Advertisement
Ekonomi

Kopi Arabika Bulukerto Kota Batu, Ekonomi Baru Warga dan Petani

Upaya pemanfaatan lahan di kawasan lereng Gunung Arjuno terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

TIMES Indonesia,
Kopi Arabika Bulukerto Kota Batu, Ekonomi Baru Warga dan Petani
Petani di Desa Bulukerto saat panen kopi Arabika (Foto : Pemdes Bulukerto for TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Upaya pemanfaatan lahan di kawasan lereng Gunung Arjuno terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Salah satu langkah yang kini menunjukkan hasil adalah budidaya kopi Arabika yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Bahkan pada 2024 silam sudah pernah dilakukan panen perdana kopi Arabika, menjadi bukti keseriusan masyarakat dalam mengembangkan sektor perkebunan. 

Advertisement

Salah satu lahan yang telah memasuki masa panen berada di area seluas sekitar 2.500 meter persegi milik Oktavian Dwi Suhermanto yang dikelola bersama BUMDesma setempat.

Untuk produk kopi bubuknya ada 2 yaitu 100 gram harganya kurang lebih Rp20 ribu dan 200 gram harganya Rp40 ribu. Sedangkan untuk produk olahan green bean, harganya mencapai Rp350 ribu per 5 kg.

Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan mengatakan pihaknya ingin mengoptimalkan lahan pertanian di kawasan pegunungan melalui pengembangan tanaman kopi Arabika.

"Selain memberikan nilai ekonomi, tanaman kopi juga mendukung konservasi lingkungan karena ditanam dengan sistem tumpang sari yang membantu menjaga kestabilan tanah serta mengurangi risiko banjir dan longsor," ujarnya, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, sistem budidaya yang diterapkan masyarakat turut memengaruhi kualitas hasil panen. Kondisi geografis Desa Bulukerto yang berada di lereng pegunungan menghasilkan karakter rasa kopi yang khas dan berbeda dibandingkan daerah lain.

Advertisement

"Keunggulan itu menjadi modal penting untuk memperluas pasar kopi lokal. Apalagi permintaan kopi terus meningkat, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, sehingga berpotensi memberikan nilai tambah bagi petani," ungkapnya.

Produk kopi yang dihasilkan saat ini dipasarkan dalam bentuk bubuk maupun biji kopi mentah atau green bean. Nilai jualnya cukup menjanjikan dan menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.

"Pengembangan kopi tidak hanya berhenti pada sektor pertanian, tetapi juga mampu mendorong sektor pariwisata," katanya.

Pasalnya, hamparan kebun kopi yang tersebar di kawasan lereng pegunungan dinilai memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dikemas sebagai destinasi wisata berbasis agro.

"Kita ingin kopi menjadi salah satu produk unggulan Kota Batu. Tidak hanya hasil panennya, tetapi juga kawasan perkebunannya yang bisa dikembangkan sebagai tujuan wisata sehingga mendatangkan lebih banyak wisatawan," katanya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia