Ekonomi

Berawal Otodidak, Blangkon Karya Mantan MC Manten di Kediri Laris Hingga Luar Pulau 

Kamis, 16 Mei 2024 - 21:02 | 52.97k
Supari (kiri) saat mengerjakan salah satu blangkon (Foto: Yobby/Times Indonesia)
Supari (kiri) saat mengerjakan salah satu blangkon (Foto: Yobby/Times Indonesia)

TIMESINDONESIA, KEDIRI – Berprofesi sebagai Pranoto Acoro atau MC pernikahan adat Jawa mengharuskan penampilan Supari tidak lepas dari blangkon saat tampil. Namun dari blangkon yang sering ia beli, Supari rupanya tidak menemukan yang nyaman dan sesuai hatinya. 

Penasaran bagaimana agar bisa nyaman saat memakai blangkon, mendorong Supari membongkar blangkon yang ia beli dan mempelajari seluk beluk blangkon. Berbekal sebuah mesin jahit milik sang nenek, Supari belajar menjahit dan membuat blangkon sendiri.  

"Belajar membuat blangkon otodidak. Sekitar tahun 2016, pertama belajar blangkon Yogyakarta dan kemudian merambah ke blangkon Solo," jelasnya, Kamis (16/05/2024).

Satu hari, Supari dibantu anaknya bisa mengerjakan tiga buah blangkon. Sebulan setidaknya ada 70-80 buah blangkon dihasilkan. Semua dikerjakan di rumahnya, Desa Jarak Lor, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. 

Blangko buatan Supari tidak hanya dibeli masyarakat Kediri dan sekitarnya, tapi juga sudah sampai luar pulau Jawa. Salah satunya ke kota Bontang, Kalimantan Timur yang sudah menjadi salah satu pelanggan tetap. 

Sementara itu, permintaan terbanyak berasal dari komunitas-komunitas budaya yang ada di Kediri dan sekitarnya. "Paling mahal Rp 200-250 ribu karena bahannya dari batik tulis. Juga melihat motifnya. Kalau batik cap sekitar Rp150 ribu. Untuk harga Rp100 juga bisa, tapi kualitas bahannya beda. Yang paling laris yang harga Rp150 ribu," tuturnya. 

Membuat blangkon, dituturkan Suparim tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru dan harus dengan motivasi baik. Jika dibuat terburu-buru, blangkon justru mengakibatkan blangkon tidak nyaman dipakai. 

Diceritakan Supari, dirinya pernah diprotes salah satu pelanggannya karena blangkon yang dipesan terasa tidak nyaman. Padahal pesanan sebelumnya terasa pas dan nyaman. Sang pelanggan bahkan sampai datang ke rumah Supari untuk bertanya. 

Rupanya, blangkon tersebut dibuat saat dirinya banyak pesanan dan terburu-buru untuk menyelesaikan pesanan.  "Itu jadi masukan untuk saya. Sekarang kalau membuat blangkon harus dalam keadaan nyaman, dari hati, enjoy dan tidak terburu-buru," tambahnya 

Untuk bahan membuat blangkon, Supari masih mendatangkan bahan dari Yogyakarta dan Solo. Untuk kain ukuran 1 meter persegi, bisa menjadi dua buah blangkon. 

Supari menuturkan kain untuk bahan blangkon sebenarnya bisa diproduksi di Kediri karena banyak produksi batik di Kediri. Namun saat ini kebanyakan pembatik di Kediri hanya membuat kain jarik. "Selama ini yang diproduksi cuma jarik, untuk udeng, bahan blangkon masih jarang," tambahnya lagi.

Sebagai warga Kabupaten Kediri, Supari juga tengah merancang blangkon bernuansa filosofis Kediri. Diberi nama Blangkon Panjalu, blangkon ini mengusung konsep filosofi Sri Aji Joyoboyo. "Ini rencananya dipersembahkan untuk Kabupaten Kediri, ciptaan saya sendiri," pungkas Supari.  


 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES