Ekonomi

Produk Inovasi Karya Lansia di Malang Mulai Merambah Global

Senin, 06 Mei 2024 - 14:02 | 26.24k
Tim Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB, saat melatih pengrajin Karang Werda Bakalan, membuat inovasi Produk Bunga Puspa untuk Wadah Aroma Terapi Pencegah Hipertensi, di Desa Bakalan, Bululawang, Kabupaten Malang. (Foto: Amin/TIMES Indonesia)
Tim Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB, saat melatih pengrajin Karang Werda Bakalan, membuat inovasi Produk Bunga Puspa untuk Wadah Aroma Terapi Pencegah Hipertensi, di Desa Bakalan, Bululawang, Kabupaten Malang. (Foto: Amin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Produk hasil inovasi Karang Werda Hasanudin Desa Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, mulai menjangkau minat global. Produk tersebut adalah kerajinan tangan (hand made) Macramé dan Rajut, dengan motif khas bunga Puspa. 

Produk hand made Macramé dan Rajut anggota Karang Werda Bakalan Bululawang merupakan hasil kegiatan yang rutin dilakukan, dan jadi usaha ekonomi produktif mereka

Pengembangan desain produk inovasi karang Werda yang diketuai Alifah ini, juga didampingi tim pengabdian masyarakat dari FISIP Universitas Brawijaya (UB), yang diketuai Maya Diah Nirwana, S.Sos., M.Si., dengan anggota Nia Ashton Destrity, S.IKom., MA, keduanya dosen di Departemen Ilmu Komunikasi UB. 

Tim pengabdian masyarakat tersebut dibantu enam orang mahasiswanya. Sejak 2011, tim pengabdian ini telah mempelajari komunikasi dan peluang pemasaran internasional. 

"Kegiatan pengabdian ini adalah menemukan ide meluncurkan Indonesia macramé ke pasar yang lebih luas, salah satunya untuk pasar internasional. Dan, tim kami menggunakan kecerdasan budaya dalam mendesain produk inovasi. atas produk kerajinan inovatif tersebut," terang Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FISIP Universitas Brawijaya (UB), Maya Diah Nirwana, Senin (6/5/2024).

Pengabdian-kepada-Masyarakat-FISIP-UB-a.jpgKetua Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB, Maya Diah Nirwana (tengah), bersama pelatih pelatihan merajut yang merupakan anggota Karang Werda Hasanudin Bakalan. (Foto Amin/TIMES Indonesia) 

Agar lebih punya nilai global, lanjutnya, maka tim memberikan pelatihan desain dan inovasi macramé yang dibuat pengrajin di Karang Werda Desa Bakalan, dengan sentuhan motif komoditi budaya asli Indonesia. 

Produk kreatif tas macramé handmade, lalu diberi sentuhan paduan warna motif bunga melati, yang merupakan bunga nasional mewakili karakteristik Indonesia. 

Menurut Maya, paduan motif bungai ini dengan alasan, bahwa menurut Keputusan Presiden RI Nomor 4/1993, Indonesia memiliki tiga bunga nasional, salah satunya bunga melati putih (jasminum sambac), sebagai jenis puspa nasional Indonesia.

Ia menambahkan, produk inovasi Karang Werda Hasanudin kemudian diberi merek 'Bunga Puspa', dan telah dipresentasikan di forum internasional. Sejak saat itu, produk Bunga Puspa mulai dikenal warga global, terutama yang berasal dari negara Malaysia, India, dan Kuwait. 

"Kerajinan macramé merupakan bagasi budaya. Karenanya, di masa depan (pemerintah) Indonesia diharapkan dapat mempertimbangkan memperluas pasar kerajinan macramé ini," ungkap Maya. 

Bahkan, produk kerajinan tas tersebut juga diinovasi, dilengkapi aroma terapi melati, sehingga tas macramé berbau harum. Dan ternyata, warga global banyak yang suka keharuman melati asal Indonesia. Sehingga, kesuksesan produk inovasi Karang Werda Bakalan merek Bunga Puspa ini pun terus meningkat. 

Dari hasil penilaian dan pengukuran Tingkat Kesiapan Teknologi oleh Direktorat lnovasi dan Kawasan Sains dan  Teknologi (DIKST) UB, inovasi produk ini juga mendapatkan validasi  pengukuran Technology Readiness Level (TRL) atau Tingkat kesiapterapan Teknologi (TKT) dengan Level 9.

Masih kata Maya Diah, belakangan produk inovasi Bunga Puspa dengan pendampingan yang dilakukan, juga menantang bagi mahasiswa S3 asal Kuwait, yang juga tengah menempuh studi di Malaysia, untuk memproduksi aroma mawar Taif-Saudi Arabia. 

Untuk itu, timnya kembali melatih pengrajin di Karang Werda dengan pelatihan Komunikasi Pemasaran Perluasan Merek “Bunga Puspa” Produk Kerajinan, dengan tambahan Bedak Dingin, Lulur, Aroma Terapi, dan Hibrida Negara Asal Mawar,  Minggu (5/52024) kemarin.

Pada kegiatan pelatihan itu, tim juga menyerahkan secara simbolis bantuan alat merajut dari Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPPM) FISIP UB. 

Dikatakan Maya, pihaknya juga selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dalam membuat produk-produk kesehatan untuk lansia. 

Atas saran dokter yang menekuni aroma terapi, tim mengembangkan produk inovasi Bunga Puspa. Salah satunya, membuat wadah untuk menyimpan aroma terapi pencegah hipertensi. 

"Saya berharap, ke depan semua desa di Indonesia mampu mengembangkan produk inovasi sesuai potensi yang dimilikinya,” ujar kandidat doktor ini. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES