Advertisement
Ekonomi

Harga Tetap, Biaya Produksi Meningkat, Petani Mawar Kota Batu Kelimpungan

Petani bunga potong di Batu keluhkan harga mawar stagnan Rp1.000 per batang, sementara pupuk dan obat pertanian naik. Kirim barang turun dari 3 menjadi 2 kali seminggu. Kalah bersaing dengan Bandung (Rp2.000-Rp2.500).

TIMES Indonesia,
Harga Tetap, Biaya Produksi Meningkat, Petani Mawar Kota Batu Kelimpungan
Petani mawar di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu (FOTO: Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Petani bunga potong di Kota Batu menghadapi tekanan berat akibat harga jual mawar yang tidak kunjung naik di tengah meningkatnya biaya pupuk dan obat pertanian.

Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada keberlangsungan sektor florikultura yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi dan daya tarik wisata daerah.

Advertisement

Meski pasokan bunga potong dari Kota Batu masih rutin dikirim ke berbagai kota besar seperti Surabaya, Bali, dan Jakarta, pelaku usaha mengaku keuntungan yang diperoleh semakin menipis karena harga di tingkat petani bertahan di angka yang sama selama bertahun-tahun.

Salah satu petani sekaligus pengrajin dekorasi tanaman hias, Bogeng, mengatakan aktivitas distribusi bunga potong hingga kini belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi Covid-19. Menurutnya, frekuensi pengiriman yang sebelumnya bisa dilakukan tiga kali dalam sepekan kini berkurang menjadi dua kali.

"Dahulu dalam kurun waktu seminggu kami rutin bisa melakukan pengiriman barang sampai tiga kali, tetapi kalau untuk situasi sekarang ini kami cuma bisa kirim dua kali saja seminggu," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).

Dalam sekali pengiriman, Bogeng mengaku mampu memasok sekitar 3.000 tangkai mawar segar yang berasal dari kebun miliknya maupun hasil panen petani sekitar. Ribuan tangkai bunga tersebut umumnya dibeli pedagang besar dari Surabaya yang datang langsung ke kawasan sentra produksi mawar di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.

"Namun, harga mawar yang diterima petani sekarang hanya sekitar Rp1.000 per batang. Angka tersebut jauh di bawah harga mawar dari Bandung yang dapat mencapai Rp2.000 hingga Rp2.500 per batang di pasar nasional," bebernya.

Advertisement

Menurut dia, kualitas mawar asal Kota Batu sebenarnya mampu bersaing dengan produk dari daerah lain apabila didukung perawatan dan pemenuhan nutrisi tanaman yang optimal. Sayangnya, upaya peningkatan kualitas terkendala tingginya harga sarana produksi pertanian.

"Walaupun kualitas mawar sebenarnya bisa kita kejar, harga jualnya saat ini di lapangan sangat tidak memadai karena harga pupuk dan obat pertanian terus naik, sementara harga jual bunga justru cenderung stagnan," keluhnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga mawar di tingkat petani berlangsung sangat lambat dalam dua dekade terakhir. Pada periode 2005 hingga 2010, harga mawar masih berada di kisaran Rp400 hingga Rp600 per batang. Setelah itu harga hanya naik perlahan ke Rp800 dan kini bertahan di sekitar Rp1.000 per batang.

Bogeng menilai mandeknya harga bukan disebabkan lemahnya permintaan pasar. Ia menduga terdapat kesepakatan di tingkat pedagang besar yang membuat harga beli dari petani sulit mengalami kenaikan.

"Harganya mentok di angka seribu rupiah dan sulit bergerak naik karena para pedagang besar di atas sana memang sudah kompak untuk membeli bunga dari petani dengan harga pasaran seribu rupiah itu," pungkasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia