Ekonomi

Hama WBC di Tasikmalaya Berhasil Dikendalikan, Petani Harus Fokus Pengendalian Hama Lain

Selasa, 02 Juli 2024 - 21:14 | 16.37k
Sejumlah petan saat mengamati tanaman padi di wilayah kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (2/7/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Sejumlah petan saat mengamati tanaman padi di wilayah kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (2/7/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TASIKMALAYA – Serangan hama WBC (wereng batang coklat) yang telah merusak tanaman padi hampir seluruh kawasan lahan sawah di Tasikmalaya selama beberapa bulan terakhir akhirnya berhasil dikendalikan. 

Hama yang dikenal dengan kemampuannya menyedot cairan pada batang padi, menyebabkan tanaman menguning dan mati, kini telah bermigrasi ke wilayah Bandung dan Garut.

Hal tersebut disampaikan Fahmi Abdurohman dan Ny. Nuraeni, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cibereum, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut mereka, meskipun WBC telah berpindah, petani tetap harus waspada dan terus melakukan pengendalian terhadap hama lain seperti belalang.

"Upaya pengendalian serangan hama lain termasuk belalang harus tetap dilakukan dan petani diminta tetap waspada terhadap ancaman hama lain termasuk hama tikus dan belalang," ujar Fahmi Abdurohman dan Ny. Nuraeni setelah melakukan penyemprotan dengan pestisida hayati di lahan padi milik kelompok tani Jaya Makmur 1 di Kersanagara, Kecamatan Cibereum, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (2/7/2024)

Pestisida Hayati sebagai Solusi Ramah Lingkungan
Dalam upaya pengendalian hama, penggunaan pestisida hayati dinilai lebih efisien dan ampuh dibandingkan pestisida kimia.

Bahan baku pestisida hayati terdiri dari daun buah sirsak, daun pepaya, tembakau, dan bawang putih. Proses pembuatannya melibatkan perajangan daun sirsak dan pepaya yang direndam dengan air panas dan didiamkan semalam. 

Air rendaman ini kemudian digabungkan dengan air rebusan bawang putih dan tembakau, serta dicampur dengan perekat dari bahan sabut cuci sebelum disemprotkan ke tanaman.

"Bahannya berupa daun buah sirsak dan pepaya yang dirajang untuk kemudian direndam dengan air panas kemudian didiamkan selama satu malam sebelum digabung dengan air rebusan bawang putih dan tembakau lalu dicampur perekat dari bahan sabut cuci sebelum disemprotkan ke tanaman yang jadi sasaran," jelas Fahmi.

Edukasi dan Sosialisasi Penting untuk Pengendalian Hama Berkelanjutan

Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian (Perhiptani) Kota Tasikmalaya, Asep Ridwan SP, didampingi PPL BPP Cibereum, Ir. Toto Suhartono, menekankan bahwa penggunaan pestisida hayati merupakan bentuk kearifan lokal yang bijak dalam mengantisipasi hama. Selain murah, pestisida hayati juga ramah lingkungan dan dapat membuat lahan menjadi lebih subur.

"Ya, pestisida hayati ini selain murah tentunya sangat ramah lingkungan. Dengan demikian, justru membuat kondisi lahan garapan bisa menjadi lebih subur. Kami berharap para petani tidak selalu berpikir instan untuk menghalau serangan hama, tetapi perlu bijak dengan mengedepankan kearifan lokal," ujar Asep Ridwan yang juga Koordinator BPP Cibereum.

Namun, mengubah mindset petani yang cenderung mengutamakan pestisida kimia dalam mengantisipasi hama menurutnya memerlukan waktu yang tidak singkat. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi tentang manfaat kearifan lokal harus terus dilakukan oleh PPL.

"Untuk mengubah mindset masyarakat memang diperlukan waktu dan kami akan terus mengedukasi masyarakat setiap ada kesempatan," kata Asep Ridwan dan Toto.

Upaya sosialisasi pemanfaatan kearifan lokal akan terus menjadi target utama PPL agar para petani dapat menuai hasil produksi yang optimal dan sesuai dengan ekspektasi. Dengan demikian, kesejahteraan petani dan keberlanjutan lingkungan dapat terjaga.

"Dengan fokus pada pengendalian hama yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, diharapkan kesejahteraan petani dan keberlanjutan lahan pertanian di Tasikmalaya dan sekitarnya dapat terus terjaga," pungkasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES