Masa Depan Anak Berkebutuhan Khusus dan Layanan Prima JNE
Tanpa sepatah kata, Andri Kurniawan (18) menggergaji lembaran triplek di sebuah gazebo sederhana. Dia duduk membungkuk di depan meja lesehan. Tangannya yang besar menggenggam gergaji dengan hati-hati.
MALANG – Tanpa sepatah kata, Andri Kurniawan (18) menggergaji lembaran triplek di sebuah gazebo sederhana. Dia duduk membungkuk di depan meja lesehan. Tangannya yang besar menggenggam gergaji dengan hati-hati. Saat itu, Rabu (1/7/2026), murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Al Fir Ma'unah Jabung, Kabupaten Malang itu memotongnya menjadi ukuran 24R. Ia kemudian mengoleskan lem di atas triplek, lalu menempelkan selembar kertas.
Kertas yang ditempel oleh siswa kelas 2 SMALB itu bergambar pola wajah berwarna hitam putih. Pola tersebut dicetak oleh sekolah untuk menjadi acuan bagi Andri membuat sebuah karya kriya kayu siluet.
Ketika dia mulai mengerutkan dahi, tangannya yang besar perlahan memotong satu per satu bagian yang berwarna hitam. Potongan demi potongan kayu mulai terlepas, membentuk mata, hidung, bibir, hingga lekuk wajah. Terlihat mudah, tetapi membutuhkan keterampilan dan fokus tinggi.

Andri merupakan siswa dengan hambatan pendengaran. Kondisi itu juga membuatnya sulit berkomunikasi secara verbal. Tidak semua orang memahami apa yang dia ucapkan. Dari penuturan gurunya, dahulu ia juga kerap bersikap impulsif hingga sulit fokus. Namun, keterampilan yang diajarkan sekolah membawa banyak perubahan positif dalam dirinya.
Kini Andri bahkan mampu fokus menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Bagi remaja berbadan tegap itu, setiap guratan gergaji adalah latihan kesabaran, konsentrasi, dan kepercayaan diri yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Semua dilakukan dengan penuh ketelatenan.
Saat memotong lembaran itu, matanya fokus mengikuti pola. Sesekali ia memiringkan kepala untuk memastikan potongan yang dibuat tetap berada di jalurnya. Tak ada gerakan tergesa-gesa.
Kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh karya gagal. Karena itu, setiap potongan harus dibuat dengan presisi.
Saat semua bagian hitam rampung dipotong, barulah ia memasang alas hitam pada pigura yang juga dibuat sendiri. Setelah itu, Andri menempelkan satu per satu detail yang berwarna putih hingga akhirnya kriya kayu tersebut selesai dan siap dikirim kepada pelanggan.
Bekal Masa Depan Siswa
Di SLB Al Fir Ma'unah, kriya kayu siluet bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Program ini menjadi salah satu sarana pendidikan vokasional yang dirancang untuk membekali siswa berkebutuhan khusus dengan keterampilan hidup. Program tersebut telah dikembangkan sejak 2022.
Awalnya, para guru hanya ingin memberikan aktivitas yang dapat melatih motorik halus dan konsentrasi siswa. Namun seiring waktu, kegiatan itu berkembang menjadi keterampilan yang menghasilkan karya bernilai ekonomi.
Dari ruang SLB Swasta yang ada di Dusun Krajan, Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang itu, lahir berbagai kriya siluet berbahan kayu yang memukau. Mulai dari foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, lambang Garuda Pancasila, tokoh nasional, topeng tradisional, hingga pesanan pribadi dari masyarakat.

Semuanya dikerjakan secara manual.Tidak ada mesin pemotong modern. Tidak ada teknologi canggihYang ada hanyalah ketekunan para siswa dan kesabaran para guru yang mendampingi mereka.
Putri Faizatul, guru sekaligus penanggung jawab program kriya kayu siluet, masih mengingat bagaimana proses panjang melatih para siswa hingga mampu menghasilkan karya berkualitas.
Ia mengaku tidak semua siswa mampu membuat karya tersebut. Hanya beberapa orang yang berhasil setelah digembleng selama beberapa bulan. Rentang waktu yang dibutuhkan setiap anak untuk menguasai keterampilan ini juga berbeda-beda, bisa mencapai tiga bulan atau bahkan lebih.
Putri menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda sehingga pendekatan pembelajaran pun harus disesuaikan
"Tergantung anaknya. Ada yang cepat menangkap, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi kalau terus dilatih, mereka bisa berkembang. Bahkan ada yang sekarang sudah mampu mengerjakan sendiri, seperti Andri," ujarnya.
Karena keterbatasan dana, pihak sekolah hanya mampu menyediakan sejumlah peralatan sederhana, seperti gergaji, cutter, kuas, hingga plamir untuk mempercantik permukaan triplek. Namun alat-alat sederhana itu mampu melahirkan keterampilan yang bermanfaat bagi masa depan siswa.
Keterampilan ini diwariskan dari generasi ke generasi siswa. Dengan begitu, setiap tahun akan selalu ada penerus yang mampu mengembangkan karya serupa.
"Setiap anak yang mau dan punya kemampuan nanti dilatih, diasah sampai bisa, jadi ada penerusnya," tambahnya.
Ketika ada pesanan, waktu pengerjaan satu karya bisa mencapai tiga hari atau lebih, tergantung tingkat kesulitan pola.
"Kalau yang banyak polanya itu lama, bisa lebih dari tiga hari. Kalau yang sederhana, paling hanya tiga hari," iimbuhnya
Putri percaya manfaat dari kegiatan ini sangat besar bagi para siswa. Selain melatih konsentrasi dan keuletan, kegiatan ini juga mengajarkan kemandirian serta memberi mereka harapan masa depan yang lebih baik.
"Nanti bisa buat bekal mereka juga di masa depannya. Entah untuk buka usaha di rumah atau yang lainnya. Jadi lulusan SLB tidak menganggur," ungkapnya.
Putri mengaku, setiap bulan selalu ada pesanan yang masuk, baik dari dalam maupun luar daerah. Meski demikian, jumlah pesanan yang diterima tetap dibatasi agar siswa tidak terlalu sibuk dengan kegiatan tersebut dan tetap dapat fokus menjalani proses belajar.
Di tengah masih kuatnya stigma terhadap penyandang disabilitas, karya-karya yang dihasilkan siswa SLB Al Fir Ma'unah seolah berbicara lantang bahwa mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan siapa pun. Bahkan dalam banyak hal, mereka menunjukkan daya juang yang luar biasa.
Melalui karya seni tersebut, anak-anak diajarkan bahwa menghasilkan sesuatu yang bernilai membutuhkan proses, kesabaran, dan ketekunan. Dan Andri membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah membatasi kreativitas.
Perjuangan Memandirikan Sekolah dan ABKKepala SLB Al Fir Ma'unah, Evy Yuli Hastuti, mengatakan bahwa tujuan utama program ini adalah membangun kemandirian siswa sejak dini. Ia menegaskan bahwa sekolah ingin memastikan para lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup.
"Harapannya setelah lulus mereka punya kemampuan yang bisa digunakan untuk bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri," ujarnya.
Menurut Evy, kriya kayu siluet ini menjadi program unggulan sekaligus pembeda antara SLB Al Fir Ma'unah dengan SLB lainnya, baik di Malang, Jawa Timur, maupun Indonesia. Selain kriya kayu, sekolah ini juga memiliki beragam program keterampilan lain yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Seperti pembuatan jamu sinom, keset anyam, sambal pecel, topeng, hingga tata kecantikan.
Selain menjadi media pembelajaran, kriya kayu siluet juga menjadi salah satu penyumbang pendapatan sekolah. Harga satu karya dibanderol mulai Rp100 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya. Hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran serta memberikan apresiasi kepada siswa yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Meski nilainya tidak seberapa, hasil penjualan tersebut cukup membantu sekolah dalam memberikan layanan pendidikan terbaik bagi para siswa. Terlebih di tengah keterbatasan dana, sarana, dan prasarana yang mereka miliki.
Diketahui, Al Fir Ma'unah saat ini belum memiliki gedung sekolah sendiri. Untuk kegiatan belajar mengajar, mereka menyewa dua rumah tipe 36 yang dijadikan satu di Perum Jabung Permai, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Di kawasan yang berada di lereng Gunung Bromo itu, pihak sekolah memanfaatkan dua kamar dan ruang tamu sebagai ruang belajar.
Mereka juga membangun gazebo sederhana, mirip pos ronda, di depan rumah kontrakan itu. Tempat itu kerap kali menjadi ruang kelas alternatif ketika seluruh siswa yang berjumlah 42 orang hadir ke sekolah.
“Kalau pas banyak (murid yang datang ke sekolah), kita kelesehan, ditikar. Ada yang di luar. Kita bikin di depan, kayak pos ronda gitu. Kalau hujan, lari-lari pindah masuk, berteduh di teras,” ttuturnya
Meski kondisi keuangan sekolah belum mapan, SLB swasta ini tidak pernah menjadikan murid sebagai penopang utama operasional sekolah. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga kurang mampu. Karena itu, sekolah tidak pernah mematok besaran SPP tertentu. Semua biaya pendidikan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga. Bahkan beberapa siswa bersekolah secara gratis.
"Anak-anak ini bayarnya seikhlasnya, semampunya keluarga. Beberapa juga gratis. Jadi kita tidak bisa menghitung pemasukan tiap bulan," ujarnya.
Secara hitungan kalkulator, sekolah ini jelas merugi setiap bulannya. Dana yang diterima hampir selalu lebih kecil dibanding kebutuhan operasional bulanan. Namun, Evy mengaku selalu ada jalan yang membuat sekolah tetap bertahan dan terus memberikan layanan terbaik bagi para siswanya.
"Dari awal berdiri tahun 2019 sampai sekarang, bahkan kita ngasih makan ke anak-anak setiap hari. Anak-anak nggak pernah bekal nasi atau kue. Sarapan dan makan siang disediakan semua, tanpa biaya," kata Evy.
Evy mengungkapkan, sebenarnya yayasan memiliki lahan seluas 618 meter persegi yang dapat digunakan untuk membangun sekolah. Namun hingga saat ini, belum tersedia biaya untuk merealisasikan pembangunan tersebut.
Beberapa kali pihak sekolah juga telah mengajukan proposal kepada instansi terkait, tetapi belum membuahkan hasil.
"Dulu kita pernah membuat proposal untuk pembangunan sekolah, tapi belum ada respons sampai sekarang," ujarnya.
Selalu ada Jalan untuk Kebaikan
Hal baik selalu mendatangkan kebaikan. Itulah yang diyakini Evy.
Meski secara perhitungan pendapatan sekolah kerap kali tak cukup untuk operasional, namun ia mengaku SLB Al Fir Ma'unah selalu menemukan jalan untuk bertahan. Baik melalui dukungan yayasan maupun berbagai usaha produktif sekolah yang sekaligus menjadi sarana pemberdayaan siswa.
Ia tidak menampik bahwa kriya kayu siluet seperti yang dihasilkan Andri turut memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi operasional sekolah.
Dalam satu bulan, biasanya terdapat tiga hingga lima pesanan yang masuk, baik dari dalam maupun luar daerah. Meski demikian, Evy mengakui sebagian pelanggan memang datang karena rasa empati terhadap perjuangan siswa dan sekolah. Namun, menurutnya, karya yang dijual tetap dibuat secara profesional dan tidak asal-asalan.
Agar karya buatan siswa dapat sampai ke tangan pelanggan dengan aman, transaksi dalam kota yang jaraknya dekat biasanya dilakukan dengan pengantaran langsung atau pelanggan datang mengambil sendiri ke sekolah.
Pengiriman hasil karya ini membutuhkan kehati-hatian yang cukup ekstra, karena produk tersebut termasuk barang yang rentan rusak.
Sehingga untuk pengiriman ke luar daerah, SLB Al Fir Ma'unah langganan menggunakan jasa JNE.
Evy mengaku puas dengan layanan yang diberikan. Selama ini, karya yang dikirim selalu sampai dalam kondisi baik dan sesuai dengan harapan pelanggan.
"Selama ini tidak ada komplain dari pelanggan. Yang datang sesuai dan tidak ada kerusakan. Padahal karya seperti ini cukup rentan rusak saat proses pengiriman. Tentu sangat berimbas baik bagi kami," katanya.
Menurut Evy, pengalaman positif tersebut ikut menjaga kepercayaan pelanggan terhadap nama baik sekolah.
"Kalau yang datang sesuai, kepercayaan mereka terhadap sekolah juga bagus. Bisa jadi ke depan mereka mau memesan lagi, atau merekomendasikan ke teman atau keluarganya" ujarnya.
Ia mengakui jumlah pesanan dari luar daerah memang masih lebih sedikit dibandingkan pesanan dalam kota, atau sekitar 30 persen dari total pesanan. Namun dampak yang dirasakan sekolah cukup besar.
Karya-karya yang dikirim ke berbagai daerah, membuat SLB Al Fir Ma'unah tidak hanya dikenal di Malang, tetapi juga oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
"Kita branding sekolah melalui media sosial. Tapi hasil karya itu juga menjadi branding secara nyata kepada masyarakat. Jadi dalam hal ini JNE tentu sangat membantu kami," katanya.
Bagi Evy, layanan ekspedisi menjadi jembatan yang menghubungkan kemandirian sekolah dan para siswa dengan dunia luar.
Karena semakin banyak karya yang berhasil dikirim, semakin banyak pula siswa yang terdorong untuk terus belajar mengembangkan keterampilan mereka. Di saat yang sama, sekolah juga memperoleh tambahan dukungan untuk mempertahankan layanan pendidikan yang terjangkau bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dari sebuah rumah kontrakan sederhana di Jabung, karya-karya yang lahir dari tangan siswa berkebutuhan khusus itu kini mampu menembus batas wilayah. Dan melalui setiap paket yang dikirim SLB Al Firma'unah, terselip doa: semoga keterbatasan tak pernah menjadi penghalang seseorang untuk memiliki masa depan yang gemilang.
Kesempatan yang Sama Untuk Dikenal dan Berkembang
Apa yang dilakukan SLB Al Fir Ma'unah di Jabung, Kabupaten Malang, ternyata sejalan dengan keyakinan yang dipegang JNE selama ini. Bahwa setiap karya, siapa pun pembuatnya, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk dikenal dan berkembang.
Head Sales JNE Malang, Fian Ghany Fafani, mengatakan bahwa layanan logistik bukan sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, logistik menjadi jembatan yang membuka akses pasar bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
"Kami percaya setiap karya memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Dengan dukungan distribusi yang baik, produk mereka dapat menjangkau pelanggan di berbagai daerah bahkan seluruh Indonesia," ujarnya.
Menurut Fian, produk yang dihasilkan oleh komunitas penyandang disabilitas memiliki potensi yang sangat besar. Selain memiliki kualitas dan kreativitas yang tinggi, karya-karya tersebut juga membawa nilai inspiratif yang menjadi daya tarik tersendiri di mata masyarakat.
"Sehingga yang dibutuhkan adalah dukungan akses pasar, promosi, dan distribusi yang berkelanjutan," katanya.
Sebagai perusahaan yang selama ini banyak bermitra dengan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif, JNE mengaku terus berupaya memberikan dukungan agar produk-produk lokal dapat bersaing dan berkembang.
Dukungan tersebut dilakukan melalui kemudahan layanan pengiriman, integrasi dengan ekosistem digital, hingga berbagai program pemberdayaan dan kolaborasi.
"Kami ingin membantu UMKM tidak hanya menjual produk, tetapi juga meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis mereka," kata Fian.
Ia mengakui, pengiriman produk kerajinan dan karya seni memiliki tantangan tersendiri. Apalagi untuk produk yang memiliki detail artistik dan nilai ekonomi tinggi seperti kriya kayu siluet.
Karena itu, JNE menerapkan standar operasional yang ketat sekaligus memberikan edukasi kepada pelanggan mengenai pengemasan yang tepat agar produk tetap aman selama perjalanan.
"Agar produk sampai dengan aman dan dalam kondisi terbaik," jelasnya.
Lebih jauh, Fian menegaskan bahwa JNE memiliki komitmen untuk terus mendukung program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai kegiatan CSR maupun kolaborasi dengan komunitas dan institusi pendidikan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang sehat harus mampu memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Karena itu, JNE berharap sekolah, komunitas, dan pelaku usaha kecil terus berinovasi serta percaya diri menunjukkan karya terbaiknya. Fian menilai, kreativitas yang dimiliki merupakan modal besar untuk membangun kemandirian ekonomi.
"Di JNE kami meyakini bahwa setiap karya berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk dikenal. Melalui jaringan distribusi yang kami miliki, kami ingin menjadi penghubung antara kreativitas lokal dengan peluang pasar yang lebih luas," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


