Advertisement
Ekonomi

Domba Texel Ternyata Cocok Dikembangkan di Daerah Banjarnegara Selatan

Domba Texsel asal pegunungan terbukti cocok dikembangkan di Banjarnegara selatan yang panas, asalkan kandang didesain sejuk, perawatan ekstra, pakan dan vitamin teratur, memberi laba ganda hingga pupuk.

TIMES Indonesia,
Domba Texel Ternyata Cocok Dikembangkan di Daerah Banjarnegara Selatan
Domba Texel milik H Edi Purwanto, peternak asal Purwanegara Banjarnegara. (FOTO: Muchlas Hamidi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANJARNEGARA Domba Texsel atau dikenal Kambing Texsel ternyata cocok dikembangkan di daerah selatan Banjarnegara yang dikenal memiliki suhu cukup panas ketimbang habitat aslinya di daerah pegunungan.

‎Untuk diketahui domba texel adalah salah satu jenis domba pedaging unggulan asal Belanda yang sudah lama dikembangkan di daerah Batur di Dataran Tinggi Dieng (DTD) Banjarnegara.

Advertisement

‎Domba ini sepertinya ada kemiripan dengan domba batur (hasil silang domba merino dan domba lokal batur) dari sisi bobot kambing dan serat daging. Harga juga stabil kisaran Rp 1,5 - Rp 2,5 juta/ekor.

‎Hal ini dibenarkan oleh drh Agung, Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara. "Domba Texsel juga dapat hidup di daerah Banjarnegara Selatan dengan tekni dan perawatan tertentu," ujarnya.

‎Dijelaskan oleh drh Agung, yang harus diperhatikan, kandang harus memenuhi  syarat dengan atap genting dan banyak tumbuhan besar di sekitar kandang dengan harapan udara menjadi tidak terlalu panas (sejuk).

‎"Untuk daerah bawah tentunya harus ada proses adaptasi dan desain kandang agar aliran udara lancar atap dari genting dan ada pohon peneduh sehingga domba tidak kepanasan dan nyaman. Domba juga harus sering dicukur," jelas via WhatsApp, Selasa (16/6/2026)

Domba

‎H Edi Purwanto, salah satu peternak Domba Texsel asal Purwanegara, Banjarnegara menuturkan, ia tertarik dengan kambing ini karena bobot kambing ini bisa mencapai 100 kg untuk pejantan dewasa.

‎"Kami sebenarnya masih tahap eksperimen, karena domba ini biasa hidup di daerah dingin. Sementara di Purwanegara hawanya cukup panas. Alhamdulillah domba hidup sehat dan usia reproduksi normal," ujarnya.

‎Edi Purwanto menyebut, dari 100 ekor domba dewasa, dalam setahun berkembang menjadi 200 ekor. 

‎Diakuinya, perawatan kambing jenis ini memang cukup ekstra jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal atau berkualitas. Disamping kandang yang sehat, pemberian pakan dan vitamin pakan harus teratur.

‎"Selama ini, saya mengandalkan rumput odot dan ketela yang ada di kebun. Kami juga terus berkoordinasi dengan dokter di Purkeswan terdekat," kata Edi Kadul lagi.

‎Edi Purwanto mengakui, keuntungan dari ternak ini, memang tidak terlalu besar jika hanya mengandalkan penjualan kambing saja. Namun ada keuntungan lain, yakni pupuk kandang.

‎Pupuk kandang imbuh Edi, juga laku. "Ini tentu menjadi keuntungan ganda. Kami juga dapat memanfaatkan sisa kotoran termasuk air kencing kambing untuk memupuk lahan rumput dan tanaman lain," imbuh Edi Purwanto, yang juga sebagai anggota DPRD Banjarnegara. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muchlas Hamidi
PenulisMuchlas HamidiBergabung dengan TIMES Indonesia sejah tahun 2020 Liputan : Sosial, Budaya, dan isu atau kejadian di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia