Harga Singkong Melonjak hingga 125 Persen, Produksi Tape Bondowoso Terancam
Industri tape di Kabupaten Bondowoso tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga singkong hingga 125 persen dan tersendatnya permodalan. Pengusaha terpaksa memangkas produksi hingga 50 persen.
Bondowoso – Industri tape yang selama ini menjadi salah satu ikon kuliner Kabupaten Bondowoso tengah menghadapi tekanan berat. Dalam sebulan terakhir, harga singkong sebagai bahan baku utama melonjak tajam dari Rp2.000 menjadi Rp4.500 per kilogram, atau naik hingga 125 persen.
Kenaikan harga tersebut diduga dipicu oleh berkurangnya areal tanam singkong di berbagai wilayah. Banyak petani memilih beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan seperti tebu, jagung, kedelai, hingga sengon. Di sisi lain, jumlah pelaku usaha tape terus bertambah sehingga kebutuhan bahan baku semakin tinggi.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pengusaha tape yang berada di Sentra Industri Tape Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal. Kelangkaan singkong membuat sebagian besar pelaku usaha terpaksa memangkas kapasitas produksi mereka.
Koordinator Pengusaha Tape Sentra Binakal, Rahmatullah, mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen dari total 138 pengusaha tape di kawasan tersebut telah mengurangi volume produksi. Bahkan, sebagian lainnya memilih untuk menghentikan sementara aktivitas usahanya.
Menurut Rahmatullah, keterbatasan pasokan singkong menjadi faktor utama yang menyebabkan harga bahan baku meroket. Situasi itu diperparah dengan kondisi permodalan yang tersendat karena pembayaran dari pelanggan belum sepenuhnya masuk.
"Penyebab utamanya karena bahan baku kurang, akhirnya harganya naik. Sedangkan uang modal masih mandek di pelanggan. Kami tidak bisa dikirimi singkong kalau belum bayar tunai," jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (7/6/2026).
Ia menjelaskan, produksi tape miliknya sendiri turun hingga 50 persen. Usahanya yang biasanya mengolah sekitar satu ton singkong setiap dua hari, kini hanya mampu memproduksi setengahnya atau sekitar lima kuintal.
Rahmatullah menambahkan, mayoritas pengusaha tape di Bondowoso tetap memilih menggunakan singkong lokal karena kualitasnya dinilai lebih baik untuk menghasilkan tape yang manis dan bertekstur pas.
Meski singkong dari luar daerah relatif lebih murah, kualitas hasil olahannya dianggap tidak sebanding. Kandungan air yang lebih tinggi membuat kualitas tape kurang maksimal meski ukuran umbinya cenderung lebih besar.
"Di Bondowoso itu biasanya kami beli di Tamanan. Di seluruh daerah Bondowoso sebetulnya singkongnya bagus, tapi memang ada kelas-kelasnya," ujarnya.
Kondisi serupa dialami Masturi, pemilik usaha Tape 67 di Desa Sumbertengah. Ia mengaku sudah sekitar satu bulan terakhir memangkas volume produksi akibat sulitnya memperoleh singkong.
Biasanya, ia mampu mengolah hingga dua ton singkong dalam sepekan. Namun kini jumlah tersebut turun drastis menjadi hanya sekitar dua hingga tiga kuintal saja.
Penurunan produksi ini otomatis berdampak pada omzet penjualan. Meski biaya produksi meningkat, para pengusaha kesulitan menaikkan harga jual di tingkat konsumen karena khawatir kehilangan pelanggan.
"Sementara itu, omzet penjualan juga menurun. Mau dinaikkan dari harga Rp12 ribu per kilogram, pembelinya tidak mau," kata Masturi.
Para pelaku usaha berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dapat turun tangan membantu menjaga keberlangsungan industri lokal ini, baik melalui dukungan permodalan maupun penyediaan lahan khusus untuk budidaya singkong.
"Pertama bantuan permodalan, dan kedua adalah ketersediaan lahan untuk ditanami singkong," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


