Kedelai Mahal dan Pasar Lesu, Pabrik Tahu di Langensari Cianjur Terpaksa Gulung Tikar
Langkah pahit tersebut terpaksa diambil lantaran ongkos produksi yang melonjak drastis tidak sebanding dengan serapan pasar yang terus menyusut.
CIANJUR – Lonjakan harga bahan baku yang dibarengi merosotnya daya beli masyarakat serta depresiasi mata uang rupiah mulai memukul telak sektor industri rumahan di Kabupaten Cianjur.
Fenomena ini nyata terlihat di Desa Langensari, Kecamatan Karangtengah, di mana satu dari lima unit usaha pembuatan tahu goreng di wilayah tersebut terpaksa menyudahi operasionalnya akibat tekanan ekonomi yang kian berat.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Langensari, Asep Misbah, mengungkapkan bahwa tempat produksi yang berhenti beroperasi tersebut adalah kepunyaan warga bernama Haji Ai.
Langkah pahit tersebut terpaksa diambil lantaran ongkos produksi yang melonjak drastis tidak sebanding dengan serapan pasar yang terus menyusut.
“Di Desa Langensari ada lima perajin tahu. Namun satu pabrik milik Haji Ai saat ini tutup karena harga kedelai sebagai bahan baku cukup tinggi dan pemasarannya juga menurun,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Rabu (3/6/2026).
Guna memahami akar persoalan secara mendalam, pihak otoritas desa langsung turun ke lapangan untuk meninjau kondisi riil yang dialami oleh pelaku usaha yang terdampak tersebut.
“Bersama kepala dusun kami mendatangi lokasi untuk menanyakan keluhan yang dihadapi. Hasilnya, memang faktor utama karena harga bahan baku mahal dan pemasaran yang kurang baik, sehingga modal usaha mereka habis,” katanya.
Sebagai bentuk respons cepat, Asep menyatakan bahwa jajarannya kini tengah menginventarisasi seluruh unit usaha tahu yang masih bertahan di wilayah tersebut.
Dokumen hasil pemetaan lapangan ini kata dia nantinya segera diserahkan ke instansi sektoral di tingkat kabupaten sebagai basis data intervensi dan program pendampingan ke depan.
“Langkah awal dari desa adalah melakukan pendataan seluruh pengrajin tahu, kemudian dilaporkan ke dinas terkait atau Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar bisa mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia tidak menampik bahwa berhentinya aktivitas produksi pada salah satu tempat usaha ini langsung memicu efek domino, terutama hilangnya sumber pendapatan bagi masyarakat lokal yang menggantungkan hidup di sana.
“Kalau pabrik tutup tentu akan berdampak kepada para pekerja. Imbasnya bisa menambah jumlah pengangguran di lingkungan sekitar,” tuturnya.
Manajemen kelangsungan usaha kecil kini menjadi fokus utama, sehingga pihak aparatur desa menaruh harapan besar pada hadirnya asistensi nyata dari pemerintah daerah demi menyelamatkan sektor yang menjadi urat nadi finansial warga ini.
“Kami berharap ada perhatian dari dinas terkait, baik dalam bentuk bantuan maupun program pembinaan sesuai kewenangannya, agar usaha tahu di Langensari bisa tetap bertahan,” imbuhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


