Ekonomi

Inovasi Peternak Banyuwangi, Kotoran Kambing Jadi Biogas dan Pupuk Organik

Senin, 01 Juli 2024 - 08:48 | 14.15k
Foto. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi peternakan domba di Desa Sumbermlyo (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)
Foto. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi peternakan domba di Desa Sumbermlyo (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Peternak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menunjukkan inovasi yang menginspirasi dengan memanfaatkan kotoran kambing menjadi sumber energi dan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Langkah kreatif itu tidak hanya membantu mengatasi masalah limbah peternakan, tetapi juga mendukung upaya untuk memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Dengan menggunakan teknologi biogas, mereka berhasil mengubah limbah organik menjadi biogas yang bisa digunakan sebagai energi alternatif, sementara pupuk organik yang dihasilkan juga memberikan manfaat tambahan bagi pertanian lokal.

Inisiatif ini tidak hanya berpotensi meningkatkan kesejahteraan peternak, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan di daerah tersebut.

Salah satunya peternakan domba (sopas) di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran yang memanfaatkan kotoran hewan ternak menjadi biogas dan slurry (pupuk organik cair). Dengan cara ini limbah dari peternakan menjadi nol persen.

Di Desa Sumbermulyo terdapat peternakan domba yang menjadi rumah produksi biogas dan bio-slurry. Rumah produksi tersebut dikelola oleh para petani dan peternak Kelompok Tani Sumber Rejeki.

Biogas dimanfaatkan menjadi bahan bakar pengganti LPG untuk memasak. Saat ini beberapa rumah di sekitar peternakan telah menggunakan biogas untuk kebutuhan memasak. Mereka juga menggunakan biogas untuk kebutuhan penerangan. 

Selain menjadi biogas, kotoran hewan ternak tersebut juga diolah dijadikan bio-slurry yang dijadikan sebagai pupuk organik. 

Bio-slurry merupakan ampas biogas. Meskipun ampas, namun slurry memiliki banyak nutrisi yang bermanfaat untuk pertanian. Sebagai pupuk alami slury mampu mengikat nutrisi tanah sekaligus menggemburkan tanah yang keras. 

Bio-slurry memiliki mikroba probiotik yang mampu meningkatkan kesuburan tanah, sehingga berdampak kepada kualitas dan kuantitas hasil panen.

"Apa yang dilakukan para peternak di desa ini merupakan solusi agar limbah peternakan menjadi nol persen, karena tidak ada limbah dari peternakan yang tersisa," ucap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat mengunjungi peternakan domba tersebut, di sela program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Sumbermlyo (01/7/2024).

"Selain itu hasilnya juga bisa dimanfaatkan oleh para petani untuk pupuk organik, sehingga mengurangi biaya produksi. Yang terpenting lagi proses kreatif ini juga turut menjaga kesuburan tanah," tambah Ipuk.

Pengolahan limbah ternak ini mulai berjalan sejak awal 2023 lalu. Sarman, pemilik peternakan domba mengatakan, pengolahan limbah ini merupakan hasil kerjasama kelompok tani, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Banyuwangi, dan program doktor mengabdi Universitas Brawijaya.

Melalui kerjasama ini dibangun instalasi digester biogas, untuk mengolah limbah kotoran ternak. Sarman menjelaskan proses pengolahan limbah ini cukup mudah. 

"Kotoran ternak dimasukkan dalam mixer untuk dihaluskan. Setelah halus masuk ke tabung biogas, untuk diambil gasnya," kata Sarman.

Setelah gasnya diambil, ampas dari kotoran tersebut menjadi bio-slurry yang dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk petani. 

"Pupuk organik ini selain kami gunakan sendiri juga dijual ke kelompok-kelompok petani lainnya di Banyuwangi dalam bentuk pupuk organik cair," kata Sarman. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES