Advertisement
Ekonomi

Lahan Apel di Kota Batu Menyusut: dari 1.092 menjadi 740,07 Hektare

Status Kota Batu sebagai daerah penghasil apel kian terancam. Dalam tiga tahun terakhir, luas lahan perkebunan apel terus menyusut signifikan.

TIMES Indonesia,
Lahan Apel di Kota Batu Menyusut: dari 1.092 menjadi 740,07 Hektare
Apel di Kota Batu merupakan ikon kota yang akan terus diperjuangkan (FOTO: Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Status Kota Batu sebagai daerah penghasil apel kian terancam. Dalam tiga tahun terakhir, luas lahan perkebunan apel terus menyusut signifikan. 

Jika pada 2022 masih tercatat 1.092 hektare, pada 2023 turun menjadi sekitar 823,33 hektare, lalu kembali merosot pada akhir 2024 menjadi hanya 740,07 hektare. 

Advertisement

Artinya, dalam dua tahun terakhir lahan apel menyusut lebih dari 350 hektare. Penyusutan lahan ini menjadi sorotan serius Pemerintah Kota Batu.

Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa apel bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi simbol daerah yang harus diselamatkan.

"Apel Batu ini bukan sekadar hasil panen. Ini identitas Kota Batu. Kalau tidak kita jaga bersama, bisa saja suatu saat tinggal nama," tegasnya, Sabtu (18/4/2026).

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertanpang) Kota Batu, tren penurunan lahan terus berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. 

Pada 2020, lahan apel masih berada di kisaran 1.200 hektare. Namun pada 2022 tinggal 1.092 hektare, lalu turun lagi pada 2023 menjadi sekitar 1.044 hektare versi pendataan sebelumnya. Kini, angka terbaru menunjukkan sisa lahan hanya sekitar 740 hektare.

Advertisement

Menurut Cak Nur, ada banyak faktor yang menyebabkan kebun apel terus berkurang. Mulai dari alih fungsi lahan menjadi permukiman, vila, maupun kafe, perubahan iklim, menurunnya kualitas tanah, hingga tingginya biaya perawatan tanaman apel.

"Petani harus untung. Kalau biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja lebih besar dari hasil panen, tentu mereka memilih beralih ke tanaman lain," ujarnya.

Saat ini, sentra kebun apel tersisa banyak berada di Kecamatan Bumiaji, terutama Desa Tulungrejo, Bulukerto, Sumbergondo, dan Desa Bumiaji. Di wilayah tersebut, petani masih berupaya mempertahankan varietas unggulan seperti Manalagi dan Anna.

"Tak hanya lahan, produksi apel juga ikut menurun. Pada 2024, produksi apel Kota Batu tercatat sekitar 140.285 kuintal, jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya," ucapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan penyusutan lahan berbanding lurus dengan menurunnya hasil panen.
Sebagai langkah penyelamatan, Pemkot Batu mulai menyiapkan penguatan kelembagaan petani, bantuan bibit unggul, perbaikan jalan usaha tani, hingga kolaborasi riset untuk pengembangan varietas apel tahan perubahan iklim.

"Kita ingin apel Batu tetap hidup, tetap punya daya saing, dan terus menjadi sumber ekonomi masyarakat. Jangan sampai ikon Kota Batu hilang karena kita terlambat bertindak," tuturnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia