Ekonomi

Puluhan Disabilitas Belajar Bedakan Pecahan Rupiah dan Buka Rekening Bersama Bank Indonesia

Jumat, 05 April 2024 - 23:48 | 17.89k
Ajat (52) penyandang disabilitas netra warga Sindanggalih meraba pecahan uang Rp5000 saat sosialisasi CBP di Mesjid Al Wasilah, Kp. Cintarasa, Kahuripan, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (5/4/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Ajat (52) penyandang disabilitas netra warga Sindanggalih meraba pecahan uang Rp5000 saat sosialisasi CBP di Mesjid Al Wasilah, Kp. Cintarasa, Kahuripan, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (5/4/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TASIKMALAYA – Masjid Al Wasilah di Kampung Cintarasa, Kahuripan, Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi tempat untuk mengobarkan semangat para disabilitas tuna netra yang tergabung dalam Majelis Taklim Tuna Netra Al Hikmah. 

Meski hujan mengguyur, tak satupun semangat mereka surut untuk menggali ilmu tentang pemahaman materi mata uang Rupiah yang disampaikan oleh Perwakilan Kantor Bank Indonesia.

disabilitas-netra-2.jpg

Sejak pukul 15.00 WIB, puluhan penyandang netra didampingi relawan dari Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas Tasikmalaya) memasuki Mesjid Al Wasilah.

Kegiatan yang diinisiasi dan bekerjasama antara Bank Indonesia Perwakilan Kantor Tasikmalaya dengan Majelis Taklim Al Hikmah serta Papeditas ini diikuti oleh beragam profesi penyandang netra, seperti terapis pijat, pedagang asongan, dan pemilik warung.

disabilitas-netra-3.jpg

Menurut Jono Sujono, didampingi Yadi Supriadi dan Yudha Hendriana Gurnita dari Staf di Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah KPw BI Tasikmalaya, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan pemahaman terhadap Rupiah. 

"Program Cinta Bangga dan Paham (CBP) Rupiah sangat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama bagi para penyandang disabilitas, untuk mengenali keaslian uang Rupiah," ungkap Jono Sujono, Jumat (5/4/2024)

Peserta yang datang dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya serta Kabupaten Ciamis menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengenali pecahan Rupiah dengan metode 3D, terutama dengan cara diraba. 

Para peserta dilatih dan berlatih untuk meraba bagian unsur pengaman uang, salah satunya blind code (kode tunanetra). 

"Peserta sangat antusias, bahkan sebagian besar sudah bisa membedakan pecahan 100.000, 50.000, sampai dengan 1.000," ujar Jono kepada TIMES Indonesia usai acara sosialisasi 

Bank Indonesia berharap bahwa melalui edukasi CBP Rupiah kepada penyandang disabilitas ini, pengetahuan dan pemahaman tentang mata uang Rupiah dapat meningkat, bahkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajat (52), seorang disabilitas netra yang berprofesi pedagang tempe dari Kampung Sirnagalih, mengakui awalnya kesulitan dalam memahami pecahan Rupiah.

"Sementawis mah ngabenteunkeunana artos abdi mah tina ukuran dibantos ku wargi eta oge kaleresan upami aya nu ngadamping (Sementara ini saya membedakannya uang dari ukuran, kadang dibantu oleh saudara itupun kalau kebetulan lagi mendampingi),"terangnya.

Namun, tidak hanya kesulitan dalam memahami pecahan Rupiah, Mamat Rahmat, sesepuh Majelis Taklim Tuna Netra, juga menyampaikan keluhan terkait sulitnya membuka rekening tabungan di beberapa bank. 

"Kita kesulitan membuka rekening di Bank karena tanda tangan yang menurut petugas bank selalu berubah-ubah sehingga menjadi kendala utama, sehingga mengkhawatirkan akan keamanan nasabah penyandang tuna netra, padahal menurut saya menyimpan di rekening lebih aman,"ungkapnya

Mamat mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia Kantor Perwakilan Tasikmalaya dan para donatur yang telah memberikan perhatian melalui sosialisasi Program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. 

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia juga para donatur seperti dari Asia Plaza, Nasi Viral yang mendukung kegiatan sosialisasi ini yang ditutup dengan buka bersama dan pemberian santunan,"kata Mamat

Rahmat berharap dengan  semangat yang dimiliki, para penyandang disabilitas tuna netra akan terus lebih mandiri dalam mengatasi berbagai hambatan dan mengejar impian, sehingga dirinya selalui ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi mereka untuk meraih pengetahuan dan kemandirian. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES