Advertisement
Ekonomi

UMKM Resah Imbas Melemahnya Rupiah, Pakar UB Bagikan Strategi Menjaga Stabilitas Pendapatan

Melemahnya nilai tukar rupiah hingga saat ini memunculkan problem baru bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama mereka yang bergerak di sektor makanan dan minuman (fnb).

TIMES Indonesia,
UMKM Resah Imbas Melemahnya Rupiah, Pakar UB Bagikan Strategi Menjaga Stabilitas Pendapatan
ILUSTRASI: Pelaku UMKM mulai merasakan dampak melemahnya rupiah, pakar UB berikan strategi jaga stabilitas pendapatan. (FOTO: ihatec)
A-AA+

MALANG Melemahnya nilai tukar rupiah hingga saat ini memunculkan problem baru bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama mereka yang bergerak di sektor makanan dan minuman (fnb).

Banyak dari mereka merasakan peningkatan biaya produksi karena harga bahan baku jualan yang semakin mahal. Di sisi lain, UMKM tidak dapat menaikkan harga mereka dan di saat yang bersamaan, daya beli masyarakat juga semakin menurun.

Advertisement

Menanggapi hal tersebut, pakar Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya (UB), Nugroho Suryo Bintoro, SE., M.Ec.Dev., Ph.D menjelaskan bahwa kunci utama UMKM di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti bukan sekadar bertahan, tetapi dapat menemukan cara baru supaya usaha tetap berjalan dengan sehat dan penghasilan terjaga. 

“UMKM saat ini tidak hanya bertahan, tetapi harus cari alternatif lain supaya usaha tetap berjalan dan penghasilan terjaga,” ujarnya pada TIMES Indonesia (3/5/2026). 

Ia menjelaskan cara tersebut dapat dimulai dengan meninjau ulang bahan baku. Menurut Nugroho, banyak pelaku usaha saat ini yang bergantung pada bahan tertentu dan tidak memiliki alternatif bahan baku.

Lanjutnya, ia menyarankan untuk mengganti dengan bahan baku lokal yang lebih mudah didapatkan, pemanfaatan bahan musiman, atau memodifikasi resep tanpa mengubah cita rasanya menjadi langkah yang dapat dipertimbangkan.

“Diversifikasi bahan baku ini menjadi strategi penting dalam mengurangi risiko kenaikan harga,” jelasnya.

Advertisement

Selanjutnya, Nugroho juga menekankan pentingnya kolaborasi antar pelaku UMKM. Contohnya seperti membeli bahan baku secara berkelompok akan terasa lebih ringan daripada membeli secara individual.

Dengan menggabungkan kebutuhan tersebut, maka pemesanan dapat dilakukan dalam jumlah besar sehingga memperoleh harga grosir, serta ongkos distribusi yang bisa ditekan.

Ia juga menambahkan, untuk UMKM tingkat desa, kecamatan, atau komunitas usaha juga dapat memanfaatkan koperasi desa/kelurahan untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif.

“Model kolektif ini banyak diterapkan di beberapa negara dan terbukti mampu meningkatkan efisiensi biaya UMKM,” imbuhnya.

Selain itu, UMKM juga perlu mengurangi pemborosan dalam proses produksi. Seperti bahan baku yang terbuang, stok hingga kedaluwarsa, atau penggunaan bahan yang tidak terukur dengan baik dapat menggerus keuntungan. 

Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi kunci serta dapat menjadi peluang yang menjanjikan. Seperti kehadiran toko di media sosial, pemanfaatan aplikasi pesan instan, hingga program pelanggan loyal juga dapat membantu menjaga hubungan dengan konsumen tanpa harus mengeluarkan biaya promosi berlebih. 

Terakhir, Nugroho juga menyoroti terkait menurunnya daya beli masyarakat. Ia menyarankan juga kepada pelaku UMKM untuk mengevaluasi setiap produk yang ditawarkan kepada konsumen untuk difilter mana yang memang diminati dan memberikan keuntungan besar secara berkala. 

“UMKM bisa fokus kepada produk yang memberi margin lebih baik supaya dapat menjaga stabilitas pendapatan meskipun volume penjualan tidak meningkat,” pungkasnya.

Nugroho menegaskan bahwa tantangan yang terjadi saat ini tidak selalu berujung pada penurunan pendapatan. Melalui strategi di atas, UMKM dapat terus mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menjaga stabilitas pendapatan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia