Ekonomi

Ratusan Ton Ikan Air Tawar dan 'Chue' dari Abdya Aceh Tembus Pasar Perdagangan Sumut

Jumat, 09 Desember 2022 - 14:54 | 37.44k
Kolam milik Karpi, pembudidaya ikan di daerah pegunungan Banjarnegara Utara. (FOTO: Muchlas Hamidi/TIMES Indonesia)
Kolam milik Karpi, pembudidaya ikan di daerah pegunungan Banjarnegara Utara. (FOTO: Muchlas Hamidi/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, ACEH BARAT DAYA – Selain dikenal sebagai daerah penghasil jengkol unggul nasional, ternyata Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh juga menjadi salah satu produsen ikan air tawar di pasar perdagangan Medan, Sumatera Utara.

Tidak tanggung-tanggung, dalam kurun waktu satu tahun, kabupaten berjuluk 'bumoe breuh sigupai' ini mampu memproduksi ratusan ton ikan segar, baik dari budidaya ikan air tawar di kolam, ikan air payau di tambak, dan di perairan umum.

Advertisement

"Berdasarkan data yang kita peroleh, sejak bulan Januari hingga Juni 2022 lalu tercatat hasil produksi budidaya ikan air tawar mencapai 435 ton," kata Chalid Hardani, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Abdya, Jumat (9/12/2022).

Dia menerangkan, ratusan ton ikan air tawar tersebut dihasilkan oleh 2.995 petani atau pembudidaya aktif yang ada di Kabupaten Abdya. Sebahagian ikan air tawar ini, kata Chalid, telah tembus dan bisa dipasarkan di pasar perdagangan Sumatera Utara (Sumut).

"Oleh pedagang juga dipasarkan ke Medan, Sumut. Namun juga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan rumah makan di Abdya, " katanya

Jika dikalkulasikan, tambah Chalid, untuk persemester atau enam bulan bisa menghasilkan ikan air tawar sebanyak 435 ton, maka dalam waktu satu tahun hasil ikan air tawar dari kabupaten bertuan tanah Teungku Peukan itu diperkirakan mencapai 870 ton.

Namun, menurutnya, hasil tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan potensi lahan perikanan di Kabupaten Abdya. Untuk budidaya ikan air tawar (kolam) saja, Kabupaten Abdya memiliki lahan 1.746 hektar, dan potensi budidaya ikan air payau yang luasnya mencapai 783 hektar.

"Itu belum lagi Mina padi. Jadi, lahan kita cukup luas, hanya saja pemanfaatan masih kurang. Dari Januari sampai Juni 2022 ini baru ada sekitar 1.231 hektar, baik tambak, kolam dan program mina padi di sawah," jelasnya.

Chue-2.jpgKarung berisi siput chue muara Lama Tuha akan dibawa ke Medan, Sumut (FOTO: T. Khairul Rahmat Hidayat/TIMES Indonesia)

Chalid mengatakan, kurangnya pemanfaatan lahan untuk kolam budidaya ikan air tawar dan tambak budidaya ikan air payau tersebut, bisa jadi disebabkan karena faktor masyarakat pemilik lahan keterbatasan modal usaha.

"Apalagi proses pembuatan kolam dan tambak budidaya ikan ini kan harus mengunakan excavator dan butuh biaya besar, mungkin bisa jadi mereka keterbatasan modal untuk itu," katanya.

Padahal, tambah dia, sumber air untuk kebutuhan budidaya kolam dan tambak di Kabupaten Abdya sangat melimpah, baik di Kecamatan Manggeng, Tangan-Tangan maupun kecamatan lainnya.

"Jika semua lahan yang berpotensi itu di manfaatkan secara keseluruhan, tentu ekonomi masyatakat menjadi lebih meningkat ditambah lagi jika prospek pasarnya bagus dan cerah," ucapnya.

Selain itu, lanjut Chalid pemilik lahan juga kurang berminat membuka usaha budidaya tersebut karena disebabkan faktor pasar. Penyebabnya, setelah pasca panen, pembudidaya tidak memiliki akses pasar untuk menjual hasil produksinya.

"Kebutuhan konsumsi masyarakat Abdya terhadap ikan air tawar juga masih rendah, terkecuali ikan air payau jenis lele sedangkan jenis lain kurang," katanya.

Potensi Chue di Kabupaten Abdya

Chue-3.jpgChue atau siput serut hitam (FOTO: T. Khairul Rahmat Hidayat/TIMES Indonesia)

Tidak hanya ikan air tawar saja, berdasarkan data yang dimiliki TIMES Indonesia, Kabupaten Abdya juga memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah ruah, baik di darat maupun di air. Salah satunya siput sedut hitam yang hidup di muara Kawasan Industri Surin (KIS) Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee.

Bagi masyarakat di Provinsi Aceh, hewan ini lebih dikenal dengan sebutan Chue, namun secara umum di Indonesia, warga menyebutnya siput air tawar, tutut, atau siput sedut hitam, yang biasanya dijadikan sebagai lauk pauk untuk makanan.

Ternyata, selain dimanfaatkan sebagai olahan hidangan, oleh warga setempat, biota air yang memiliki cangkang keras ini juga dijadikan sebagai komoditas, yang saat ini diketahui telah tembus hingga ke pasar perdagangan Medan, Sumut.

Terutama kaum ibu-ibu yang tinggal di daerah pedalaman Kabupaten Abdya itu, mereka memanfaatkan Chue sebagai sumber mata pencaharian, untuk membantu memenuhi dan meningkatkan perekonomian keluarga.

Meureudom (35) misalnya, dia mengaku setiap kali mengumpulkan Chue di muara Lama Muda, ia bisa memperoleh cuan hingga mencapai Rp300 ribu. Hal itu membuktikan bahwa siput yang berbentuk kerucut tersebut, mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Kami mengumpulkannya ini untuk dijual, dari hasil jual dapatlah sedikit uang untuk membantu membeli kebutuhan hidup keluarga. Rata-rata, perhari dapat mengumpulkan Chue 20 karung," kata Meureudom, Senin (29/8/2022).

Menjawab pertanyaan awak media terkait harga pasar, dia mengatakan bahwa harga siput hitam atau bernama latin Mollusca itu berkisar pada angka Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per karung isi 15 kilogram.

Dia menambahkan, kualitas atau rasa Chue Lama Tuha lebih gurih dan manis, sehingga banyak peminat dari dalam dan bahkan dari luar Provinsi Aceh yang telah memesan biota air itu kepada agen dengan jumlah yang bervariasi.

"Chue ini dibeli oleh tauke untuk di kirim ke Kota Banda Aceh dan ke Medan, Sumatera Utara. Banyaknya permintaan karena katanya Chue di muara kita rasanya lebih nikmat daripada Chue muara lain," ucap Mereudom.

Tapi, tambah Mereudom, kegiatan mengumpulkan siput itu tidak dilakukannya setiap hari. Karena menurut pengumpul Chue di Abdya Aceh ini, ada waktu tertentu yang menentukan puncak panen, yaitu di saat musim penghujan dan bulan pasang penuh. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES