Jadi Produsen Terbesar di Jatim, BPOM Targetkan Jamu Banyuwangi Bersih dari BKO
Kabupaten Banyuwangi, mendapat perhatian khusus dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagai sentra produksi jamu terbesar di Jawa Timur, Banyuwangi didorong menjadi daerah percontohan pengembangan jamu aman yang bebas dari Bahan Kimia Obat.
BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi, mendapat perhatian khusus dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagai sentra produksi jamu terbesar di Jawa Timur, Banyuwangi didorong menjadi daerah percontohan pengembangan jamu aman yang bebas dari Bahan Kimia Obat (BKO).
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya, Yudi Noviandi, M.Sc.Tech., Apt., usai kegiatan FGD dengan tajuk ‘Menjamu Masa Depan dengan Jamu Aman Bebas Bahan Kimia Obat (BKO) di Votel Manyar Resort, Kamis, (4/6/2026).
"Kita memilih Banyuwangi karena di sini masih ada tantangan terkait produksi jamu yang mengandung kimia obat. Jika Jawa Tengah punya Cilacap dan Banyumas sebagai sentra, maka di Jawa Timur, Banyuwangi adalah pusatnya. Namun, dogmanya saat ini masih negatif. Itu yang mau kita balikkan," ujar Yudi kepada TIMES Indonesia.
Dia menjelaskan, mengusung konsep pentahelix dengan menggandeng akademisi, pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha, hingga media. Tujuannya adalah mengubah wajah jamu masa depan menjadi produk yang aman, bermutu, dan bebas BKO.
BBPOM mendorong para perajin jamu lokal untuk meniru kesuksesan sentra jamu di Banyumas yang kini telah bertransformasi ke arah digital marketing dan diversifikasi produk, seperti mengekstrak jahe merah menjadi sediaan modern yang diminati generasi Z dan milenial.

"Sentra pelaku usaha jamu di sini (Banyuwangi) berada di kawasan pesisir, seperti Muncar, dan rata-rata berskala UMKM. Ada yang produknya sudah terdaftar resmi, namun ada juga yang belum meski pasarnya sudah sangat luas," jelasnya.
Pada kesempatan kali ini, terdapat pula penandatanganan komitmen bersama Menjamu Masa Depan dengan Jamu Aman Bebas Bahan Kimia Obat (BKO) yang ditandatangani oleh perwakilan BPOM, Pemkab Banyuwangi, Pelaku Usaha, akademisi dan media.
Komitmen tersebut disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M. Dia mengakui bahwa potensi industri jamu lokal sangat luar biasa. Distribusi jamu asal Banyuwangi bahkan telah merambah pasar Bali, Sumatera, hingga ujung Aceh.
"Luasan pasar ini membuktikan bahwa pasokan bahan baku kita sangat melimpah. Geografis Banyuwangi yang lengkap, dekat laut dan pegunungan, menghasilkan kekayaan mineral serta tanaman obat yang sangat komplit," kata Suratno.
Meski demikian, Suratno tidak menampik bahwa tantangan terbesar saat ini terletak pada pembenahan pola pikir (mindset) para produsen. Motif pragmatis jangka pendek sering kali membuat oknum pelaku usaha nekat mencampurkan BKO demi memberikan efek khasiat instan atau 'jos pleng'.
"Padahal tindakan itu menjebak. Begitu konsumen kecewa karena dampak buruk kesehatan, kepercayaan terhadap produk jamu Banyuwangi akan runtuh. Tugas Pemkab ke depan adalah melakukan edukasi intensif agar mereka beralih ke produksi yang aman," tegasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


