Kurs Dolar Melejit, Produsen Otomotif Hadapi Ketidakpastian Target Produksi
Penguatan kurs dolar AS diproyeksikan menekan industri otomotif nasional akibat tingginya komponen impor. Harga kendaraan berpotensi naik.
Jakarta – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) saat ini diproyeksikan bakal menekan industri otomotif nasional. Hal tersebut disampaikan oleh pakar industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi.
Agus menilai dampak terbesar dari penguatan mata uang asing ini akan dirasakan langsung pada biaya produksi, penurunan margin industri, hingga potensi kenaikan harga jual kendaraan di pasar.
“Biaya produksi akan melonjak karena komponen dan bahan baku otomotif masih memiliki kandungan impor yang tinggi,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Menurut peneliti dari National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT) ITB tersebut, industri otomotif Indonesia sejauh ini memang masih sangat bergantung pada komponen dan bahan baku impor. Kondisi inilah yang memicu kenaikan biaya operasional di lini perakitan kendaraan begitu rupiah melemah.
Selain membebani ongkos produksi, pelemahan kurs rupiah berisiko menggerus margin keuntungan pelaku usaha. Agus menjelaskan bahwa kenaikan harga barang impor akibat inflasi barang impor (imported inflation) akan memperberat beban finansial perusahaan.
Dampak lanjutannya, kenaikan harga kendaraan di tingkat konsumen dinilai sulit dihindari. Sebab, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpengaruh langsung pada harga komponen yang digunakan dalam proses manufaktur.
Doktor di bidang Teknik Tenaga Listrik ITB itu memperkirakan tekanan terhadap sektor otomotif ini akan semakin terasa nyata dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Kondisi ini diprediksi paling rentan menimpa model kendaraan rakitan dalam negeri yang masih menggunakan kandungan impor tingkat tinggi. Fenomena tersebut dinilai berpotensi memicu polarisasi yang tajam di pasar otomotif domestik.
Tak hanya itu, ketidakpastian kurs juga membuat para produsen kesulitan dalam menyusun target produksi, menetapkan harga jual yang kompetitif, hingga merancang strategi promosi yang efektif.
Kendati dibayangi sentimen negatif, Agus menyebut para pelaku industri yang bernaung di bawah Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) relatif tetap optimistis. Mereka memproyeksikan situasi ini tidak akan berjalan lama.
"Namun Gaikindo relatif cukup optimistis kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga tidak berdampak buruk dalam jangka panjang," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


