Advertisement
Ekonomi

Kemenekraf Dorong Pengembangan IP Lokal Berbasis Ruang Pengalaman Imersif

Kemenekraf mendukung penuh pengembangan IP lokal berbasis ruang imersif. Menekraf Teuku Riefky Harsya sebut Wonderlab jadi model baru masa depan ekraf.

TIMES Indonesia,
Kemenekraf Dorong Pengembangan IP Lokal Berbasis Ruang Pengalaman Imersif
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya (tengah) melihat fasilitas di playground Wonderlab di Senayan City, Jakarta, Senin (8/6/2026). (Foto: ANTARA/HO-Kementerian Ekonomi Kreatif)
A-AA+

Jakarta Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menyatakan dukungannya terhadap perluasan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) lokal berbasis pengalaman. Langkah ini diharapkan mampu mengubah aset kreatif menjadi produk konkret yang memberikan dampak ekonomi sekaligus berfungsi sebagai ruang interaksi sosial.

Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, menjelaskan bahwa pengembangan IP lokal tidak boleh terbatas pada pelatihan talenta atau produksi konten digital semata. Menurutnya, inovasi juga harus diarahkan pada penciptaan ruang pengalaman yang inovatif, imersif, dan bernilai ekonomi tinggi.

Advertisement

“Ketika industri kreatif lokal mampu menerjemahkan kreativitas menjadi ruang fisik imersif seperti ini, kita tidak hanya menciptakan nilai ekonomi baru, tetapi juga membangun tempat di mana generasi masa depan kita bisa tumbuh tangguh dan adaptif,” kata Riefky dalam kunjungannya ke pembukaan Wonderlab di Senayan City, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Riefky menegaskan bahwa Wonderlab merupakan kekayaan intelektual yang murni dimiliki oleh kreator Indonesia. Proyek ini dinilai berpotensi menjadi model bisnis baru yang dapat diadaptasi dalam industri ekonomi kreatif serta menjadi arah masa depan pengembangan produk ekraf nasional.

Lebih lanjut, ia menyebut Wonderlab dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyalurkan aktivitas fisik anak melalui pengalaman imersif, sekaligus menjadi wadah bagi anak-anak untuk bereksplorasi secara kreatif.

“Ini tidak hanya playground tetapi juga melatih fisik, kemudian juga experience dan kegiatan-kegiatan yang membuat anak lebih bisa bergerak dan beraktivitas, safety-nya baik, tempatnya nyaman, kemudian juga ada IP karakter yang juga ditampilkan,” kata Riefky.

Sebagai informasi, Wonderlab merupakan destinasi edukasi fisik dan bermain imersif pertama di Indonesia. Tempat ini menawarkan pendekatan baru dalam mendukung proses tumbuh kembang anak dan praremaja secara holistik.

Advertisement

Berbagai fasilitas telah disiapkan, mulai dari zona petualangan imersif, Wonder Class multidisiplin untuk anak usia 1–8 tahun, hingga kolam bola interaktif yang menampung 320.000 bola, menjadikannya salah satu yang terbesar di Jakarta.

Dengan mengusung filosofi 'mens sana in corpore sano', Wonderlab memadukan teknologi pemetaan proyeksi (projection mapping) dengan aktivitas motorik. Tujuannya adalah untuk membangun rasa percaya diri serta kemampuan anak dalam menghadapi tantangan melalui pengalaman bermain.

Destinasi yang dikembangkan oleh PT Wonder World Entertainment ini mengintegrasikan teknologi mekatronik dan desain multisensori. Kombinasi tersebut dirancang untuk mendorong aktivitas fisik, ketangguhan mental, serta kemampuan kognitif generasi muda.

CEO Genexyz, Belinda Luis, menambahkan bahwa Wonderlab berupaya menghadirkan keseimbangan antara aspek akademik dan perkembangan fisik dalam membentuk karakter anak.

“Wonderlab hadir untuk mengembalikan keseimbangan itu, sebuah ruang di mana anak dan praremaja bisa bergerak, berpikir, mencoba, bahkan gagal lalu mencoba lagi, dan tumbuh menjadi pribadi yang berani, tangguh, adaptif, dengan rasa ingin tahu yang tinggi," ujar Belinda. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia