleh sebab itu, hati-hati," katanya.

Kedua, soal investasi. Ia menilai, upaya reformasi struktural yang dilakukan oleh Indonesia mendorong timbulnya kepercayaan dari para investor. Ini kata dia, harus diikuti oleh implementasi yang benar di lapangan.

"Dilihat bahwa kita memang ingin membangun sebuah cara-cara kerja baru, kita ingin membangun sebuah mindset baru, itulah yang menimbulkan trust dan kepercayaan terhadap kita," jelasnya.

Ia menyampaikan, tahun depan Indonesia terget investasi yakni Rp 1.400 triliun atau meningkat dari tahun 2021 yang sebesar Rp 900 triliun dan tahun 2022 sebesar Rp 1.200 triliun.

Meski tidak mudah, lanjut dia, ia yakin pemerataan pembangunan yang dilakukan di seluruh tanah air akan mampu menarik minat para investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Lalu ketiga, Presiden RI Jokowi menekankan pentingnya untuk menjaga konsumsi rumah tangga yang sangat berdampak pada produk domestik bruto atau PDB nasional. "Hati-hati mengenai pasokan pangan, hati-hati mengenai pasokan energi, yang harus betul-betul kita jaga agar konsumsi rumah tangga ini tetap tumbuh dengan baik," ujarnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES