Rupiah Tembus Rp18.011 di Pasar Luar Negeri
Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS di pasar NDF. Tekanan ekonomi domestik, inflasi, dan ketidakpastian kebijakan memperbesar risiko pelemahan lanjutan.
JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah kian sulit diredam. Mata uang Indonesia kembali mencatat pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), dilansir Bloomberg, Kamis (4/6/2026), rupiah menembus ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS dan diperdagangkan di level Rp18.010 per dolar AS pada pukul 07.25 WIB. Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.
Pergerakan rupiah di pasar luar negeri mencerminkan masih dominannya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang. Kuatnya dolar AS tetap menjadi faktor utama, dengan indeks dolar tercatat berada di level 99,44.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent mengalami koreksi 0,56 persen ke posisi USD97,26 per barel setelah sehari sebelumnya melonjak 1,89 persen dari USD96,78 menjadi USD97,81 per barel.
Penurunan harga minyak sebenarnya memberi ruang bagi sejumlah mata uang Asia untuk bergerak di zona positif. Namun penguatan yang terjadi masih relatif terbatas.
Pada perdagangan Asia yang mulai berlangsung pukul 07.00 WIB, yen Jepang menguat 0,08 persen, yuan offshore naik 0,06 persen, ringgit Malaysia bertambah 0,05 persen, dolar Singapura menguat 0,03 persen, dan dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen.
Berbeda dengan mata uang kawasan lainnya, rupiah belum mampu memanfaatkan sentimen positif dari koreksi harga minyak. Pelaku pasar masih dibayangi berbagai faktor domestik yang dinilai kurang mendukung, mulai dari data ekonomi hingga ketidakpastian arah kebijakan.
Perhatian investor tertuju pada pelebaran defisit ganda yang berasal dari sisi fiskal maupun neraca transaksi berjalan. Selain itu, lonjakan inflasi ke level 3,08 persen turut memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat yang selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah situasi tersebut, Moody's Ratings untuk pertama kalinya memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Meski Danantara diproyeksikan menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi melalui investasi skala besar, penilaian pasar terhadap perkembangan institusi tersebut masih beragam. Investor menilai kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi belum akan terasa dalam waktu dekat.
Sentimen lain yang turut menjadi perhatian adalah kasus hukum yang menyeret kepala program prioritas Makan Bergizi Gratis. Perkembangan tersebut dinilai menambah lapisan ketidakpastian yang membebani prospek penguatan rupiah.
Dari kawasan Asia, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam pada perdagangan pagi ini, yakni sebesar 0,72 persen. Tekanan terhadap won dikaitkan dengan lambatnya realisasi komitmen investasi Korea Selatan serta munculnya tuduhan diskriminasi terhadap perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di negara tersebut.
Kesepakatan investasi senilai USD350 miliar antara AS dan Korea Selatan dijadwalkan memasuki tahun pertama pada Juli mendatang. Namun hingga kini belum ada pengumuman proyek investasi konkret yang dapat menunjukkan implementasi nyata dari komitmen tersebut.
Pada saat yang sama, pemerintah AS juga tengah menyiapkan skema tarif baru yang direncanakan berlaku pada musim panas tahun ini untuk menggantikan tarif sebelumnya yang dinyatakan tidak sah oleh Mahkamah Agung AS.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan harga minyak belum cukup kuat menjadi katalis positif bagi sebagian besar pasar Asia. Faktor domestik masih menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang, termasuk bagi won Korea Selatan dan rupiah.
Sepanjang tahun ini, rupiah bahkan tercatat sebagai mata uang dengan performa terburuk di Asia setelah melemah sekitar 7,02 persen terhadap dolar AS.
Apabila rupiah di pasar spot turut menembus level Rp18.000 per dolar AS, risiko keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi berpotensi meningkat lebih besar.
Dengan tekanan global yang belum mereda dan rupiah di pasar NDF kembali mencetak rekor terendah, pasar kini menanti apakah mata uang Garuda mampu bertahan atau justru melanjutkan pelemahannya.
Secara teknikal, rupiah masih menghadapi risiko pelemahan lanjutan pada perdagangan hari ini. Area Rp18.000 per dolar AS menjadi level support pertama yang penting untuk diperhatikan, sementara support berikutnya berada di kisaran Rp18.100 per dolar AS.
Jika kedua level tersebut ditembus dengan volume transaksi yang besar, peluang pelemahan menuju Rp18.200 per dolar AS sebagai area support kuat berikutnya akan semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila rupiah mampu berbalik menguat, pelaku pasar dapat mencermati level resistance di Rp17.900 per dolar AS dan selanjutnya Rp17.800 per dolar AS. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


